Fiksimini-3:
1. Robot
Ku ajak kau mendengar, melihat, supaya kamu bisa belajar merasa. Tapi tetap tak bisa. Ah, aku lupa kamu cuma robot: gerakmu pasti sesuai perintah.
2.Gerobak
Bocah itu berkeluh, "Bu, aku tak mau ditaruh digerobak!"
"Maaf Nak, Ibu tak sanggup sewa ambulance sampai ke makammu"
3.Cahaya Iman
Lesatan itu cuma bisa ditangkap oleh mata. Ya, mata hati, bukan kasatmata. Ia sebuah keimanan.
Gelora: 18:04:2010
Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fiksimini. Tampilkan semua postingan
Minggu, 18 April 2010
Rabu, 14 April 2010
Doa Dua Wanita Tentang Air
fiksimini-2 :
1.Menggugat Tuhan
“Tuhan, mana doa yang kuberikan dulu?”/”Ku-simpan dalam kotak”/”kok??”/”Ku-butuh kesungguhanmu!”
2.Dua Wanita
Gincu merah di bibirnya bersih setelah semalaman dikulum istrinya di sebuah malam yang gulita
3.Air
Tepat. Ketika setetes air itu diambil, dunia berubah menjadi kering.
Bojong Kulur: 14:04:2010
1.Menggugat Tuhan
“Tuhan, mana doa yang kuberikan dulu?”/”Ku-simpan dalam kotak”/”kok??”/”Ku-butuh kesungguhanmu!”
2.Dua Wanita
Gincu merah di bibirnya bersih setelah semalaman dikulum istrinya di sebuah malam yang gulita
3.Air
Tepat. Ketika setetes air itu diambil, dunia berubah menjadi kering.
Bojong Kulur: 14:04:2010
Senin, 12 April 2010
Surat Teroris untuk Petani
fiksimini-1 :
1.prangko
Maaf sayang, aku tak sempat kirimimu surat. Aku lupa, prangko terakhirku telah tertempel di pojok kanan surat istriku
2. teroris
Ketika kepalanya terpisah karena serangannya sendiri, teroris itu berucap, “wajahku akan segera terkenal.”
3. nasib petani
Dulu, sungai mengalir deras, melewati sawah dan kebun. Kini sawah dan kebun bergerak, menghampiri petani, yang bertepian di sisi sungai sambil menatap dinding-dinding beton. []
Bojong Kulur: 13:04:2010
1.prangko
Maaf sayang, aku tak sempat kirimimu surat. Aku lupa, prangko terakhirku telah tertempel di pojok kanan surat istriku
2. teroris
Ketika kepalanya terpisah karena serangannya sendiri, teroris itu berucap, “wajahku akan segera terkenal.”
3. nasib petani
Dulu, sungai mengalir deras, melewati sawah dan kebun. Kini sawah dan kebun bergerak, menghampiri petani, yang bertepian di sisi sungai sambil menatap dinding-dinding beton. []
Bojong Kulur: 13:04:2010
Langganan:
Postingan (Atom)