Jangan jadi orang kere, karena itu pasti tidak enak. Agama saja menganjurkan begitu. Jadilah orang kaya, tapi bukan dengan cara berdagang pasti akan lama. Agama memang telah menjanjikan, 90 persen pintu rezeki ada di ladang jual-beli. Tapi ada catatannya : harus jujur dan pekerja keras. Kalau anda tidak memiliki dua syarat itu jadilah pejabat. Kok?!
Untuk menjadi pejabat, mungkin dua syarat itu justru harus dijauhkan. Kalau tidak, bisa-bisa anda malah gagal dan tersingkir. Bersilat lidah itu perlu. Kalau pejabat mengatakan sesuatu percayalah ada beribu maksud dibaliknya. Bohongkah? tidak juga. Hanya saja mereka tidak mengatakan yang sebenarnya. Berbeda lho! Penjelasan akan diputar 180 derajat dari sudut pandangnya. Kita akan garuk-garuk kepala mencerna jika tidak dibekali ilmu iman.
Kita tidak usah memaksa pejabat untuk berkata atau berbuat jujur, percuma. Pakem kerja mereka memang begitu. Makin ditekan, makin liat saja lidahnya. Bisa-bisa fakta justru dijumpalitkan. Makin bingung kita. Ini soal pilihan hidup, kalau anda memang senang berliku-liku rasanya cocoklah jadi pejabat.
Kerja keras itu juga milik kaum buruh dan kuli. Yang dibutuhkan untuk menjadi pejabat itu cuma lidah. Iya lidah...lewat lidah orang bisa menjilat-jilat pantat atasan berharap mendapat posisi yang cocok. Tapi saya ingatkan tidak usah berlebihan. Jilatan-jilatan yang lembut justru yang diperlukan. Tidak memancing perhatian, tapi agar efektif harus rutin. Kesan setia akan muncul sendirinya. Kalau sudah begitu, tunggulah keajaiban. Tak lama lagi anda akan jadi pejabat.
Nah, kalau sudah di posisi penting, anda tinggal duduk di belakang meja. Tugas mengurus keperluan rakyat biarlah diserahkan pada staf. Toh, mereka-mereka itu juga seperti anda, senang menjlat-jilat. Kalau kerja anda tidak beres, jangan khawatir. Seburuk apapun anda, tidak akan dicopot dari jabatan. Kecuali nanti, ketika anda sudah lengser.
Ini pun anda tidak perlu panik. Ada banyak orang yang mau disuruh untuk menyelesaikan kasus anda, jika akhirnya terseret ke muka hukum. Hasil korupsi yang anda lakukan tentu lebih dari cukup untuk mengarahkan agar hukum memihak anda, bukan?
Apalagi, gaji anda tahun ini dinaikkan sampai 20 persen. Juga ada remunerasi yang jumlahnya membuat kantong anda makin gemuk. Genjot saja kinerja bawahan, maka remunerasi anda pun akan terkatrol. Dimanapun pemimpin akan terkena citranya jika rapor baik. Kalau jeblok, tinggal carikan saja kambing hitam. Anda duduk manis saja. Menikmati gaji bersih karena tidak harus mengeluarkan dana untuk bayar telepon, listrik, air karena sudah dibayari negara.
Kewibaan anda sebagai pejabat juga dijaga betul oleh negara. Mobilmu saja berharga Rp 1,3 milyar. Beberapa fasilitas seperti komputer disediakan sampai Rp 21 juta. Sssst,...tapi jangan bilang-bilang kalau harga komputer itu tiga kali lipat dari pasaran. Selebihnya bisa masuk kantong lumayankan buat tambahan jajan anak-anak.
Kalau nanti kebetulan anda bertugas di tempat yang mengurusi kelautan lebih nikmat lagi. Anda bisa berlayar gratis dengan sebuah kapal pesiar Lagoon 500. Kemewahan kamar hotel terapung ini jangan diragukan. Harganya saja bisa Rp 14,4 milyar. Jangan gelisah jika ketahuan. Karena sejak awal memang diperuntukkan sebagai kapal pengawas. Hebatkan!! Jadi tenang-tenang jasa menikmati semilir air laut.
Kalau anda lebih beruntung lagi, karena bisa menjilati seluruh pantat orang Indonesia, dan meyakinkan mereka, kantor yang sudah megah itu akan direnov dengan biaya Rp 22,5 milyar. Tentu anda akan makin gagah dan berwibawa jika keluar dari kantor yang sekaligus sebagai simbol negara itu. Jika plesir ke luar negeri tak lama lagi akan ada pesawat baru. Uang mukanya saja Rp 200 milyar. Itu pasti nyaman dan aman. Tapi sabar, pesawat itu baru bisa anda pakai paling cepat tahun depan.
Soal memenuhi janji pada rakyat sih belakangan. Pintar-pintar aja anda berkilah. Toh, banyak orang di negeri ini yang siap membela ada. Menjadi tameng siap mati, asal hajat mereka terpenuhi. Anda tidak usah repot-repot menjawab tuntutan rakyat. Enakkah?!
Lho, kalau nanti Tuhan murak bagaimana? ya, tanggung sendiri. Yang jelas laknatnya di akhirat akan mendera anda begitu keji. Jadi, terserah saja. []
Bojong Kulur : 29:01:2010
Jumat, 29 Januari 2010
Kamis, 28 Januari 2010
Rasionalitas versus Mistik
Sinopsis dan Tinjauan Film "Sherlock Holmes"
Kegemparan menimpa masyarakat London. Mayat yang baru dikubur tiga hari sebelumnya, hilang secara misterius di sebuah kompleks pemakaman. Jasad memang ada tapi bukan milik Lord Blackwood, melainkan manusia cebol bergigi ompong. Dr John Watson yang menyatakan kematian terpidana gantung itu terperangah. Reputasinya sebagai dokter dipertaruhkan. "Bagaimana saya bisa percaya pada seorang dokter yang untuk membedakan orang mati dan hidup saja tidak bisa," teriak Sherlock Holmes pada sejawat kerjanya.
Ancaman Blackwood pada Holmes sesaat sebelum ia dieksekusi di tiang gantungan terbukti. Bahkan, pemuja setan itu mengingatkan Holmes akan pembunuhan berantai berikutnya. Rakyat dibuat panik luar biasa karena ilmu hitam bakal menguasai jagad Inggris. Pembunuhan lima wanita sesembahan oleh Blackwood, yang mengantarnya pada kematian palsu itu, menjadi kasus misterius yang harus diungkap Holmes.

Petualangan pun dimulai. Film Sherlock Holmes garapan Guy Ritchie berdurasi 134 menit, sejatinya bukan film pertama yang pernah dibuat. Karya klasik 1800-an itu tetap aktual sampai kapanpun. Apalagi, ketika dunia makin rasional dan menepikan hal-hal berbau mistik. Holmes yang diperankan begitu memukai oleh Robert Downey,Jr tampil jenaka, nyentrik dan penuh kejutan. Lompatan-lompatan cerita yang dibuat oleh Arthur Conan Doyle, pembuat detektif fiktif itu, mulanya membingungkan. Di ujung cerita ada rajutan logika yang mematahkan asumsi awam.
Ketika banyak orang panik dan mempercayai tahayul, Holmes dengan penuh keyakinan menyelidiki dan mengumpulkan satu persatu bukti tipu daya Blackwood (Mark Strong). Holmes misalnya, membeberkan bagaimana hukuman gantung yang dijalani Blackwood tak lebih sebatas aksi panggung. Lehernya tidak benar-benar dijerat, tapi dikaitkan dengan ikat pinggang yang tersembunyi di perut. Untuk mengelabui Watson-terlalu tampan diperankan oleh Jude Law-Blackwood menggunakan ramuan yang memanupulasi denyut nadi.
Cerita yang dilihat dari sudut pandang Watson begitu ditel dan tajam. Pengambilan gambar jarak dekat dan lambat, mengingatkan kita pada acara "Warp" di Discovery Channel. Muka, perut, dan kaki musuh yang saat dihantam Holmes begitu kentara : meletot-letot serupa kain kena kibasan angin topan. Tapi, bagi penggila novel Sherlock sosok Holmes mungkin jauh dari bayangan.
Di sini, Ritchie menonjolkan Holmes bukan sekedar otak tapi juga otot. Sosok serius yang tiba-tiba humoris, meski cocok disandingkan dengan Watson yang sering dicemooh Holmes. Barangkali ini tak lepas dari si penulis naskahnya yang sering menggarap film-film kocak, duet Michael Robert Johnson and Anthony Peckham.
Artistik setting tahun 1881 dimana Holmes hidup, juga nyaris sempurna. Lihatlah apartemen dan perabotan dimana Holmes mendiami apartemen di Baker Street 221B. Juga bagaimana London Bridge baru setengah jadi, tempat dimana Blackwood kelak benar-benar tergantung terlihat begitu asli. Apalagi, dipoles dengan latar musik yang ciamik ditangan Hans Zimmer
Sepak terjang Holmes si jenius yang diciptakan Arthur memang sayang untuk dilewatkan. Terutama bagi penyuka film detektif yang sumpek oleh teka-teki. Kita memang diajak untuk berkerut kening ketika menikmati Sherlock Holmes, walau di ujungnya ada penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal. Termasuk bagaimana trik Blackwood menghilang dan menakut-nakuti lewat suara keras. Ia hanya mengandalkan kepulan asap dan sedikit teknologi pengeras suara.
Holmes memiliki kelebihan bisa menebak calon klien hanya dengan mengamati penampilan. Kejelian dan ketelitian ini diadobsi Arthur dari sosok nyata Oliver Wendell Holmes. Di jamannya ilmu forensik masih baru, dan dikembangkan oleh gurunya dari Universitas Edinburg, Joseph Bell. Kepawainnya merangkai kejadian membuat "detektif konsultan" ini begitu masyhur dalam menangani berbagai kasus yang sulit dipecahkan aparat hukum, utamanya yang bermarkas di Scotland Yard. Ia melakukannya dengan pendekatan ilmiah dan logika. Keligatan tubuh detektif yang tak pernah lepas dari topi dan pipa cangklongnya, mungkin juga diambil dari nama atlet kriket yang begitu dikagumi Conan Doyle : Sherlcok.
Maka, ketika Blackwood ingin membinasakan beberapa manusia di sebuah ruang majelis untuk mengukuhkan dirinya sebagai Tuhan, Holmes dan Watson mencari-cari alat pembunuh masal itu yang tak lain adalah gas sianida mematikan yang dipicu oleh sebuah alat pemicu di ruang bawah tanah.
Misi memang berhasil, tapi sayangnya perangkat radio-aktif itu lantas dilarikan oleh wanita pujaannya sendiri, Irene Adler (Rachel McAdams), yang diumpan Profesor Moriarty, sosok misterius musuh abadi Holmes. Alat super mahal ini akhirnya memang bisa diselamatkan. Tapi, penghianatan tetap sulit dimaafkan meski Holmes sesungguhnya masih tertarik pada gadis Scotlandia yang pernah memperdayainya itu. []
Bojong Kulur : 28:01:2010
Kegemparan menimpa masyarakat London. Mayat yang baru dikubur tiga hari sebelumnya, hilang secara misterius di sebuah kompleks pemakaman. Jasad memang ada tapi bukan milik Lord Blackwood, melainkan manusia cebol bergigi ompong. Dr John Watson yang menyatakan kematian terpidana gantung itu terperangah. Reputasinya sebagai dokter dipertaruhkan. "Bagaimana saya bisa percaya pada seorang dokter yang untuk membedakan orang mati dan hidup saja tidak bisa," teriak Sherlock Holmes pada sejawat kerjanya.
Ancaman Blackwood pada Holmes sesaat sebelum ia dieksekusi di tiang gantungan terbukti. Bahkan, pemuja setan itu mengingatkan Holmes akan pembunuhan berantai berikutnya. Rakyat dibuat panik luar biasa karena ilmu hitam bakal menguasai jagad Inggris. Pembunuhan lima wanita sesembahan oleh Blackwood, yang mengantarnya pada kematian palsu itu, menjadi kasus misterius yang harus diungkap Holmes.
Petualangan pun dimulai. Film Sherlock Holmes garapan Guy Ritchie berdurasi 134 menit, sejatinya bukan film pertama yang pernah dibuat. Karya klasik 1800-an itu tetap aktual sampai kapanpun. Apalagi, ketika dunia makin rasional dan menepikan hal-hal berbau mistik. Holmes yang diperankan begitu memukai oleh Robert Downey,Jr tampil jenaka, nyentrik dan penuh kejutan. Lompatan-lompatan cerita yang dibuat oleh Arthur Conan Doyle, pembuat detektif fiktif itu, mulanya membingungkan. Di ujung cerita ada rajutan logika yang mematahkan asumsi awam.
Ketika banyak orang panik dan mempercayai tahayul, Holmes dengan penuh keyakinan menyelidiki dan mengumpulkan satu persatu bukti tipu daya Blackwood (Mark Strong). Holmes misalnya, membeberkan bagaimana hukuman gantung yang dijalani Blackwood tak lebih sebatas aksi panggung. Lehernya tidak benar-benar dijerat, tapi dikaitkan dengan ikat pinggang yang tersembunyi di perut. Untuk mengelabui Watson-terlalu tampan diperankan oleh Jude Law-Blackwood menggunakan ramuan yang memanupulasi denyut nadi.
Cerita yang dilihat dari sudut pandang Watson begitu ditel dan tajam. Pengambilan gambar jarak dekat dan lambat, mengingatkan kita pada acara "Warp" di Discovery Channel. Muka, perut, dan kaki musuh yang saat dihantam Holmes begitu kentara : meletot-letot serupa kain kena kibasan angin topan. Tapi, bagi penggila novel Sherlock sosok Holmes mungkin jauh dari bayangan.
Di sini, Ritchie menonjolkan Holmes bukan sekedar otak tapi juga otot. Sosok serius yang tiba-tiba humoris, meski cocok disandingkan dengan Watson yang sering dicemooh Holmes. Barangkali ini tak lepas dari si penulis naskahnya yang sering menggarap film-film kocak, duet Michael Robert Johnson and Anthony Peckham.
Artistik setting tahun 1881 dimana Holmes hidup, juga nyaris sempurna. Lihatlah apartemen dan perabotan dimana Holmes mendiami apartemen di Baker Street 221B. Juga bagaimana London Bridge baru setengah jadi, tempat dimana Blackwood kelak benar-benar tergantung terlihat begitu asli. Apalagi, dipoles dengan latar musik yang ciamik ditangan Hans Zimmer
Sepak terjang Holmes si jenius yang diciptakan Arthur memang sayang untuk dilewatkan. Terutama bagi penyuka film detektif yang sumpek oleh teka-teki. Kita memang diajak untuk berkerut kening ketika menikmati Sherlock Holmes, walau di ujungnya ada penjelasan ilmiah yang bisa diterima akal. Termasuk bagaimana trik Blackwood menghilang dan menakut-nakuti lewat suara keras. Ia hanya mengandalkan kepulan asap dan sedikit teknologi pengeras suara.
Holmes memiliki kelebihan bisa menebak calon klien hanya dengan mengamati penampilan. Kejelian dan ketelitian ini diadobsi Arthur dari sosok nyata Oliver Wendell Holmes. Di jamannya ilmu forensik masih baru, dan dikembangkan oleh gurunya dari Universitas Edinburg, Joseph Bell. Kepawainnya merangkai kejadian membuat "detektif konsultan" ini begitu masyhur dalam menangani berbagai kasus yang sulit dipecahkan aparat hukum, utamanya yang bermarkas di Scotland Yard. Ia melakukannya dengan pendekatan ilmiah dan logika. Keligatan tubuh detektif yang tak pernah lepas dari topi dan pipa cangklongnya, mungkin juga diambil dari nama atlet kriket yang begitu dikagumi Conan Doyle : Sherlcok.
Maka, ketika Blackwood ingin membinasakan beberapa manusia di sebuah ruang majelis untuk mengukuhkan dirinya sebagai Tuhan, Holmes dan Watson mencari-cari alat pembunuh masal itu yang tak lain adalah gas sianida mematikan yang dipicu oleh sebuah alat pemicu di ruang bawah tanah.
Misi memang berhasil, tapi sayangnya perangkat radio-aktif itu lantas dilarikan oleh wanita pujaannya sendiri, Irene Adler (Rachel McAdams), yang diumpan Profesor Moriarty, sosok misterius musuh abadi Holmes. Alat super mahal ini akhirnya memang bisa diselamatkan. Tapi, penghianatan tetap sulit dimaafkan meski Holmes sesungguhnya masih tertarik pada gadis Scotlandia yang pernah memperdayainya itu. []
Bojong Kulur : 28:01:2010
Senin, 25 Januari 2010
Menjajah "Surga"
Sebuah Tinjauan film “Avatar”
Manusia memang rakus. Kalau perlu, “surga” pun dijajah. Di saat bumi membutuhkan begitu banyak mineral, mungkin juga tempat tinggal, maka planet lain disasar untuk dijadikan objek penelitian untuk kemudian diduduki. Adalah Pandora, planet sempurna yang menyerupai bumi. Di sana tersimpan unobtanium bernilai menggiurkan. Sekepalan kecil unobtanium bisa dijual hingga 20 juta dolar AS !!
Pandora memiliki kekayaan sehebat bumi. Hutan lebat dengan batang besar-besar, berotot akar yang lingkarnya saja sepelukan orang dewasa. Tak berbeda dengan di bumi, pohon-pohon di Pandora juga berwana hijau. Kelebihan pohon-pohon di Pandora, akar mereka saling koneksi memancarkan sinyal transduksi yang memungkinkan adanya komunikasi. Seperti syaraf otak pada manusia, pohon-pohon itu bisa menyimpan dan menyerap informasi.
Beberapa jenis agak unik. Terdapat pohon serupa putri malu yang jika disentuh langsung menciut sebesar jamur. Bedanya, pohon berduri merah ini mirip trombon besar yang mulutnya melingkar-lingkar. Ada juga jenis tanaman yang memancarkan warna biru di daunnya. Rambut-rambut pohon menjuntai memamerkan cahaya putih benderang. Rumput-rumput yang jika diinjak memendarkan warna. Air sungai juga mengalir jernih, biru bergelombang.
Beberapa binatang juga unik. Ubur-ubur berterbangan di udara memantulkan cahaya di sekujur tentakelnya. Terdapat pula tokek yang merayap di pohon dan tiba-tiba memutar terbang mirip gasing, lagi-lagi mengeluarkan sinar menyilaukan jika disentuh. Semua tumbuhan begitu hidup di malam hari, seperti ada neon di dalamnya. Itulah surga rekaan James Cameron. Untuk menyempurnakan imaji tentang surga, pulau-pulau tidak memijak di tanah dan terhubung dengan laut, tapi menggantung di langit-langit : lengkap dengan air terjun, awan dan pelangi.
Seperti planet lainnya, manusia tidak bisa berhirup di udara bebas tanpa bantuan masker beroksigen. Tapi anehnya, semua kehidupan di Pandora sama seperti di bumi. Termasuk suku yang mendiami planet itu, Na’Vi. Entah dengan zat apa mereka bisa hidup.Yang sangat membedakan, mereka bertubuh raksasa, bermata mirip macan, memiliki buntut, kulitnya biru agak bersisik, dan mukanya yang dipenuhi merling-merling yang memantul jika terkena sinar.
Untuk keperluan penelitian dikirimlah Jake Sully (Sam Worthington), mantan marinir yang cacat kaki akibat perang. Jake tidak dikirim seperti wujud aslinya. Melalui program Avatar yang dikembangkan, memungkinkan Jake mengendalikan tubuh Avatar yang terhubung melalui jaringan syaraf otak di dalam sebuah kapsul. Tidak mudah bagi Jake diterima oleh suku Na’Vi meski ia telah diyakinkan oleh Neytiri (Zoey Zaldana), perempuan dari suku Na’vi yang secara kebetulan menolongnya ketika tersesat sehabis dikejar binatang mirip badak bercula jaman purba. Dan terengah-engah menumpas serigala hitam bercaling stalagtit berkaki enam.
Niat baik selalu tak bisa disembunyikan dari hati. Ketika sebuah tanda dari Eywa-roh suci kepercayaan suku Na’vi- dipertontonkan, Jake akhirnya diterima dan mulai beradaptasi. Hingga ia bisa menguasai sejumlah alat, cara bertempur, lihai berburu rusa bermulut mekar. Menungang kuda berkaki enam dan akhirnya bisa menaklukkan seekor Ikran, burung terbang bermuka bengis, bertaring dan hanya bisa dikendalikan oleh seorang Na’vi yang terpilih. Mereka terhubung lewat rambut panjang para Na’vi yang menyatu dengan Tsahaylu, serupa buntut panjang yang menjuntai di tengkuknya. Jake pun diangkat menjadi bagian klan Omaticaya.
Misi berubah. Sejumlah peneliti yang dipimpin kepala program Avatar, Grace Augustine (Sigourney Weaver- si wanitayang identik dengan “Alien”), menentang penyerbuan demi kandungan unobtanium ditangkap. Rumah pohon yang begitu besar, tempat berlindungnya suku Na’vi pun dirobohkan. Jake tak lagi dipercaya dan diusir, terutama oleh kekasihnya Neytiri. Ia coba meyakinkan tetapi gagal karena tetap dianggap sebagai mahluk asing dari langit yang berkhianat. Membocorkan segala rahasia suku Na’vi.
Jake sudah terlanjur cinta Pandora beserta kehidupan di dalamnya. Tumbuh-tumbuhannya, binatang-binatangnya dan tentu saja Neytiri. Sepanjang mata memandang, usai penyerbuan, ia melihat Pandora seperti neraka. Hutan ludes terbakar, binatang lari terbirit-birit persis seperti hutan bumi yang dibabat dan dibakar demi sebuah nafsu materi. Puluhan Na’vi mati tertimpa pohon dan terbakar. Termasuk ayah Neytiri. Jake beserta temannya berikrar ingin menghentikan syahwat serakah manusia bumi, terlebih setelah Grace tewas dimoncong senapan para tentara rakus.
Ia pun menaklukkan Turok Makto, burung pemangsa super raksasa. Kibasan mahluk berwarna merah itu mungkin tujuh lipat besarnya dari Ikran, yang hanya bisa dikendalikan oleh orang yang memang dipilih, dan hanya lima dari suku Na’vi yang pernah menungganginya. Dengan mengendarai Turok ia memimpin peperangan dengan makhluk langit, yang tak lain para tentara begundal dengan senjata moderen dan robot-robot selincah manusia yang berhasrat tinggi menghancurkan Pohon Harapan, tempat keramat suku Na’vi.
Akhir cerita berbiaya 400 juta dolar AS ini mudah ditebak. Quaritch, kepala tentara yang berambisi menguasai Pandora bisa dihabisi. Kebaikan selalu menang, sangat sederhana. Tapi di tangan Cameron semua terasa lain. Kecangihan dan imaji bisa diwujudkan begitu nyata, terlebih jika menikmatinya melalui teknologi 3D. Masyarakat dunia pun kini gandrung dengan “Avatar”. Terbukti, sejauh ini keuntungan film yang telah diendapkan Cameron selama 10 tahun itu telah meraup nyaris 1,3 milyar dolar AS, mendekati film Cameron sebelumnya, “Titanic” yang menanggok untung 1,8 milyar dolar AS.
Film-film Cameron selalu ada pesan tersirat yang bisa dipetik. Ia ingin menyampaikan bahwa alam perlu dijaga dan ketamakan hanya akan menghancurkan alam. Suku-suku primitf bisa musnah dan habitat binatang-binatang porak, hancur ditebas tangan-tangan kemaruk. Jake memutuskan ingin bergabung dengan suku Na’vi dan menetap. Mahluk langit pun dikembalikan ke bumi. Tempat dimana ketamakan dan kehancuran dipelihara. []
Bojong Kulur : 25:01:2010
Pandora memiliki kekayaan sehebat bumi. Hutan lebat dengan batang besar-besar, berotot akar yang lingkarnya saja sepelukan orang dewasa. Tak berbeda dengan di bumi, pohon-pohon di Pandora juga berwana hijau. Kelebihan pohon-pohon di Pandora, akar mereka saling koneksi memancarkan sinyal transduksi yang memungkinkan adanya komunikasi. Seperti syaraf otak pada manusia, pohon-pohon itu bisa menyimpan dan menyerap informasi.
Beberapa jenis agak unik. Terdapat pohon serupa putri malu yang jika disentuh langsung menciut sebesar jamur. Bedanya, pohon berduri merah ini mirip trombon besar yang mulutnya melingkar-lingkar. Ada juga jenis tanaman yang memancarkan warna biru di daunnya. Rambut-rambut pohon menjuntai memamerkan cahaya putih benderang. Rumput-rumput yang jika diinjak memendarkan warna. Air sungai juga mengalir jernih, biru bergelombang.
Beberapa binatang juga unik. Ubur-ubur berterbangan di udara memantulkan cahaya di sekujur tentakelnya. Terdapat pula tokek yang merayap di pohon dan tiba-tiba memutar terbang mirip gasing, lagi-lagi mengeluarkan sinar menyilaukan jika disentuh. Semua tumbuhan begitu hidup di malam hari, seperti ada neon di dalamnya. Itulah surga rekaan James Cameron. Untuk menyempurnakan imaji tentang surga, pulau-pulau tidak memijak di tanah dan terhubung dengan laut, tapi menggantung di langit-langit : lengkap dengan air terjun, awan dan pelangi.
Seperti planet lainnya, manusia tidak bisa berhirup di udara bebas tanpa bantuan masker beroksigen. Tapi anehnya, semua kehidupan di Pandora sama seperti di bumi. Termasuk suku yang mendiami planet itu, Na’Vi. Entah dengan zat apa mereka bisa hidup.Yang sangat membedakan, mereka bertubuh raksasa, bermata mirip macan, memiliki buntut, kulitnya biru agak bersisik, dan mukanya yang dipenuhi merling-merling yang memantul jika terkena sinar.
Untuk keperluan penelitian dikirimlah Jake Sully (Sam Worthington), mantan marinir yang cacat kaki akibat perang. Jake tidak dikirim seperti wujud aslinya. Melalui program Avatar yang dikembangkan, memungkinkan Jake mengendalikan tubuh Avatar yang terhubung melalui jaringan syaraf otak di dalam sebuah kapsul. Tidak mudah bagi Jake diterima oleh suku Na’Vi meski ia telah diyakinkan oleh Neytiri (Zoey Zaldana), perempuan dari suku Na’vi yang secara kebetulan menolongnya ketika tersesat sehabis dikejar binatang mirip badak bercula jaman purba. Dan terengah-engah menumpas serigala hitam bercaling stalagtit berkaki enam.
Niat baik selalu tak bisa disembunyikan dari hati. Ketika sebuah tanda dari Eywa-roh suci kepercayaan suku Na’vi- dipertontonkan, Jake akhirnya diterima dan mulai beradaptasi. Hingga ia bisa menguasai sejumlah alat, cara bertempur, lihai berburu rusa bermulut mekar. Menungang kuda berkaki enam dan akhirnya bisa menaklukkan seekor Ikran, burung terbang bermuka bengis, bertaring dan hanya bisa dikendalikan oleh seorang Na’vi yang terpilih. Mereka terhubung lewat rambut panjang para Na’vi yang menyatu dengan Tsahaylu, serupa buntut panjang yang menjuntai di tengkuknya. Jake pun diangkat menjadi bagian klan Omaticaya.
Misi berubah. Sejumlah peneliti yang dipimpin kepala program Avatar, Grace Augustine (Sigourney Weaver- si wanitayang identik dengan “Alien”), menentang penyerbuan demi kandungan unobtanium ditangkap. Rumah pohon yang begitu besar, tempat berlindungnya suku Na’vi pun dirobohkan. Jake tak lagi dipercaya dan diusir, terutama oleh kekasihnya Neytiri. Ia coba meyakinkan tetapi gagal karena tetap dianggap sebagai mahluk asing dari langit yang berkhianat. Membocorkan segala rahasia suku Na’vi.
Jake sudah terlanjur cinta Pandora beserta kehidupan di dalamnya. Tumbuh-tumbuhannya, binatang-binatangnya dan tentu saja Neytiri. Sepanjang mata memandang, usai penyerbuan, ia melihat Pandora seperti neraka. Hutan ludes terbakar, binatang lari terbirit-birit persis seperti hutan bumi yang dibabat dan dibakar demi sebuah nafsu materi. Puluhan Na’vi mati tertimpa pohon dan terbakar. Termasuk ayah Neytiri. Jake beserta temannya berikrar ingin menghentikan syahwat serakah manusia bumi, terlebih setelah Grace tewas dimoncong senapan para tentara rakus.
Ia pun menaklukkan Turok Makto, burung pemangsa super raksasa. Kibasan mahluk berwarna merah itu mungkin tujuh lipat besarnya dari Ikran, yang hanya bisa dikendalikan oleh orang yang memang dipilih, dan hanya lima dari suku Na’vi yang pernah menungganginya. Dengan mengendarai Turok ia memimpin peperangan dengan makhluk langit, yang tak lain para tentara begundal dengan senjata moderen dan robot-robot selincah manusia yang berhasrat tinggi menghancurkan Pohon Harapan, tempat keramat suku Na’vi.
Akhir cerita berbiaya 400 juta dolar AS ini mudah ditebak. Quaritch, kepala tentara yang berambisi menguasai Pandora bisa dihabisi. Kebaikan selalu menang, sangat sederhana. Tapi di tangan Cameron semua terasa lain. Kecangihan dan imaji bisa diwujudkan begitu nyata, terlebih jika menikmatinya melalui teknologi 3D. Masyarakat dunia pun kini gandrung dengan “Avatar”. Terbukti, sejauh ini keuntungan film yang telah diendapkan Cameron selama 10 tahun itu telah meraup nyaris 1,3 milyar dolar AS, mendekati film Cameron sebelumnya, “Titanic” yang menanggok untung 1,8 milyar dolar AS.
Film-film Cameron selalu ada pesan tersirat yang bisa dipetik. Ia ingin menyampaikan bahwa alam perlu dijaga dan ketamakan hanya akan menghancurkan alam. Suku-suku primitf bisa musnah dan habitat binatang-binatang porak, hancur ditebas tangan-tangan kemaruk. Jake memutuskan ingin bergabung dengan suku Na’vi dan menetap. Mahluk langit pun dikembalikan ke bumi. Tempat dimana ketamakan dan kehancuran dipelihara. []
Bojong Kulur : 25:01:2010
Minggu, 24 Januari 2010
Operasi Dubur Jaya
Serombongan anak berbaju lusuh terbirit ke arah halte, menyesak masuk ke balik semak yang tak terlalu lebat. Di tangannya tergenggam kayu kecil berpaku tiga yang bertumpuk krup bekas tutup minuman. Beberapa ada yang mengantongi botol Aqua berisi beras. Ada yang bersusah memikul boks kotak bersenar kolor hitam . Yang berlenggang justru tersuruk-suruk, sulit mengharmoniskan rasa takut dan kecepatan kakinya.
Bocah-bocah itu menyembunyikan jijiknya terhadap beberapa aparat gabungan yang akan memeriksa mereka. Bukan untuk ditangkap, melainkan diperiksa duburnya. Isu pemeriksaan dubur itu memang santer terdengar belakangan ini. Operasi berbau kurang sedap itu hinggap ke anak jalanan seantero Jakarta. Seperti operasi-operasi lainnya yang sering digelar Polda Metro untuk mengamankan situasi, kali ini operasi itu juga bertujuan sama : mengamankan dubur anak-anak agar tidak dinodai.
Coba anda bayangkan, jika orang macam Babeh yang sudah menyodomi puluhan anak itu dibiarkan, berapa banyak generasi ini yang hilang masa depannya. Dubur memang bukan kategori jenis kelamin. Meski begitu, ia tetap harus dilindungi dan posisinya juga sepenting alat kelamin pada wanita. Yang kalau diperkosa menimbulkan trauma. Dubur memang tidak memiliki selaput dara, tapi bukan berarti bisa sembarang dipakai.
Traumatik pemerkosaan dubur yang dilakukan Baiquni,48, alias Babeh terhadap anak-anak itu bisa membekas dalam. Beberapa kasus sering terungkap, pelaku sodomi umumnya adalah korban juga. Ketika kecil ia sering diperlukan hal serupa, ketika besar seolah ingin membalaskan dendam. Entah, apakah sodomi yang mereka lakukan ketika dewasa di dasarkan oleh syahwat atau sekedar dendam. Rantai ini memang harus segera diputus. Jika tidak, maka generasi muda kita hanya akan dipenuhi oleh orang-orang yang doyan dubur. Mengerikan bukan?
Bukan itu saja, kalau dubur ayam yang dikonsumsi sih, masih enak. Meski berkolesterol tinggi, justru itu yang dicari. Tapi, kalau model Babeh yang mencari-cari dubur anak jalanan bukan cuma dinikmati hidup-hidup tetapi dalam keadaan mati, seperti kita menikmati dubur ayam. Bedanya disop dan tidak. Yang satu dinikmati lewat indra pengecap yang lainnya dicicipi lewat indar “perangsang”.
Kesadisan Babeh yang sejauh pengakuannya “baru” membunuh tujuh bocah memang mengerikan. Kalau dibiarkan, tentu nasib anak-anak berikut duburnya tentu menjadi dipertaruhkan. Sangat boleh jadi, Babeh bukanlah satu-satunya penikmat dubur bocah jalanan. Masih banyakyang sedang mengincar dubur-dubur bocah yang sungguh harus dilindungi itu.
Yang dibutuhkan tentu saja bukan sekedar mendata para korban prilaku seks menyimpang itu, tetapi bagaimana melindungi mereka secara utuh, bukan saja duburnya. Tetapi kualitas hidupnya. Pendidikannya. Dan tentu masa depannya. Bukankah anak-anak terlantar menjadi kewajiban negara untuk menggasuhnya. “Operasi Dubur Jaya”, mungkin hanya langkah panik. Semoga bukan benar-benar memeriksa tunggir anak-anak kurang beruntung itu. []
Gelora: 24:01: 2010
Bocah-bocah itu menyembunyikan jijiknya terhadap beberapa aparat gabungan yang akan memeriksa mereka. Bukan untuk ditangkap, melainkan diperiksa duburnya. Isu pemeriksaan dubur itu memang santer terdengar belakangan ini. Operasi berbau kurang sedap itu hinggap ke anak jalanan seantero Jakarta. Seperti operasi-operasi lainnya yang sering digelar Polda Metro untuk mengamankan situasi, kali ini operasi itu juga bertujuan sama : mengamankan dubur anak-anak agar tidak dinodai.
Coba anda bayangkan, jika orang macam Babeh yang sudah menyodomi puluhan anak itu dibiarkan, berapa banyak generasi ini yang hilang masa depannya. Dubur memang bukan kategori jenis kelamin. Meski begitu, ia tetap harus dilindungi dan posisinya juga sepenting alat kelamin pada wanita. Yang kalau diperkosa menimbulkan trauma. Dubur memang tidak memiliki selaput dara, tapi bukan berarti bisa sembarang dipakai.
Traumatik pemerkosaan dubur yang dilakukan Baiquni,48, alias Babeh terhadap anak-anak itu bisa membekas dalam. Beberapa kasus sering terungkap, pelaku sodomi umumnya adalah korban juga. Ketika kecil ia sering diperlukan hal serupa, ketika besar seolah ingin membalaskan dendam. Entah, apakah sodomi yang mereka lakukan ketika dewasa di dasarkan oleh syahwat atau sekedar dendam. Rantai ini memang harus segera diputus. Jika tidak, maka generasi muda kita hanya akan dipenuhi oleh orang-orang yang doyan dubur. Mengerikan bukan?
Bukan itu saja, kalau dubur ayam yang dikonsumsi sih, masih enak. Meski berkolesterol tinggi, justru itu yang dicari. Tapi, kalau model Babeh yang mencari-cari dubur anak jalanan bukan cuma dinikmati hidup-hidup tetapi dalam keadaan mati, seperti kita menikmati dubur ayam. Bedanya disop dan tidak. Yang satu dinikmati lewat indra pengecap yang lainnya dicicipi lewat indar “perangsang”.
Kesadisan Babeh yang sejauh pengakuannya “baru” membunuh tujuh bocah memang mengerikan. Kalau dibiarkan, tentu nasib anak-anak berikut duburnya tentu menjadi dipertaruhkan. Sangat boleh jadi, Babeh bukanlah satu-satunya penikmat dubur bocah jalanan. Masih banyakyang sedang mengincar dubur-dubur bocah yang sungguh harus dilindungi itu.
Yang dibutuhkan tentu saja bukan sekedar mendata para korban prilaku seks menyimpang itu, tetapi bagaimana melindungi mereka secara utuh, bukan saja duburnya. Tetapi kualitas hidupnya. Pendidikannya. Dan tentu masa depannya. Bukankah anak-anak terlantar menjadi kewajiban negara untuk menggasuhnya. “Operasi Dubur Jaya”, mungkin hanya langkah panik. Semoga bukan benar-benar memeriksa tunggir anak-anak kurang beruntung itu. []
Gelora: 24:01: 2010
Kamis, 21 Januari 2010
abaikan saja aku, apa peduliku
tergeragap aku mengejar
lusuh buku jariku, memancar keluh
tapi kau bergeming pun tidak
: kokoh meligas sendiri, tanpaku
lihat, coba lihat mimikku
sebentar kelam, esok pasi
kau, terus saja mencongklang
apa pernah kau menoleh?
TIDAK…
ku ulang, pernah kau menoleh?
TIDAK…
aku mendua dalam bayangan
seperti poni mainan
: cepat tapi tertancap
Gelora : 21:01:2010
lusuh buku jariku, memancar keluh
tapi kau bergeming pun tidak
: kokoh meligas sendiri, tanpaku
lihat, coba lihat mimikku
sebentar kelam, esok pasi
kau, terus saja mencongklang
apa pernah kau menoleh?
TIDAK…
ku ulang, pernah kau menoleh?
TIDAK…
aku mendua dalam bayangan
seperti poni mainan
: cepat tapi tertancap
Gelora : 21:01:2010
Pulangnya Sang Penolong
Ketika cerita sebelumnya baru saja selesai, sebuah SMS berdit-dit dari ponsel Nokia saya. Tapi saya diamkan dan meneruskan aktivitas tidur siang. Paling-paling penawaran kredit yang makin banyak saja akhir-akhir ini. Selang dua menit SMS datang lagi, saya tetap bergeming. Saya paling tidak rela, waktu tidur terganggu untuk urusan gak penting seperti itu. Dua ponsel yang tergeletak di samping saya, langsung saya silent. Tidur pun bisa lebih tenang hingga satu setangah jam ke depan.
Begitu terjaga dan bersiap mandi ke kantor, saya tilik SMS. Panggilan tak berjawab sampai hampir sepuluh. Saya buka ternyata dari mas-mas dan mbak-mbak saya. Saya mendadak gelisah, karena pasti ada sesuatu maha penting. SMS pun bertumpuk tiga. Saya buka isinya : Innalillahi Wa Inailaihi Rojiun, telah berpulang Mas Muchyi hari ini. Dikebumikan besok. Mhn disebarluaskan informasi ini ke sdr dan kerabat dekat kita. Siapa yg mau hadir besok? SMS itu hanya beberapa menit dari meninggalnya yang tercatat pada pukul 14.30 tanggal 19 Januari 2010.
Saya putuskan untuk menghadiri dan memberikan penghormatan terhadap orang yang sudah begitu berjasa pada kerluarga kami. Ia adalah wali ketika saya menikah 13 September 2003. Mas-mas saya juga diwakilkan olehnya ketika pernikahan mereka dulu. Dari delapan anak, hanya mas keenam saya yang berhalangan ikut karena bertugas di Lampung. Mas yang dari Denpasar "terpaksa" mempercepat kunjungannya ke Jakarta, dari semestinya Kamis.
Berangkat dengan dua mobil, kami tiba di rumah duka pukul 01.15 dini hari, Rabu. Dihadapan jasadnya kami tak kuasa menahan tangis. Air mata ini sulit terbendung, tumpah membasahi pipi. Kami tersedak-sedak berusaha menguasai tangis agar bisa dikendalikan. Memori ini sontak berputar dari kelopak mata yang menutup. Sebuah layar di pelupuk memberikan kenangan tentang jasa-jasa yang pernah diberikannya pada keluarga kami.
Ia, yang telah mengangkat kehidupan ekonomi keluarga kami. Tiga dari kami, berhasil diterima di Posgiro berkat kebaikan hati dan ketulusannya. Meski sukses, ia tak pernah melupakan kerabat. Begitu banyak orang yang telah ditolong. Bukan dengan memberikan ikan, tapi kail agar kami bisa berjuang dan menghargai sebuah usaha. Pilihannya membantu sama sekali tanpa pamrih. Hampir semua orang yang ditolongnya adalah yang memang berhak untuk itu : mengalami kesulitan absolut seperti yang keluarga kami alami.
Tapi berkat tangan ikhlasnya, ia telah membuka jalan bagi keluarga kami untuk lebih baik. Saat ini, alhamdulillah semua anak-anak lelaki dari Musimin berhasil menuntaskan kuliah dan menikah. Dua anak perempuan lainnya bisa berdikari sendiri. Tentu ini berkat sumbangsihnya meski tidak langsung, melainkan lewat tangan-tangan mas dan mbak saya yang telah dibantunya.
Di sudut hati, kami berdoa semoga ia bisa tersenyum karena amalan-amalan yang telah menemaninya di barzah. Di fana, ia tetap memiliki tempat dalam relung terdalam kami. Selamat jalan Sang Penolong ..[]
Jakarta, 21 Januari 2010
Begitu terjaga dan bersiap mandi ke kantor, saya tilik SMS. Panggilan tak berjawab sampai hampir sepuluh. Saya buka ternyata dari mas-mas dan mbak-mbak saya. Saya mendadak gelisah, karena pasti ada sesuatu maha penting. SMS pun bertumpuk tiga. Saya buka isinya : Innalillahi Wa Inailaihi Rojiun, telah berpulang Mas Muchyi hari ini. Dikebumikan besok. Mhn disebarluaskan informasi ini ke sdr dan kerabat dekat kita. Siapa yg mau hadir besok? SMS itu hanya beberapa menit dari meninggalnya yang tercatat pada pukul 14.30 tanggal 19 Januari 2010.
Saya putuskan untuk menghadiri dan memberikan penghormatan terhadap orang yang sudah begitu berjasa pada kerluarga kami. Ia adalah wali ketika saya menikah 13 September 2003. Mas-mas saya juga diwakilkan olehnya ketika pernikahan mereka dulu. Dari delapan anak, hanya mas keenam saya yang berhalangan ikut karena bertugas di Lampung. Mas yang dari Denpasar "terpaksa" mempercepat kunjungannya ke Jakarta, dari semestinya Kamis.
Berangkat dengan dua mobil, kami tiba di rumah duka pukul 01.15 dini hari, Rabu. Dihadapan jasadnya kami tak kuasa menahan tangis. Air mata ini sulit terbendung, tumpah membasahi pipi. Kami tersedak-sedak berusaha menguasai tangis agar bisa dikendalikan. Memori ini sontak berputar dari kelopak mata yang menutup. Sebuah layar di pelupuk memberikan kenangan tentang jasa-jasa yang pernah diberikannya pada keluarga kami.
Ia, yang telah mengangkat kehidupan ekonomi keluarga kami. Tiga dari kami, berhasil diterima di Posgiro berkat kebaikan hati dan ketulusannya. Meski sukses, ia tak pernah melupakan kerabat. Begitu banyak orang yang telah ditolong. Bukan dengan memberikan ikan, tapi kail agar kami bisa berjuang dan menghargai sebuah usaha. Pilihannya membantu sama sekali tanpa pamrih. Hampir semua orang yang ditolongnya adalah yang memang berhak untuk itu : mengalami kesulitan absolut seperti yang keluarga kami alami.
Tapi berkat tangan ikhlasnya, ia telah membuka jalan bagi keluarga kami untuk lebih baik. Saat ini, alhamdulillah semua anak-anak lelaki dari Musimin berhasil menuntaskan kuliah dan menikah. Dua anak perempuan lainnya bisa berdikari sendiri. Tentu ini berkat sumbangsihnya meski tidak langsung, melainkan lewat tangan-tangan mas dan mbak saya yang telah dibantunya.
Di sudut hati, kami berdoa semoga ia bisa tersenyum karena amalan-amalan yang telah menemaninya di barzah. Di fana, ia tetap memiliki tempat dalam relung terdalam kami. Selamat jalan Sang Penolong ..[]
Jakarta, 21 Januari 2010
Rabu, 20 Januari 2010
Sepupu Tua
Perasaan ini berangkat dengan begitu gelisah. SMS kakak keempat saya mengabarkan, mas sepupu saya saat ini tergolek kritis di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kami diminta menjenguk, khawatir umurnya tak sampai ketika keluarga Jakarta belum melihat kondisi terakhir.
Karena kesibukan-sebuah alasan klasik- Jumat lalu kami sempatkan berangkat ke Bandung. Ia termasuk orang sukses di lingkungan keluarga besar dari garis bapak. Bapaknya adalah kakak tertua dari bapak saya. Puncak kesuksesannya ketika ia dipercaya menjadi Direktur Operasional Pos dan Giro. Sebelumnya, berbagai jabatan penting di Posgiro pernah dipegangnya.
Ia sangat sederhana, taat ibadah dan peduli dengan keluarga, termasuk pada Pak’le-nya yang tak lain adalah bapak saya. Umur kami sangat jauh dibandingkan dengan mas saya itu. Saat ini ia sudah menginjak 76 tahun. Dengan bapak saya juga terpaut sedikit. Barangkali ketika mbah putri saya hamil berbarengan dengan istri Pak’de tertua saya itu. Makanya, mas saya di Bandung jarang memanggil Le’ pada bapak saya. Mungkin rikuh. Ia sering menjeluknya Pak Musimin.
Bapak terbilang kurang beruntung. Dengan delapan anak, kerja bapak serabutan. Ibu pernah cerita, ketika ia mengandung saya, bapak sedang tidak bekerja. Posisi terakhirnya adalah pegawai di PPTI, sebuah LSM yang mengurusi penyakit tuberkolusa di Indonesia. Dengan gaji sangat minim, bapak dipaksa menyekolahkan delapan anak, dan menyuapi sembilan mulut yang makannya sulit diukur.
Rumah kami begitu sederhana. Lantai masih dipelur berwarna abu-abu . Bahkan, beberapa dinding menggunakan gedek. Kamar pun cuma tiga. Terlalu sumpek dan sempit untuk enam bocah laki-laki yang doyan berlarian. Kondisi ini berjalan cukup lama. Karena tak mampu membangun kamar lagi, bapak memasang kamar darurat di loteng. Kami harus berjibaku dengan kucing dan sesekali tikus yang berseliweran di sudut dipan dari papan bekas.
Dalam tekanan kesederhanaan seperti itu, memaksa mbak perempuan saya bekerja agar ada tongkat estafet berganti . Ibu memang bekerja di pasar, tapi jelas belum memberikan andil apa-apa bagi keperluan pendidikan yang ketika itu sudah mahal. Nah, berkat lobi bapak dan ibu pada mas sepupu saya itu, akhirnya mbak saya berhasil diterima di Posgiro. Mungkin mas sepupu saya tidak tega juga melihat Le’-nya hidup dalam kekurangan.
Dari sana, kehidupan kami berjalan agak membaik. Beberapa keperluan sekolah tujuh adiknya bisa dibiayai sebagian oleh mbak saya. Mas kedua saya bisa kuliah di APP. Begitu juga dengan mas ketiga yang kuliah di UMS. Tapi biaya dua adiknya yang kuliah terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Bapak pun kemudian meminta bantuan lagi pada mas sepupu saya. Kali ini, bapaka dan ibu tidak meminta mas keempat saya bekerja, tetapi agar bisa diterima di diklat Pos. Sama seperti dua mas saya sebelumnya : bisa merasakan gengsinya sebagai mahasiswa.
Beruntung, mas saya bisa diterima dengan nilai cukup memuaskan. Dan, kelak, ia bisa dibanggakan. Prestasinya di kantor terbilang cermerlang, bahkan dibandingkan dengan anak mas sepupu saya sendiri yang juga bekerja di Posgiro. Karena di asrama, bapak dan ibu tidak lagi memikirkan biaya kuliah. Malah, ia mendapatkan uang saku.
Rupanya tekanan hidup belum juga reda. Meski bebas ongkos kuliah, tapi mbak kelima saya juga harus mendapatkan pekerjaan, karena baru saja lulus SMA. Entah mengapa, bapak-ibu lebih mementingkan anaknya yang laki-laki untuk kuliah. Mungkin karena akan memikul tanggung-jawab terhadap keluarganya nanti.
Lagi-lagi, bapak dan ibu meminta agar mbak saya yang baru lulus SMA itu bisa dibantu. Beruntung, karena kecerdasan dan keuletannya, ia bisa masuk sebagai pegawai tanpa bantuan berarti. Tiga laki-laki lainnya akhirnya bisa kuliah dengan biaya estafet dari mbak-mbak dan mas-mas saya itu. Tentu tak lepas dari peran mas sepupu saya di Bandung itu.
***
Iba saya tak tertahankan ketika mendapati mas sepupu saya yang semula gagah, selalu rapi dan bicara tegas, tiba-tiba menyerah di pembaringan. Wajahnya tirus. Matanya dalam. Tulang pipinya maju hampir-hampir mengalahkan batang hidungnya yang tegak lurus dengan bibirnya yang mengering. Kerut-kerut sekujur tubuhnya melatari urat-urat hitam yang menyembul saling-silang di tangan, leher, dahi dan kening.
Ia memang masih sadar, meski penyakitnya sudah begitu kronis. Organ-organ penting seperti paru, ginjal dan jantung bekerja di bawah seharusnya. Matanya kosong menatap arah tak jelas. Bukan terhadap tamu tapi pada langit-langit seolah menatap “masa depan”.
Giginya mengintip dari celah bibir yang retak-retak ketika menginginkan sesuatu. Jari-jari itu bergerak naik turun di atas bantal yang menopang, menandadakan sebuah hasrat. Gumaman yang keluar dari tenggorokannya yang kerempeng begitu terbata hingga sulit dimengerti. Bahasa verbal harus berbentuk pertanyaan. Ia akan menggeleng lemah jika tidak, dan mengangguk pelan jika ya.
Tiba-tiba saja air mengalir dari sudut mata saya. Batang leher ini mengeras menahan suara sendat. Sesenggukan saya batasi sampai di dada yang mendadak penuh. Saya sungguh tak tega melihat kondisinya yang begitu kepayahan menahan sakit. Hebatnya, ia tetap mengenali saya dan mbak-mbak dan mas saya yang diperkenalkan dengan berbisik.
Yang lebih mengagetkan, ia menunjuk-nunjuk saya meminta mendekat hanya untuk menanyakan apakah saya membawa kendaraan sendiri. Saya sampai kini heran mengapa begitu dikenalnya. Padahal, sebagai anak bontot frekuensi pertemuannya sangat minim. Jauh dibandingkan dengan mas dan mbak-mbak saya. Saya juga tidak mengerti mengapa rasa sayang terhadapnya begitu menggebu, justru di saat ia terbaring di kesendiriannya.
Hingg lewat Magrib kami masih di sana. Anaknya meminta kami bertahan karena sebuah kabar yang menyentak. Dokter memperkirakan hanya sampai malam, kakak sepupu saya bisa bertahan. Maka, seluruh anaknya dipanggili, tanpa kecuali. Tekanan darahnya secara mendadak drop ke angka 80/60. Oksigen yang sejak awal menemaninya bernafas sulit diajak masuk ke paru-paru. Infus yang tertancap di pergelangan kirinya seperti digrojok. Hanya dalam setengah jam sudah empat botol ludes. Matanya menutup separuh dengan bola mata yang memutih. Keadaan begitu genting.
Ponakan yang umurnya jauh di atas saya, sulit membendung tangis. Dua gepok tisu yang saya beli sebelumnya, salah satunya sudah tinggal separuh, habis untuk menyeka air kesedihan. Saya pun larut di dalamnya. Untaian doa dan lantunan ayat-ayat berkumandang dari dalam kamar yang sesak. Para kerabat, semua tertunduk sambil mengangkat tangan sebatas perut. Ada juga sampai di atas dada. Begitu syahdu. Tegang. Terlebih ketika sang Ustad mendekat, membisikkan kalimat syahadat.
Kami pun bersiap-siap dengan segala kemungkinan. Setidaknya begitulah sikap kami semua, merujuk pada informasi yang diberikan dokter bahwa mas sepupu saya sulit bertahan hingga pagi.
Manusia memang makhluk kecil dengan ilmu yang secuil. Semua prediksi dokter terbantahkan. Dalam hitungan menit tiba-tiba tekanan darah mas sepupu saya melonjak naik ke posisi normal. Kami tentu senang bercampur kaget. Ia bisa tersenyum dan mengenali satu-satu orang yang mengerumuninya di tepian tempat tidur. Kami semua lega meski rasa kekhawatiran ini tetap saja sulit dihapuskan.
Kami serombongan dari Jakarta pun pamit. Kami menciumi pipi dan tangannya. Ia mengangguk. Air mata merembes dari sudut kiri matanya. Ia bahagia masih bisa dijenguk. Hingga cerita ini dibuat, alhamdulillah mas sepupu tua kami masih bisa bertahan. Tegar dan bersemangat seperti pernah saya mengenalnya dulu. []
Bojong Kulur, 19 Januari 2010
Karena kesibukan-sebuah alasan klasik- Jumat lalu kami sempatkan berangkat ke Bandung. Ia termasuk orang sukses di lingkungan keluarga besar dari garis bapak. Bapaknya adalah kakak tertua dari bapak saya. Puncak kesuksesannya ketika ia dipercaya menjadi Direktur Operasional Pos dan Giro. Sebelumnya, berbagai jabatan penting di Posgiro pernah dipegangnya.
Ia sangat sederhana, taat ibadah dan peduli dengan keluarga, termasuk pada Pak’le-nya yang tak lain adalah bapak saya. Umur kami sangat jauh dibandingkan dengan mas saya itu. Saat ini ia sudah menginjak 76 tahun. Dengan bapak saya juga terpaut sedikit. Barangkali ketika mbah putri saya hamil berbarengan dengan istri Pak’de tertua saya itu. Makanya, mas saya di Bandung jarang memanggil Le’ pada bapak saya. Mungkin rikuh. Ia sering menjeluknya Pak Musimin.
Bapak terbilang kurang beruntung. Dengan delapan anak, kerja bapak serabutan. Ibu pernah cerita, ketika ia mengandung saya, bapak sedang tidak bekerja. Posisi terakhirnya adalah pegawai di PPTI, sebuah LSM yang mengurusi penyakit tuberkolusa di Indonesia. Dengan gaji sangat minim, bapak dipaksa menyekolahkan delapan anak, dan menyuapi sembilan mulut yang makannya sulit diukur.
Rumah kami begitu sederhana. Lantai masih dipelur berwarna abu-abu . Bahkan, beberapa dinding menggunakan gedek. Kamar pun cuma tiga. Terlalu sumpek dan sempit untuk enam bocah laki-laki yang doyan berlarian. Kondisi ini berjalan cukup lama. Karena tak mampu membangun kamar lagi, bapak memasang kamar darurat di loteng. Kami harus berjibaku dengan kucing dan sesekali tikus yang berseliweran di sudut dipan dari papan bekas.
Dalam tekanan kesederhanaan seperti itu, memaksa mbak perempuan saya bekerja agar ada tongkat estafet berganti . Ibu memang bekerja di pasar, tapi jelas belum memberikan andil apa-apa bagi keperluan pendidikan yang ketika itu sudah mahal. Nah, berkat lobi bapak dan ibu pada mas sepupu saya itu, akhirnya mbak saya berhasil diterima di Posgiro. Mungkin mas sepupu saya tidak tega juga melihat Le’-nya hidup dalam kekurangan.
Dari sana, kehidupan kami berjalan agak membaik. Beberapa keperluan sekolah tujuh adiknya bisa dibiayai sebagian oleh mbak saya. Mas kedua saya bisa kuliah di APP. Begitu juga dengan mas ketiga yang kuliah di UMS. Tapi biaya dua adiknya yang kuliah terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Bapak pun kemudian meminta bantuan lagi pada mas sepupu saya. Kali ini, bapaka dan ibu tidak meminta mas keempat saya bekerja, tetapi agar bisa diterima di diklat Pos. Sama seperti dua mas saya sebelumnya : bisa merasakan gengsinya sebagai mahasiswa.
Beruntung, mas saya bisa diterima dengan nilai cukup memuaskan. Dan, kelak, ia bisa dibanggakan. Prestasinya di kantor terbilang cermerlang, bahkan dibandingkan dengan anak mas sepupu saya sendiri yang juga bekerja di Posgiro. Karena di asrama, bapak dan ibu tidak lagi memikirkan biaya kuliah. Malah, ia mendapatkan uang saku.
Rupanya tekanan hidup belum juga reda. Meski bebas ongkos kuliah, tapi mbak kelima saya juga harus mendapatkan pekerjaan, karena baru saja lulus SMA. Entah mengapa, bapak-ibu lebih mementingkan anaknya yang laki-laki untuk kuliah. Mungkin karena akan memikul tanggung-jawab terhadap keluarganya nanti.
Lagi-lagi, bapak dan ibu meminta agar mbak saya yang baru lulus SMA itu bisa dibantu. Beruntung, karena kecerdasan dan keuletannya, ia bisa masuk sebagai pegawai tanpa bantuan berarti. Tiga laki-laki lainnya akhirnya bisa kuliah dengan biaya estafet dari mbak-mbak dan mas-mas saya itu. Tentu tak lepas dari peran mas sepupu saya di Bandung itu.
***
Iba saya tak tertahankan ketika mendapati mas sepupu saya yang semula gagah, selalu rapi dan bicara tegas, tiba-tiba menyerah di pembaringan. Wajahnya tirus. Matanya dalam. Tulang pipinya maju hampir-hampir mengalahkan batang hidungnya yang tegak lurus dengan bibirnya yang mengering. Kerut-kerut sekujur tubuhnya melatari urat-urat hitam yang menyembul saling-silang di tangan, leher, dahi dan kening.
Ia memang masih sadar, meski penyakitnya sudah begitu kronis. Organ-organ penting seperti paru, ginjal dan jantung bekerja di bawah seharusnya. Matanya kosong menatap arah tak jelas. Bukan terhadap tamu tapi pada langit-langit seolah menatap “masa depan”.
Giginya mengintip dari celah bibir yang retak-retak ketika menginginkan sesuatu. Jari-jari itu bergerak naik turun di atas bantal yang menopang, menandadakan sebuah hasrat. Gumaman yang keluar dari tenggorokannya yang kerempeng begitu terbata hingga sulit dimengerti. Bahasa verbal harus berbentuk pertanyaan. Ia akan menggeleng lemah jika tidak, dan mengangguk pelan jika ya.
Tiba-tiba saja air mengalir dari sudut mata saya. Batang leher ini mengeras menahan suara sendat. Sesenggukan saya batasi sampai di dada yang mendadak penuh. Saya sungguh tak tega melihat kondisinya yang begitu kepayahan menahan sakit. Hebatnya, ia tetap mengenali saya dan mbak-mbak dan mas saya yang diperkenalkan dengan berbisik.
Yang lebih mengagetkan, ia menunjuk-nunjuk saya meminta mendekat hanya untuk menanyakan apakah saya membawa kendaraan sendiri. Saya sampai kini heran mengapa begitu dikenalnya. Padahal, sebagai anak bontot frekuensi pertemuannya sangat minim. Jauh dibandingkan dengan mas dan mbak-mbak saya. Saya juga tidak mengerti mengapa rasa sayang terhadapnya begitu menggebu, justru di saat ia terbaring di kesendiriannya.
Hingg lewat Magrib kami masih di sana. Anaknya meminta kami bertahan karena sebuah kabar yang menyentak. Dokter memperkirakan hanya sampai malam, kakak sepupu saya bisa bertahan. Maka, seluruh anaknya dipanggili, tanpa kecuali. Tekanan darahnya secara mendadak drop ke angka 80/60. Oksigen yang sejak awal menemaninya bernafas sulit diajak masuk ke paru-paru. Infus yang tertancap di pergelangan kirinya seperti digrojok. Hanya dalam setengah jam sudah empat botol ludes. Matanya menutup separuh dengan bola mata yang memutih. Keadaan begitu genting.
Ponakan yang umurnya jauh di atas saya, sulit membendung tangis. Dua gepok tisu yang saya beli sebelumnya, salah satunya sudah tinggal separuh, habis untuk menyeka air kesedihan. Saya pun larut di dalamnya. Untaian doa dan lantunan ayat-ayat berkumandang dari dalam kamar yang sesak. Para kerabat, semua tertunduk sambil mengangkat tangan sebatas perut. Ada juga sampai di atas dada. Begitu syahdu. Tegang. Terlebih ketika sang Ustad mendekat, membisikkan kalimat syahadat.
Kami pun bersiap-siap dengan segala kemungkinan. Setidaknya begitulah sikap kami semua, merujuk pada informasi yang diberikan dokter bahwa mas sepupu saya sulit bertahan hingga pagi.
Manusia memang makhluk kecil dengan ilmu yang secuil. Semua prediksi dokter terbantahkan. Dalam hitungan menit tiba-tiba tekanan darah mas sepupu saya melonjak naik ke posisi normal. Kami tentu senang bercampur kaget. Ia bisa tersenyum dan mengenali satu-satu orang yang mengerumuninya di tepian tempat tidur. Kami semua lega meski rasa kekhawatiran ini tetap saja sulit dihapuskan.
Kami serombongan dari Jakarta pun pamit. Kami menciumi pipi dan tangannya. Ia mengangguk. Air mata merembes dari sudut kiri matanya. Ia bahagia masih bisa dijenguk. Hingga cerita ini dibuat, alhamdulillah mas sepupu tua kami masih bisa bertahan. Tegar dan bersemangat seperti pernah saya mengenalnya dulu. []
Bojong Kulur, 19 Januari 2010
Langganan:
Postingan (Atom)