Persahabatan ini terjalin begitu saja. Bukan karena kebetulan aku duduk berpunggungan, lantas bisa berakrab dengan mereka. Dua teman sekelas wanitaku ini memang spesial. Gayanya lugas, cerdas dan ceplas-ceplos. Terkadang juga kritis, tajam pada pokok persoalan. Suka humor, dan ini yang ku suka : wawasannya luas.
Aku tahu mereka ini begitu banyak membaca dari berbagai sumber bacaan. Apa saja bisa dibincangkan dan selalu nyambung. Soal politik, ekonomi apalagi cerita-cerita. Aku kalah jauh. Soal prestasi sekolah, seingatku duet perempuan ini termasuk yang diperhitungkan. Kalian jangan tanya aku soal prestasi sekolah, aku malu.
Satu lagi karib sebangkuku yang juga asik diajak berteman. Ia lebih kecil dariku tapi soal kelincahan tak diragukan. Gesit dalam bergaul dan bisa merangkul, juga beradaptasi dengan mudah pada siapa saja. Kalian tahu, ia yang “menyelamatkanku” ketika teman sebangkuku terdahulu minta pindah tempat duduk, meninggalkanku.
Aku memiliki satu kelemahan utama yang memaksa harus duduk di deretan paling depan. Sejak SMP aku memang begitu. Dengan minus besar, bawaan sejak lahir, aku sulit sekali melihat papan tulis dengan jelas. Alih-alih bisa menjawab pertanyaan guru, membaca soalnya pun sulit. Aku tersiksa betul jika ada kebijakan rolling tempat duduk.
Ketika banyak teman berebut datang pagi untuk pilih posisi duduk di awal ajaran, aku justru paling tenang. Sudah dapat dipastikan jarang ada yang mau duduk paling depan. Kalaupun ada pasti “kecelakaan”. Bagiku justru berkah.
Ketika SMP aku sempat ditinggalkan teman sebangkuku juga. Ia pindah bukan tanpa alasan. Prilakunya yang nakal membuat ia dipindahkan ke kelas lain. Karena sulit diatur, ia akhirnya dikeluarkan dari sekolah. Kabar terakhir yang ku dengar, ia kini sudah almarhum karena kelebihan dosis. Ah, sudahlah aku tak ingin menceritakan aib orang yang sudah tidak ada.
Ada satu kebiasaan kami yang selalu kuingat hingga kini. Karena bosan belajar dan mendengarkan ocehan guru, kami berempat sering ngobrol lewat secarik kertas. Kata-kata berbalas kata-kata. Ada cemooh, canda, gosip, atau informasi gak penting. Tapi kami sering cekikikan. Tawa kami terhenti begitu guru menoleh. Kertas, kami sembunyikan sebisa-bisanya. Kalau aku, paling hobi menyimpan di paha bawah.
Tanpa kami sadari cara komunikasi seperti itu justru efektif. Membuat suasana kelas tidak jemu dan mengikat keakraban. Segala yang sulit diverbalkan, mudah tertuang dalam satu-dua baris kalimat atau kurang. Kami bisa menumpahkan apa saja lewat media itu.
Dua pria dan dua wanita. Inilah kami. Unik karena kebebasan dalam bergaul. Perasaan hati lepas karena masing-masing dari kami bisa menjaga privasi. Aku tahu, dua teman wanitaku ini memang sudah memiliki teman pria yang ditaksir. Aku tahu betul itu. Begitu juga dengan teman sebangkuku yang juga tidak lagi sendiri. Aku, juga begitu. Inilah enaknya bersahabat yang tanpa sekat.
Keakraban ini berlanjut sampai-sampai jika ada di antara kami yang ulang tahun, kami patungan memberi sebuah hadiah. Tidak mahal, tapi sungguh berkesan., Satu kado yang ku ingat betul ketika aku ulang tahun adalah seperangkat alat tulis, lengkap. Pensil isi ulang, pulpen, penghapus juga penggaris. Semuanya berwarna unggu. Entah mengapa mereka memilihkan warna yang tak kusuka. Tapi demi mereka tentu saja aku suka-sukakan.
Sebagai balasan, si penerima kado harus mentraktir kami. Dan, karenanyalah peristiwa itu terjadi.
Dengan berpakaian sekolah yang masih lengkap, kami berangkat menuju Pasar Baru. Naik metromini P10 dari depan sekolah kami turun di Pintu Besi. Panas yang menusuk sirna oleh keceriaan kami. Aku lupa, siapa yang akan mentraktir hari itu. Yang jelas referensi untuk makan mie ayam ini datang dari temanku yang memang gemar mie. Mungkin karena ia seorang keturunan. Kalian pasti sudah pernah dengar, namanya Bakmi Gang Kelinci.
Seumur-umur aku belum pernah ke sana.. Tempatnya di belakangan pertokoan Pasar Baru. Tempatnya memang di gang yang sumpek. Jejal-berjejal dengan rumah-rumah penduduk yang padat. Aku juga tak mempertimbangkan lagi, apakah makanan itu halal atau tidak. Aku percaya saja. Dan harus diakui, mie ayam ini memang benar-benar bisa menggoyang lidah.
Pulang dengan badan yang masih kuyup keringat, kami tidak langsung mencari bus pulang. Tapi, sebentar melihat-lihat keramaian mall. Inilah bodohnya kami. Pergi dengan tidak berganti pakaian. Kami begitu mencolok. Di era yang sedang getol tawuran, kami benar-benar santapan empuk.
Empat pria tanggung, sebaya kami tiba-tiba menghampiriku dan juga teman sebangkuku. Dengan wajah yang disangar-sangarkan, salah seorang dari mereka mencolekku. Ia mendekatkan hidungnya yang bau ke kuping kiriku. Nada ancamannya memang membuat aku takut. Bau alkohol dan keringatnya membuatku mual. Aku bertahan dengan berbagai alasan, ketika mereka meminta sejumlah uang.
Aku tahu mereka juga terjepit karena suasana yang ramai. Aku mengulur waktu. Aku dipaksa ke sudut deretan celana-celana jins tapi kutolak. Aku tetap bertahan. Sekali lagi, aku molorkan waktu. Sayang, tidak demikian dengan teman sebangkuku. Ancaman beralih padanya, begitu mereka melihat ada jam yang melingkar bisa direbut. Siapapun akan menyerahkan barangnya, kalau sudah terjepit seperti itu.
Ia akhirnya merelakan jam hitamnya. Aku mengigil takut. Sungguh, aku tak membayangkan kalau mereka tidak mendapat sesuatu yang tidak diinginkan. Sekali lagi, temanku “menyelamatkan” kami. Meski untuk itu ia harus kehilangan jam tangannya. Lebih beruntung lagi, dua temanku yang lainnya tidak sempat diapa-apakan. Mereka berada dalam jarak yang aman.
Kami pulang dalam kebisuan. Ayunan kaki kami dipercepat, dua langkah-dua langkah. Menghindari mereka yang sebenarnya sudah menghilang. Tapi, ketakutan itu tetap saja sulit dihapus, bahkan hingga di rumah.
Kini, 18 tahun sudah peristiwa itu berlalu. Aku juga tidak pernah lagi menginjakkan kaki ke Bakmi Gang Kelinci. Pengalaman pertama, mungkin juga terakhir.
Ini hanya sekelumit cerita kecil tentang tiga teman-teman baikku semasa SMA. Kapan-kapan akan aku ceritakan lagi cerita lainnya. Aku sungguh tak ingin kehilangan mereka, setelah belasan tahun tak bertemu, meski lewat maya.
Cerita ini bisa saja tidak menarik atau membosankan. Tapi kisah ini adalah sepotong memori yang kurajut dalam kerinduan. Persahabatan itu terlalu berharga untuk dihapus.
Glora: 10:05:2010
Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masa lalu. Tampilkan semua postingan
Minggu, 16 Mei 2010
Senin, 15 Maret 2010
Pendekar Gadungan
Nafasku tiba-tiba sesak. Mataku terbelalak mengumpulkan kekuatan menghalau serangan yang secara mendadak menyerbu dari segala penjuru : belakang, depan, dan dua sisi samping. Lima pemuda tanggung ini seperti hilang akal. Dengan dengus menderus, mereka tanpa ampun bernafsu ingin menerkamku. Tangannya dimaju-mundurkan. Telapaknya tegak lurus diarahkan tepat ke dadaku. Kakinya serempak maju selangkah-selangkah. Mata tajam itu menghunus tepat ke mukaku.
Aku waspada dengan segala kemungkinan. Ekor mataku bergerak cepat ke kiri-ke kanan, agar tak kecolongan. Sesekali aku geser kuda-kuda ke samping. Dari belakang, bisa saja musuhku itu memberikan hajaran mendadak. Waktuku makin sempit. Tidak banyak lagi kesempatan untuk mempertahankan diri. Lengah sedikit, tubuhku bisa-bisa remuk dihajar pemuda tanggung itu.
Aku memejam. Tenaga, ku kumpulkan sebisa-bisanya. Kakiku membentuk kuda-kuda kokoh. Nafas, aku tarik dalam-dalam hingga terpusat di dada. Dua tanganku membentang, kemudian ditelungkupkan di atas kepala, sebelum kemudian kutarik sejajar puting susuku. Huaaaaaaah.........!!! Suaraku menggelegar bersamaan dengan hentakan kaki kiriku dan dorongan dua telapak ke arah depan, juga samping. Aku juga memutar ke arah belakang.
Gubraggggggk....Bragggg!!! satu-satu musuhku lantak ke bumi. Ada satu-dua yang mencoba bangkit. Ku hentak lagi. Ia terhuyung-huyung, sebelum akhirnya tergeletak. Mereka kehabisan nafas.....
***
Aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja. Karena kebetulan saja aku dan lima kawan IntanSatuku dulu aktif di mesjid. Adalah pembina remaja mesjid yang mengajak kami menuntut ilmu bela diri bergaya gaib seperti itu. Dulu, ketika kami masih anak-anak dan bersekolah SD, kami pernah juga belajar bela diri Tapak Suci, tapi tidak pernah tuh diajari seperti itu. Aneh, sekaligus menantang. Tawaran untuk bergabung pun kami amini.
Keanehan perguruan silat ini sebenarnya sudah muncul sejak awal. Ketika kami dibaiat, sang Guru mengisi ilmu ke dalam tubuh kami. Tubuhku ketika itu bergeletar hebat. Tanganku seperti kesetrum. Yang menakjubkan, tanganku bisa bergerak-gerak sendiri. Batang leherku seumpama mainan Yogya, bergodek-godek sulit dihentikan.
Itu belum seberapa, beberapa kawanku yang mendapatkan giliran sebelumnya bahkan bertingkah seperti maung. Mengaum, berguling, mirip betul macan yang sedang birahi. Kami terkekeh mencermati kelakuannya.
Nah, ini yang membuat kami rada ragu. Di tiap-tiap akhir baiat, kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang. Masing-masing orang berbeda rupiah.
Aku ketika itu dikenakan Rp 150-ribuan. Gilaaaa!!! uang sebanyak itu dari mana. Untuk bayar uang semesteran saja sudah empot-empotan. Kawanku yang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Yang membuatku geli, darimana sang Guru mendapatkan jumlah itu. Katanya,ia mendapatkan telepati dari 'atasannya'. Hmmm,....aku masih sulit menerima. Baik secara definitif maupun kuantitatif.
Kami juga diberikan keringanan. Uang baiat bisa dicicil. Hahhh?? seperti bayar kredit panci keliling aja, ya. Bedanya, ini bisa dibayar kapan saja. Tetap saja aku sulit menyanggupi. Tapi kami tak terlalu serius menanggapinya. Latihan sih jalan terus. Dan, syukurnya, karena sering aktif di mesjid, lantai dua yang sering kosong, bisa dijadikan arena pertempuran. Hanya sekali-dua kalau tak salah kami mengikuti pertemuan masal sesama saudara seperguruan. Itupun tak sampai berjumpa dengan sang Guru Besar.
Hingga kami hengkang, rasanya tak satupun dari kami yang memenuhi janji untuk membayar uang muka itu. Itu barangkali yang membuat ilmu ini tersendat ditransfer meski sering dilatih. Tapi aku heran meski tubuhku seperti tidak ada kesaktian mengapa kawan-kawanku terpelanting sampai beruling-guling kalau aku hentaak???
Baik, aku akui saja di sini. Ketika posisiku sebagai penyerang, sejatinya aku tak merasa ada penghalang, tepat ketika kawanku sebagai objek menghentak-hentakan kaki atau teriak-teriak. Kalau mau, aku bisa saja terus maju dan memukul kawanku yang sedang kesumat dengan mudah. Tapi tindakan ini tentu tidak etis toh??
Tapi demi solidaritas, aku ikut berguling-guling. Dan, akting itu aku lakoni selama kami latihan. Ada dua alasan. Aku berupaya empati terhadap kawanku yang tentu ingin sekali terlihat sakti. Kedua, aku juga ingin dong dianggap sakti. Kalau aku tidak berguling-guling, jangan-jangan mereka juga enggan pula berguling-guling kalau aku serang.
Aku tak ingat, mengapa kami akhirnya benar-benar berhenti dari perguruan itu. Bosan bersandiwarakah? atau memang instink kami saja yang tak bisa menerima hal-hal tak masuk diakal seperti itu. Apa mereka punya alasan lain? tanya saja langsung...
Bojong Kulur: 15:03:2010
Aku waspada dengan segala kemungkinan. Ekor mataku bergerak cepat ke kiri-ke kanan, agar tak kecolongan. Sesekali aku geser kuda-kuda ke samping. Dari belakang, bisa saja musuhku itu memberikan hajaran mendadak. Waktuku makin sempit. Tidak banyak lagi kesempatan untuk mempertahankan diri. Lengah sedikit, tubuhku bisa-bisa remuk dihajar pemuda tanggung itu.
Aku memejam. Tenaga, ku kumpulkan sebisa-bisanya. Kakiku membentuk kuda-kuda kokoh. Nafas, aku tarik dalam-dalam hingga terpusat di dada. Dua tanganku membentang, kemudian ditelungkupkan di atas kepala, sebelum kemudian kutarik sejajar puting susuku. Huaaaaaaah.........!!! Suaraku menggelegar bersamaan dengan hentakan kaki kiriku dan dorongan dua telapak ke arah depan, juga samping. Aku juga memutar ke arah belakang.
Gubraggggggk....Bragggg!!! satu-satu musuhku lantak ke bumi. Ada satu-dua yang mencoba bangkit. Ku hentak lagi. Ia terhuyung-huyung, sebelum akhirnya tergeletak. Mereka kehabisan nafas.....
***
Aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja. Karena kebetulan saja aku dan lima kawan IntanSatuku dulu aktif di mesjid. Adalah pembina remaja mesjid yang mengajak kami menuntut ilmu bela diri bergaya gaib seperti itu. Dulu, ketika kami masih anak-anak dan bersekolah SD, kami pernah juga belajar bela diri Tapak Suci, tapi tidak pernah tuh diajari seperti itu. Aneh, sekaligus menantang. Tawaran untuk bergabung pun kami amini.
Keanehan perguruan silat ini sebenarnya sudah muncul sejak awal. Ketika kami dibaiat, sang Guru mengisi ilmu ke dalam tubuh kami. Tubuhku ketika itu bergeletar hebat. Tanganku seperti kesetrum. Yang menakjubkan, tanganku bisa bergerak-gerak sendiri. Batang leherku seumpama mainan Yogya, bergodek-godek sulit dihentikan.
Itu belum seberapa, beberapa kawanku yang mendapatkan giliran sebelumnya bahkan bertingkah seperti maung. Mengaum, berguling, mirip betul macan yang sedang birahi. Kami terkekeh mencermati kelakuannya.
Nah, ini yang membuat kami rada ragu. Di tiap-tiap akhir baiat, kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang. Masing-masing orang berbeda rupiah.
Aku ketika itu dikenakan Rp 150-ribuan. Gilaaaa!!! uang sebanyak itu dari mana. Untuk bayar uang semesteran saja sudah empot-empotan. Kawanku yang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Yang membuatku geli, darimana sang Guru mendapatkan jumlah itu. Katanya,ia mendapatkan telepati dari 'atasannya'. Hmmm,....aku masih sulit menerima. Baik secara definitif maupun kuantitatif.
Kami juga diberikan keringanan. Uang baiat bisa dicicil. Hahhh?? seperti bayar kredit panci keliling aja, ya. Bedanya, ini bisa dibayar kapan saja. Tetap saja aku sulit menyanggupi. Tapi kami tak terlalu serius menanggapinya. Latihan sih jalan terus. Dan, syukurnya, karena sering aktif di mesjid, lantai dua yang sering kosong, bisa dijadikan arena pertempuran. Hanya sekali-dua kalau tak salah kami mengikuti pertemuan masal sesama saudara seperguruan. Itupun tak sampai berjumpa dengan sang Guru Besar.
Hingga kami hengkang, rasanya tak satupun dari kami yang memenuhi janji untuk membayar uang muka itu. Itu barangkali yang membuat ilmu ini tersendat ditransfer meski sering dilatih. Tapi aku heran meski tubuhku seperti tidak ada kesaktian mengapa kawan-kawanku terpelanting sampai beruling-guling kalau aku hentaak???
Baik, aku akui saja di sini. Ketika posisiku sebagai penyerang, sejatinya aku tak merasa ada penghalang, tepat ketika kawanku sebagai objek menghentak-hentakan kaki atau teriak-teriak. Kalau mau, aku bisa saja terus maju dan memukul kawanku yang sedang kesumat dengan mudah. Tapi tindakan ini tentu tidak etis toh??
Tapi demi solidaritas, aku ikut berguling-guling. Dan, akting itu aku lakoni selama kami latihan. Ada dua alasan. Aku berupaya empati terhadap kawanku yang tentu ingin sekali terlihat sakti. Kedua, aku juga ingin dong dianggap sakti. Kalau aku tidak berguling-guling, jangan-jangan mereka juga enggan pula berguling-guling kalau aku serang.
Aku tak ingat, mengapa kami akhirnya benar-benar berhenti dari perguruan itu. Bosan bersandiwarakah? atau memang instink kami saja yang tak bisa menerima hal-hal tak masuk diakal seperti itu. Apa mereka punya alasan lain? tanya saja langsung...
Bojong Kulur: 15:03:2010
Langganan:
Postingan (Atom)