Tampilkan postingan dengan label kisah bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah bersambung. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Januari 2010

Satu Malam di Nirwana

 Liburan Awal Tahun 2010 (bag 5-habis)

Roda saya arahkan menuju Subang. Kami benar-benar kapok melewati Bandung jika harus pulang ke Jakarta. Saat kami berangkat Jumat, rayapan kendaran bukan dari bawah saja. Tetapi dari atas menuju Bandung juga sama. Agar aman, kami memutuskan balik melalui Subang.

Laju kendaraan saya jaga betul. Memastikan kepala tetap bekerja nyaman, juga supaya motel atau tempat penginapan bisa terpantau. Hingga menjelang magrib, tidak satupun tempat yang cocok. Kalau ada pasti harganya selangit, seperti di Sindang Reret atau Hotel Sari Ater yang ratenya saja Rp 998 ribu ++. Yang murah juga banyak, tapi pasti tidak nyaman. Tahun lalu kami pernah menginap di sekitar Ciater. Kami dapat dari para calo pinggir jalan, yang selalu memampangkan papan "Villa" di tangan.

Kepala ini seperti retak. Pusingnya sulit lagi tertahankan. Saya harus segera istirahat. Apalagi Vito batuknya mulai nyeprus lagi setelah beberapa hari ini sempat terhenti. Doa saya terpenuhi. Satu kilo dari Sindang Reret, ada sebuah baliho besar bertuliskan Nirwana. Kami langsung belok kiri. Namun, kesan pertama sudah tak enak. Jalan yang terjal dan rusak berlubang. Gedung utama juga terlihat kusam, dengan rumput dan pohon yang dibiarkan tumbuh liar. Lahannya cukup luas. Ada tempat outbond, kolam pemancingan, ATV, restoran juga agrowisata. Tapi entah mengapa, dengan fasilitas begitu lengkap tamu terlihat sepi. Hanya ada beberapa mobil terparkir di tepian kolam pemancingan.

Dua bungalow bertema alam yang terbuat dari kayu berdiri di atas bukit.  Cuma, karena penataan taman yang kurang apik, justru terasa aneh dan kumuh. Agrowisata yang menjadi sajian utama resort ini  dibiarkan teronggok rusak. Ruang penginapan pribadi memang tak banyak, paling-paling lima kamar. Selebihnya adalah barak besar yang bisa menampung tamu hingga 200 orang. Kelebihan kamar di tempat ini adalah dua tempat tidur ranjang tunggal berukuran 180x200. Cukup untuk dua keluarga. Air panasnya cukup mencos, berbeda dengan Villa De' Rossa yang airnya seemprit dan panas yang tak konsisten. Harganya Rp 400 ribu permalam. Kalau hari biasa malah cuma Rp 288 ribu. Kami memilih tempat ini cuma karena satu alasan : bisa pakai kartu kredit.

Menjelang isya, pusing ini makin menjadi. Kami tidak melancong kemana-mana. Keluar sebentar cari ganjalan perut. Dalam kondisi "tertekan" seperti ini, agak sulit berburu tempat makanan. Hanya ada warung besar, lagi-lagi bermerek Brebes. Kami sebenarnya ogah, tapi karena tuntutan kondisi, akhirnya mampir juga. Benar saja, rasa yang disajikan jauh dari enak. Sayur asem yang lebih cocok dibilang sayur manis. Ayam bakar kelewat gosong. Dan juga nasi tembil lengkap yang tak sesuai dengan harga yang dibandrol Rp 30 ribu hanya untuk sepaha goreng ayam, tahu-tempe dan jambal asin sebesar jempol. Kami kecewa berat karena malam itu harus mengeluarkan makan malam Rp 81 ribu untuk rasa yang justru menganggu lidah dan selera. Saya heran mengapa tempat ini bisa begitu ramai.

Sampai di hotel saya  minum Panadol dan langsung menubruk kasur. Tarik selimut dan peluk guling. Dingin udara Lembang malam itu terasa lebih ganas. Sampai-sampai kepala pun ditutupi batal dan selimut. Tak ada kegiatan malam itu...Vito dan istri juga kelihatannya lelap terlalu awal dari biasanya.

***

Saya bangun lebih pagi dari mereka. Badan jauh terasa lebih bugar. Penyakit kepala yang menyerang kemarin sudah benar-benar hilang. Rasa sakit yang menusuk, cukup bisa diobati dengan istirahat total. Mungkin masuk angin karena kelelahan. Tahun baru pada Kamis malam,  kami rayakan hanya di rumah dengan keluarga dari Pondok Gede. Setelah berkelililing sebentar di sekitar Cibubur, kami balik, membuat keramaian sendiri hingga hampir pukul 2 dini hari. Besoknya harus berangkat ke Bandung.

Kami memutuskan untuk tidak berlama di Nirwana. Ini hari minggu, jadi jangan sampai besoknya kelelahan karena harus masuk kantor. Apalagi ini adalah arus balik, banyak  wislok yang pulang ke Jakarta dan sekitarnya. Sebelumnya kami ingin terlebih dulu menghilangkan pegal-pegal,  merendam badan di Ciater. Walau check out dari Nirwana sudah terbilang pagi, sampai di Ciater sudah sesak. Manusia terlihat memenuhi tiap sudut lapangan. Tepian kali air hangat itu sudah dijejali orang yang berkecupak, mandi dengan pakaian seadanya. Untuk bergerak saja sulit, apalagi nyemplung ke kali. Tempat bilasan lebih rusuh lagi. Antrian mengular dan sulit diatur.

Tempat yang paling baik barangkali kolam berbayar. Paling tidak, bisa berendam lebih nyaman dan tempat bilasan juga pasti bersih. Tiket masuk untuk kolam kelas dua yang kami masuki Rp 20 ribu per orang. Cukup sepi dan bersih. Saya baca seksama petunjuk perendaman. Sebab, ada peringatan keras bagi orang yang berpenyakit darah tinggi, diabetes, jantung dan manula. Juga terhadap ibu hamil. Bagi kategori ini air hangat  yang bersuhu 45 derajat dengan tingkat keasaman 2,5 tidak mudah bisa diterima. Kalau dipaksakan maka muncul gejala mual, pusing, lemas sebelum akhirnya pingsan.

Saya sembilan bulan lalu memang telah divonis kena diabetes. Tapi sejak lima bulan alhamdulillah sudah lepas obat dan terapi olahrga juga makanan. Jadi mestinya tidak masalah untuk berendam. Dugaan saya salah. Baru berendam lima belas menit badan sudah melayang. Merasakan gejala aneh ini saya segera berhenti dan istirahat sambil minum teh panas pahit. Saya sampai sekarang masih bingung mengapa ini terjadi padahal rendaham hanya separuh perut, selebihnya saya guyur dengan gayung yang disediakan.

Kami pun tidak berlama di pemandian, karena istri saya yang begitu menikmati air hangat alamai itu juga tidak bisa berlama karena sedang mengandung. Lepas Dhuhur kami balik ke Jakarta. Kondisi jalan relatif lancar tapi harus diakui memang lebih jauh. Kami tak sempat membeli oleh-oleh kecuali manggis tiga renteng masing-masing isi 10 biji seharga Rp 20 ribu dan rambutan empat ikat Rp 10 ribu.

Magrib masih terkejar ketika kami memasuki gerbang Villa Nusa Indah III, tempat kediaman kami. Liburan panjang ini benar-benar memberikan nuansa lain. Menyenangkan sekaligus memberikan banyak pengalaman. Semoga liburan berikutnya masih bisa diberikan kesempatan dan rezeki untuk melancong lagi, bersama Andriani istri tercinta, Vito anak saya yang selalu membu semangat. Syukur-syukur bisa membawa keluarga lebih besar lagi. Tentu lebih seru dan asyik.[]

Lembang-Bojong Kulur-Gelora : 04-06 : 01 : 2010

Maribaya yang Merana

Liburan Awal Tahun 2010 (bag 4)


Kawasan sekitar tempat saya menginap relatif mudah untuk mencari keramaian. Selain, De' Ranch, ada juga pasar Lembang yang selalu bikin macet. Dua kilo dari situ ada kebun strowbery yang bisa dipetik sendiri. Atau kalau mau lebih menantang, sedikit ke arah Bandung, lalu belok kanan menuju Cimahi. Di sana ada taman bunga dan curug yang katanya indah. Saya sendiri belum sempat mengunjungi karena sempitnya waktu.
Pilihannya cuma ke Maribaya. Jaraknya lima kilometer dari Villa De' Rossa. Tapi, belum sampai ke sana, ada tempat wisata lain, supermarket tanaman. Saya lima tahun lalu  pernah mengunjungi tempat ini. Sayang, karena kami bukan penyuka tanaman,  tempat itu cuma kami lewati saja. Maribaya terletak di lembah yang cukup curam. Sepanjang perjalanan hanya terlihat pohon-pohon menjulang-julang. Mengombak diterpa angin. Panas memang terik, tapi anehnya hembusan yang disemprotkan alam tetap saja terasa sejuk. Kami sengaja mematikan AC mobil yang ternyata kalah dingin dengan udara dari luar. Apalagi bau tanah dan rerumputan yang membawa ketentraman raga terlebih jiwa.

Maribaya begitu terkenal. Sejak kecil saya sering mendengar tempat ini, tapi entahlah baru pada kesempatan kemarin saya bisa mengunjungi curug-curugnya yang terkenal. Memasuki gerbang suasana ramai para penjaja makanan dan mainan begitu kental. Dingin makin menggigit. Beberapa orang mengenakan jaket, tapi saya tidak. Sengaja mencari sensasi dinginnya lembah yanag jarang-jarang saya rasakan. Untuk lebih menikmati  kesejukan Maribaya,  tiket Rp 5.000 tergolong murah. Apa barangkali karena dikelola Pemda. Harga tiket ini sama dengan karcis masuk De' Ranch yang belum main sudah ditagih.

Tapi, harga memang tidak membohongi. Kawasan nan indah itu, terlihat kurang tertata rapi. Sampah kami lihat berserakan. Rumput-rumput dibiarkan memanjang tanpa aturan. Demikian juga pohon-pohon yang mestinya bisa diatur rapi. Patung binatang banyak yang dibiarkan menderita tanpa kaki, telinga, hidung bahkan sebagian kepalanya hancur. Tubuh-tubuh "binatang" itu persis habis dikuliti, yang ada hanya warna abu-abu semen.  Diranggas oleh terik dan lembab. 


Busa putih tebal terlihat menumpuk di tepian kali. Pijakan tangga banyak sekali compal. Jembatan dari kayu amat usang dan bolong-bolong. Istri saya sampai ketakutan harus menyebrangi dua kali jembatan berpegangan besi yang juga sudah karatan. Tapi ada yang lebih "horor" lagi. WC yang tersedia begitu menyedihkan. Jorok, bau dengan kloset cemplung yang menjijikkan. Itu belum seberapa. Mushola yang seharusnya suci dan bersih, terlihat kusam dan lagi-lagi bau.

Kolam air panas alami yang ditawarkan juga tak pantas untuk wisatawan. Terlihat coklat seperti air di kali Ciliwung. Beberapa orang terlihat asyik mengayun-ayunkan kaki di tepian kolam yang tidak mengalir. Kami langsung beringsut balik badan begitu memastikan tempat bilasan juga tak jauh beda dengan WC yang saya ceritakan tadi. Namun begitu, kami sempat-sempatkan juga menikmati udara dingin dengan menyewa tikar lima ribu rupiah per helai.

Lokasinya sungguh ajib, persis di depan air terjun mini. Sejam terlewati begitu saja, tak terasa mendung menggelayut. Rintik sudah menimpa ujung hidung saya dan juga rambut. Kami bersiap angkat badan, pulang meninggalkan Maribaya yang merana, dan tak sempat ke Air Terjun Ciomas yang tingginya 25 meter. Keindahan Cimoas terpaksa terlewati karena istri saya tak memungkinkan untuk itu, mengingat kandungannya sudah memasuki bulan keempat.

Jam makan siang sebenarnya sudah terlewat. Kami sengaja menunda makan siang di Maribaya. Ada tempat yang sejak saya datang ke Lembang membuat liur ini sulit dikendalikan. Adalah Toko Tahu Tauhid yang sejak buka sudah dipadati pembeli. Lokasinya yang bersebrangan dengan De' Ranch membuat dua tujuan wisata ini saling melengkapi. Sebagai penggila tahu, saya akui rasa tahu di Tahu Tauhid luar bisa beda. Teksturnya halus tapi kekenyalannya terjaga, sehingga tidak mudah hancur. Tahu tetap padat berisi meski baru saja diangkat dari wajan yang kemapul.  Coba saja bandingkan dengan tahu pong yang sering ditemui tukang gorengan pinggir jalan.

Rasanya pun gurih dan orisinil karena selalu disajikan begitu tahu matang dari dapur olahan. Freeesh.  Dan yang tak tertandingi, harganya sangat murah. Satu buah tahu mentah hanya dihargai Rp 500 dan yang matang Rp 700. Karena antrian yang mengular, saya urungkan membeli sebagai oleh-oleh. Saya cukup puas dengan membeli sekeranjang tahu panas isi 30 biji seharga Rp 21 ribu.

Mega hitam kembali mengintai. Langit kelihatannya tak lama lagi akan menumpahkan isi perutnya. Kami bergegas menuju mobil. Badan saya mulai greges, pening menjalar mulai dari tengkuk. Tanda-tanda seperti ini biasanya saya kurang istirahat atau makan-makanan sembarangan. Saya tak berani melanjutkan perjalanan. Kami berdiam di dalam mobil yang diguyur deras hingga setengah jam. Kami ragu antara pulang dan menginap lagi, karena kondisi saya yang tak memungkinkan.


Matahari makin bersembunyi. Kepala saya kian berat saja. Istri yang berusaha mencari tempat penginapan dari buku yang kami beli di Gramedia belum juga berhasil. Bukan karena tidak ada kamar kosong tetapi lebih karena harganya yang rata-rata  naik berlipat minimal 100 persen. Kami tak menyediakan uang tunai, sementara hotel melati jarang yang bisa menerima kartu kredit.

Kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalan. Menembus hujan dan kabut. Melawan pusing yang terus memukul-mukul batok kepala.  Mencari tempat singgahan murah...(bersambung)

Senin, 04 Januari 2010

De' Ranch

Liburan Awal Tahun 2010 (bag 3)

Vito membangunkan kami yang sedang terlelap. Ia sangat ceria di pagi yang belum sempurna itu. Kabut masih terlihat tipis dalam jarak pandang terbatas. Villa De' Rossa memang memiliki view  lumayan. Disamping kiri terpampang savana yang menakjubkan : bukit berundak-undak memamerkan pohon yang mengayun-ayun dan rumput-rumput hijau membentang. Kontrasnya, di sebelah kanan terjejer mobil-mobil plat Jakarta dengan tubuh penuh lumpur.

Suara kuda sayup meringkik pelan di pelataran hotel. Bau kotorannya mengingatkan saya ketika pulang ke rumah mbah di Klaten. Saya selalu naik dokar tiap kali mengunjunginya dari stasiun Klaten ke Karang Turi. Rupanya, di Lembang dokar masih menjadi sarana transportasi penting. Di musim liburan panjang seperti itu, dokar lebih banyak digunakan untuk melayani turis-turis domestik. Kebisingan kecil anak-anak yang bermain  di lapangan rumput hotel belum bisa menggoda kami untuk angkat kelopak mata. Udara dingin Lembang masih begitu lekat menyelimuti malas kami.

Cuma semangat Vito-lah yang sanggup membangkitkan kami. Ia berulang-ulang menggugah badan saya yang menempel rapat di kasur. Kalau tak berhasil, ia balikan badan  dan giliran istri saya yang jadi sasaran. Hingga akhirnya kami pun menyerah dan terjaga. Sadar bahwa liburan ini sepenuhnya untuk menyenangkan Vito, kami bersegera mandi.

Sarapan dari pihak hotel tinggal sisa-sisanya saja. Maklum kami masuk resto setengah jam sebelum tutup jam 10. Para tamu sudah khatam makan dengan sajian : nasi goreng, telur balado dan kentang-bihun yang pedas dengan minyak berkilat-kilat. Kerupuk sebagai pelengkap juga tandas, yang ada hanya rempahannya saja.  Vito tentu sulit makan dengan rasa nyelekit lidah seperti itu. Maka, ia cuma mencici setangkup roti isi gula dan susu murni yang memang banyak di sekitar Lembang.

Pilihan kami untuk memilih Villa De' Rossa tidak terlalu salah, meski harganya naik menjadi Rp 350 ribu, jauh dari harga normal yang cuma Rp 250.000.  Jalan masuk ke hotel juga rusak parah. Inilah nilai kurang dari hotel yang sebenarnya baik itu.


Lima ratus meter dari sana, terdapat arena wisata berkuda yang seringkali masuk liputan teve : De' Ranch, bermain kuda ala cowboy.  Kami sengaja berjalan kaki menuju De' Ranch. Lumayan bisa menghirup udara segar dan sedikit berolah-raga. Di lapangan parkir saya lihat mobil antri mencari tempat. Lokasi ini memang luar biasa luas.Sejauh mata melihat hanya ada hijaunya rumput dan pohon pinus. Kuda-kuda berkeliaran di antara pengunjung. Ada yang ditunggangi dengan pemandu bertarif Rp 15 ribu per lap. Ada juga yang menggunakan dokar Rp 25 ribu per tiga orang.

Atau, kalau yang pingin ekslusif pilih di lapangan tengah seharga Rp 75 ribu untuk setengah jam. Kalau kurang puas, bisa ambil les tunggangan sejam, tapi harus rela merogoh kocek Rp 125 ribu.  Saya rasa wajar karena pengajarnya pun spesial. Saat  saya mengunjungi terlihat pemilik De' Ranch langsung yang melatih. Dialah Billy Mamola. Pria yang tanggal 3 Februari mendatang  berumur 56 tahun itu memang terkenal penggila kuda. Sepanjang usianya ia selalu menunggang. Jangan heran jika ia kini sukses memadukan hobi dan bisnis. Itu sebabnya ia rela melepaskan bisnisnya yang lain demi mengembangkan mimpi kecilnya.

De' Ranch bukan saja mengandalkan  kuda-kuda untuk dijadikan wisata, tapi juga pengalaman yang dimirip-miripkan penunggang kuda dari Texas sana. Pengunjung bisa mengenakan rompi, topi dan sepatu ala cowboy yang dipinjamkan secara gratis. Untuk melengkapi tempat hiburan seluas lima hentar itu, juga disediakan mainan lain semisal flying fox, panjat dinding, naik rakit, perahu fun, arena sepeda, memerah susu, memberi makan sapi, melihat proses pasteurisasi susu sebelum siap minum, juga tempat bermain balita dan anak-anak. Pengunjung sebelumnya diberi welcome drink yang bisa dipilih, susu atau yogurth. Berbagai jajanan juga ditawarkan.


Dari sekian banyak mainan yang ada, vito meminta  menunggang kuda  dan bermain perahu fun. Juga sekedar melihat-lihat karena waktu yang terbatas, mengingat jam sudah menunjukkan   pukul 11.10, saatnya balik ke Hotel untuk berkemas. Agar lebih berkesan, kami pulang menggunakan dokar dari De' Ranch seharga Rp 30 ribu.

Perjalan menggunakan alat transportasi kuno itu harus dilewati dengan rasa penyesalan karena sendal Yongki Komaladi yang baru saja dibeli terpaksa tanggal di jalan, saat dokar melaju kencang di jalan bebatuan....(bersambung)

Yang Tak Terlupakan

 Liburan Awal Tahun 2010 (bag 2)


Perut sulit diajak damai. Badan sebenarnya minta dibaringkan. Apalagi mata seperti diganduli besi berat, sulit sekali untuk dibuka.  Seluruh sendi ngilu. Kreteek...kreeetek...bunyi batang leher, pinggang, siku-siku juga buku-buku jari tiap kali dibengkokkan paksa. Tapi, rasanya terlalu sayang untuk melewatkan malam di Lembang yang sejuk.

Hujan begitu deras ketika kami keluar mencari makanan khas Lembang. Tidak ingin di warung Brebes, karena sebelumnya pernah kecewa. Kali ini memilih kaki lima yang kelihatannya ramai : Warung Bu Iing. Bermacam menu disodorkan. Mulai dari nasi bakar isi oncom atau teri. Aneka pepes dari tahu, ayam, ikan mas, atau gorengan tahu-tempe, bakwan jagung-kentang, jeroan, babat juga ada. Untuk makanan terakhir ini saya berusaha menghindar agar kolesterol tak naik. Tetapi ada satu makanan yang sulit saya tolak : pete bakar. Baunya merebak betul-betul menggugah selera makan. Berbagai menu itu disajikan secara prasmanan. Ambil sendiri, bayar kemudian.

Harus saya akui warung Bu Iing tergolong murah. Dua bungkus nasi bakar, dua papan pete bakar, dua perkedel, satu pepes ayam, sepotong ayam bakar, tahu-tempe, dua tusuk ceker goreng dan segelas jus jeruk cuma Rp 49 ribu.  Syahwat makan saya sulit terbendung. Semua santapan ludes dalam hitungan menit. Begitu juga istri saya. Ia begitu menikmati nasi bakar teri yang disajikan hangat-hangat, cocok di saat hujan seperti itu.

Penilaian saya terhadap warung itu berubah drastis ketika saya terngiang-ngiang akan ketan bakar yang dibeli siang tadi saat macet. Penjaja pinggir jalan hanya membandroli Rp 2.500 per buah, tapi warung Bu Iing memintanya Rp 5.000. Saya coba tawar tapi tak bisa. Bukan itu saja yang mahal. Burger bahkan dijual Rp 17.500. Asem...mengapa jadi selangit harganya. Apa ia ingin memanfaatkan momen liburan. Ah, tapi mestinya untuk menarik pengunjung jangan begitu. Toh, warung itu juga sudah dipenuhi pembeli, kok.


Saya akhirnya mencari ketan bakar di tempat lain dengan harga Rp 10.000 per tiga biji. Meski dengan bumbu oncom dan kacang, saya tetap merasakan nikmat ketan bakar sebelumnya karena terasa gurih : perpaduan dari ketan dan kelapa yang ditumbuk halus.

Malam bergerak lambat,...saya dan istri tak bisa menikmati malam itu sepenuhnya, karena Vito sudah tertidur begitu kami hendak berangkat makan malam. Dalam kesyahduan remang lampu tidur yang dipasang separuh, krikikan jangkrik yang bersahutan serta gigitan udara dingin yang menyelinap dari kisi-kisi jendela, kami menghabisi malam hingga larut.....

Kelelahan kami sepanjang hari ini terbayar sudah. Kebahagiaan tiba-tiba buncah menusuk ke ubun-ubun...kasih-sayang yang tercurah malam itu sungguh sulit dilupakan.....(bersambung)

Bandung Tumpah

Liburan Awal Tahun 2010 (bag 1)

Kami memutuskannya tak sampai tiga hari. Memang, terlalu minim untuk sebuah perjalanan liburan yang membutuhkan persiapan. Bukan saja soal uang tetapi kepadatan lokasi tujuan berikut akomodasinya. Bandung, sebuah kota gemerlap wisata belanja dan kuliner. Kota ini menjadi mainstream bagi siapa saja yang ingin menuntaskan uang dan waktu bersama keluarga dan kerabat.

Saya bersama istri dan tentu saja anak sungguh menghindari kota ini karena alasan klasik : macet dan terlalu sibuk dengan factory outlet serta orang yang gemar berburu makanan yang sebenarnya banyak juga ditemui di Jakarta sini. Tapi, kebetulan ada kerabat yang bisa dikunjungi, maka Bandung terpaksa harus juga disinggahi. Bukan untuk bermalam, namun sekedar lewat.

Kepadatan mulai terasa ketika memasuki Sadang. Tepat sholat Jumat, kerumunan orang mengantri di depan tempat Wudhu, begitu juga toilet di SPBU KM 72 yang belum lama dibuka. Saya curiga jalanan bakal macet kelak saat keluar pintu tol Pasteur. Sebab, kalau bukan ke Kota Kembang, kemana lagi dong  orang-orang ini mengarah? Untuk mengurangi ketegangan saya mencicipi Soto Sadang yang kesohor itu. Enak sih, tapi harganya itu lho,....

1 Januari saya pikir waktu paling pas untuk berpergian. Logikanya orang sudah kelelahan menghabiskan tahun baru hingga menjelang pagi. Tentu tak ada lagi energi tersisa untuk jalan-jalan besoknya. Namun, dugaaan saya keliru. Sejak berangkat pagi, mobil sudah jejal-berjejal di pintu-pintu masuk tol. Aneh juga, rupanya stamina manusia-manusia Jakarta cukup kuat ya untuk urusan senang-senang.


Memasuki Bandung tepat pukul 13.55. Kepadatan sudah terasa tetapi mobil masih bisa melaju wajar. Saya membelokan stir ke kiri, menuju Lembang tepat di persimpangan flyover Pasopati. Perjuangan pun dimulai, kendaran langsung mengular hingga ratusan meter. Ada Paris Van Java di sebelah kiri sebagai biang kemacetan. Seliweran mobil yang keluar masuk makin membuat kisruh. Mal raksasa itu bahkan mengambil separuh badan jalan khusus untuk tamu-tamunya. Egois betul.

Rupanya mal yang tergolong baru itu bukan satu-satunya biang kemacetan. Di sepanjang jalan berikutnya, berderet-deret FO, resto dan warung makan, persimpangan, pengkolan yang diisi kaki lima, sembarangan orang memarkir mobil sampai bis mogok seolah  bersekutu, bersekongkol ingin membuat Bandung tumplek. Polantas, arah jalan, rambu-rambu tak lagi digubris. Semua egois demi sebuah kesenangan. Sama sekali tak ada urusan mendesak di sini. Namun, mengapa orang terlihat bergitu bergegas seperti kekurangan waktu. Sampai-sampai, moncong mobil saya nyaris beradu dengan sedan Ford hijau tepat di persimpangan jalan Sukajadi. Untung tidak sampai berselisih paham. Mungkin sama-sama menyadari beradu mulut hanya membuat masalah bertambah panjang.

Sudah satu seperempat jam saya merayap di sepanjang jalan Sukajadi-pecahan Setiabudi. Sebuah bus Damri terparkir melintang dengan ranting pohon di pantatnya, memandakan sedang rusak. Saya lega karena pasti lepas itu akan lancar. Nyata tidak juga. Persis ditikungan tajam  tiba-tiba mobil di depan saya ngerem mendadak, rupanya mobil depannya juga begitu.  Sebuah Kijang Super merah  tak kuat lagi diajak nanjak. "Beruntung" saya hanya tiga mobil dibelakangnya jadi tidak sampai merasakan kemacetan karena masih sempat ambil kanan dan melaju.


Tapi, seratus meter dari situ, mobil kembali harus tarik rem tangan. Tanjakan tajam seperti ini bila menahan dengan setengah kopling bisa hangus dan urusannya repot. Tak jauh dari situ memang ada tempat wisata Rumah Sosis yang diserbu pelancong dari Jakarta. Padahal, tawaran yang diberikan juga sama : flying fox, berkuda, sepeda air, arena bermain yang hitungannya perjam. Menunya meski spesialis sosis, tapi rasanya juga sama saja. Saya pernah sekali ke sana dan sama sekali tak tertantang untuk kembali.

Jangan mengira perjalanan akan mulus setelah Rumah Sosis. Kemacetan sudah mewabah hingga sepanjang jalan raya Lembang. Mobil hanya maju 50 meter, kemudian berhenti 15 menit. Kadang hanya maju 10 meter berhenti 20 menit. Begitu berulang-ulang dengan jarak dan intensitas berhenti yang berbeda-beda. Bukan saja fisik tetapi juga mental. Apalagi, kemacetan di tanjakan seperti itu butuh stamina dan konsentrasi. Jujur, bukan perkara mudah menghadapi kemacetan di tanjakan.

Kerapatan kendaraan belum juga mereda, hingga dua kilo dari tempat saya menginap di Villa De' Rossa. Bahkan, makin menjadi di tukungan Brebes-disebut demikian karena di sana berjejer warung bermerek Brebes-terus hingga ke persimpangan  Subang-Maribaya-Bandung. Saya memilih lurus arah Maribaya karena hanya 500 dari situ, Villa De' Rossa berada.

Magrib hanya kurang lima menit lagi, ketika saya memasuki sebuah kamar berornamen klasik. Dinding bata yang hanya dicat putih, lantai kamar mandi yang berbatu, perabot serba kayu, serta tanpa AC. Dinginnya kalah jauh dari suhu paling minim di mesin pendingin sekalipun.

Saya merebahkan badan sebentar, sholat Magrib dan bersiap makan malam....(bersambung)