Rabu, 10 Maret 2010

sajak harmoni

gunung gemar menusuk awan
kutanya bagaimana bisa tetap damai

tebing hidup bersama terjal
kau kagum dua yang saling melengkapi

hujan beriringan dengan badai
kuragu diantaranya menyelingkuhi

laut selalu beriak dengan ombak
kau pun heran harmoni di keduanya

di ujung cerita aku dan kamu berdampingan
kita lantas tersenyum apa mampu seperti mereka

Gelora: 10:03:2010

Selasa, 09 Maret 2010

Java Jazz Kampungan!!!

Perhelatan besar tak selamanya menyajikan kepuasan. Sebut saja acara tahunan Java Jazz Festival Internasional yang digelar 5,6,7 Maret lalu. Memang, panitia berhasil mendatangkan super artis dari dalam dan luar negeri. Jagad kemayoran dibuat goyang oleh gemerlap dan degupan musik jazz dari balik-balik panggung.

Para pengunjung dipaksa untuk mengikuti selera musik jazz atau yang dijazz-jazz-kan. Entah apakah ribuan penonton yang memadati Kemayoran Ekspo itu mengerti apa yang akan mereka tonton. Saya curiga mereka hanya terbawa arus, atau ikut-ikutan agar bisa dibilang berkelas. Maka, harga Rp 240 ribu terasa ringan. Saya juga tidak habis mengerti dari mana para ABG yang ikut meramaikan pentas akbar jazz itu mendapatkan uang. Barangkali bagi sebagian orang uang ratusan ribu sangatlah berarti, mungkin tidak bagi mereka yang doyan keramaian. Bahkan, bisa jadi harga itu terlalu ringan!

Pantia memang pintar menjaring penonton. Dipasanglah artis pop, macam Glen Fredly juga Andre Hehanusa. Dari luar negeri ada Baby Face. Orang dibuat histeria untuk sesuatu yang, barangkali setahun sekali didapati. Saya coba memasuki histeria itu, tetapi gagal, dan justru kecewa berat.

Panitia sama sekali tidak profesional, kampungan dan sangat-sangat menyebalkan. Saya coba antri untuk masuk ke hall A2 dimana Glen akan pentas. Sejak jam 21.30 saya sudah berjejal di muka pintu, yang sebenarnya masih cukup jauh. Ratusan orang sudah mengular di belakang. Tetapi hingga pukul 22.00, Sabtu malam itu, tepat dimana Glen akan menyanyi pintu tidak juga dibuka. Saya paham, orang-orang ini kesal, tetapi mungkin jaga gengsi. Mereka semua bungkam. Seperti terhiponitis orang-orang ini. Sampai 35 menit mengantri tidak ada kejelasan, kok, masih saja diam.

Saya yang berada jauh dibelakang dari penjaga pintu terpaksa teriak, minta informasi. Hanya informasi, bukan memaksa, meski sebenarnya pantas juga kalau saya menuntut itu. Sekali lagi, saya tidak menuntut untuk masuk, saya hanya butuh kejelasan. Titik.

Kalau memang di dalam sudah sesak, saya akan memilih pertunjukan lain. Saya ini bukan penggila Glen. Saya hanya ingin saja menonton artis hitam itu menyanyi. Bodohnya, ratusan orang yang mengantri diam saja. Ketika saya teriak dengan lantang, beberapa orang coba mengikuti. Tapi hanya sebentar. Protes mereka berbeda : mereka menginginkan masuk karena sudah banyar cukup mahal. Tapi saya tidak, saya hanya menuntut kejelasan. Itu saja!

Tapi panitia Java Jazz yang ada di depan pintu itu seperti orang tolol dan dungu. Ia hanya memberi isyarat dengan tangan disilang-silang. Mungkin maksudnya penonton tidak dapat masuk lagi. Tapi, mestinya ada penjelasan mengapa mereka tidak bisa masuk. Benar-benar panitia dungu…

Saya akhirnya memutuskan tidak jadi nonton Glen. Saya sungguh tidak menyesali keputusan itu, karena setengah jam kemudian, saat akan pulang saya masih melihat antrian setia mengular. Saya hanya mengira-ira, pantia-panitia dungu itu masih saja tidak memberikan informasi jelas. Kalau sudah tentu mereka sudah bubar, atau kalau dibuka lagi mestinya antrian bergerak.

Penonton tidak mendapatkan hak semestinya. Informasi jadwal saja harus dibeli sepaket dengan sebuah majalah musik seharga Rp 20 ribu. Konyol betul. Pengunjung hanya membutuhkan jadwal, tidak majalahnya. Tapi mereka dipaksa dengan kondisi. Beberapa orang terpaksa membeli dan sebagian lagi memfotonya di dinding-dingin yang menempel terbatas di booth informasi. Saya kecewa berat!!! []

Gelora: 09:03:2010

Bara Itu Berinitial C

Anda boleh kaget, atau silahkan geleng-gelengkan kepala. Sebuah kerja tiga bulan yang menyita begitu banyak biaya, energi dan perhatian berhenti di titik C. Pansus Century yang semula diharapkan dapat memberikan banyak kejelasan soal silang sengkarut, sakwaksangka, tuduhan dan saling ancam hanya dijelaskan oleh satu huruf : C.

Untuk mendapatkan huruf C juga bukan perkara mudah. Kita harus menyaksikan para wakil rakyat yang terhormat itu unjuk urat moral di hadapan publik. Tindak laku mereka sungguh menggelikan dan lucu. Menggemaskan dan terkadang menjijikkan. Norak, kampungan. Padahal, mereka hadir di sidang itu tidak gratis. Satu kali datang di Paripurna selama dua hari, pada Senin dan Selasa itu cukup besar lho. Mencapai Rp 5 milyar!

Data yang dicuplik dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyebutkan, untuk ketua DPR honor seharinya mencapai Rp 6 juta. Sedangkan untuk empat wakil ketua yang jumlahnya empat kepala selama dua hari mencapai Rp 22 juta. Bagi anggota DPR yang jumlahnya 426 orang, negara harus merogoh sebesar Rp 2,1 milyar. Itu artinya, masing-masing dari mereka saat beraksi panggung di Senayan itu dibayar Rp 5 juta perhari. Memang murah jika dibandingkan dengan artis yang kalau show langsung bisa mencapai puluhan juta untuk beberapa menit saja.

Yang membuat geli, rekomendasi Pansus Century untuk opsi A yang menerima langkah bailout dan opsi C yang mempersalahkan pemerintah, coba dipadukan dalam opsi A plus C. Dua kebenaran versi yang coba dicampuradukkan. Kacau!!.

Coba anda pikir, bagaimana sebuah kebenaran harus divoting dan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Kebatilan coba disamar-samarkan dengan kebenaran. Apakah air zamzam yang suci itu bisa tetap sakral dan enak diminum serta halal jika dipadukan dengan alkohol. Sensasinya mungkin dapat, tapi apakah kebenaran dan kebatilan bisa seenak-enaknya saja dipersatukan.

Konyolnya lagi, jika sebuah kebenaran dilandaskan atas sebuah kepentingan dan suara terbanyak. Kalau itu yang dianut, dunia bisa rusak. Nilai-nilai kemanusiaan bisa saja bergeser ke arah selera. Padahal, selera belum tentu bisa sesuai pada peradaban. Kebenaran tidak bisa divoting dan ditentukan oleh segelintir orang. Makanya, saya sejak awal tidak terlalu tertarik dengan ribus-ribut Century terlebih setelah rekomendasi dibuat berdasarkan voting. Aneh,…

Sekarang, kebenaran versi voting sudah keluar. Dan, kesepakatan politik itu memang memiliki kekuatan hukum. Pemerintah akan tersandera oleh huruf C. Tapi, tanpa ada pansus yang menguras energi berhari-hari pun sebenarnya pemerintah sejak awal memang menginginkan kesalahan diteruskan ke jalur hukum. Dan, bukankah itu diinginkan Pansus?

Cuma memang, tanpa desakan kuat barangkali pengusutan skandal ini tetap dipertanyakan. Yang membuat saya khawatir sebenarnya persoalan kredibilitas pemerintah. Rekomendasi jelas menyebutkan Boediono dan Sri Mulayani Indrawati dianggap yang palig bertanggung-jawab.

Meski Presiden telah pasang badan, dengan mengatakan kebijakan bailout benar, tetap saja ada bara dalam sekam. Lihatlah, beberapa saat sejak pidato tanggapan disampaikan SBY, segala protes tetap muncul. Aksi protes terhadap Sri Mulyani dan Beodiono tetap kencang disuarakan.

Beberapa elit saya yakin akan pasang strategi baru untuk terus menggoyang-goyang. Jelas, mereka tidak puas jika hanya menyelesaikan Century lewat jalur hukum. Harus ada imbas politik terhadap kasus ini. Beberapa diantaranya ada yang menyuarakan agar DPR mengajukan hak pendapat : sebuah hak yang dekat dengan proses pemakzulan.

Kelihatannya energi bangsa ini masih akan terkuras untuk beberapa bulan ke depan setelah ada jeda sejenak. Padahal, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengangkat segera rakyat dari kesulitan

Kasus Century mungkin reda tapi belum padam. Ada sisa bara yang siap disulut kapanpun. Itu akan sangat tergantung kepentingan dan momen yang tepat. Jadi, skandal ini jauh dari selesai. []

Gelora : 08:03:2010

Selasa, 02 Maret 2010

Mengalahkan Kemiskinan Lewat UKM

Kunjungan Proyek-proyek ADB (2-Habis)

Kemewahan di sebuah kota besar selalu menyembunyikan kemelaratan dan kemiskinan. Pun begitu yang terjadi di Manila, Filipina. Hamparan gedung bertingkat mungkin akan mudah ditemui di pusat kota. Tetapi coba bergeser beberapa kilometer ke selatan Manila, kesemrawutan rumah penduduk miskin mudah di Jumpai.

Saat Bali Post berkunjung ke salah satu perkampungan kumuh di Alabang, sungguh dikejutkan dengan suasana yang mirip kehidupan pinggiran Jakarta. Lorong sempit yang lebarnya tak lebih dari 1,5 meter, rumah semipermanen berdempetan, got hitam penuh sampah, bau, penduduknya bergerombol di pos gardu sambil bertelanjang dada. Dan, anak-anak yang asyik bermain bola di sebuah lapangan basket, ditemani anjing dan burung yang membuang kotoran sembarangan. Di sudut lain, beberapa anak muda khusyu menghitung togel.

Kondisi ini sesungguhnya tak mengherankan. Sebab, angka kemiskinan di Filipina tergolong tinggi. Data 2007 menyebutkan, terdapat 27,6 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dari total populasi 88,6 juta atau 31 persen. Bila dilihat per KK-nya maka yang tergolong miskin mencapai 27 persen atau 4,67 juta KK dari 17,4 juta KK. Tingginya angka kemiskinan ini terjadi sejak puluhan tahun lalu. Sedangkan batas kemiskinan yang ditetapkan pemerintah Filipina sejak 2006 adalah warga yang berpenghasilan di bawah Rp 3.720.000 per tahun.

Namun, ada yang membedakan di perkampungan kumuh yang ditempati 1.000 KK itu. Di sudut gang, sebelah barat lapangan basket berkumpullah 35 ibu-ibu dari keluarga miskin. Selasa siang pekan lalu itu, mereka mengadakan rutin mingguan dalam suasana hangat di sebuah ruang kelas TK berukuran tak lebih dari 5x6 meter persegi. Topik yang dibicarakan tak main-main yakni membahas pengembangan usaha mikro produktif.

Langkah ini mereka lakukan untuk bisa tetap bertahan hidup. Menurut pengakuan July Cuyoca (45), para ibu rumah tangga miskin bergabung membentuk perkumpulan yang biasa disebut Center, ata dorongan lembaga keuangan mikro pro pengentasan kemiskinan, ASHI.

Melalui Center, berbagai ibu rumah tangga miskin mendapatkan bantuan pinjaman pengembanga usaha mikrodari Rp 1,24 juta sampai Rp 4,96 juta dengan jangka waktu pengembalian enam bulan hingga setahun. Sedangkan bunga yang ditetapkan seperti BPR di Indonesia, yakni 25 persen per tahun.

Berdasarkan pengalaman July, dari Center ia mendapatkan bantuan pinjaman Rp 1,24 juta dengan jangka waktu 25 minggu. Selanjutnya dana itu ia gunakan untuk bisnis penjualan hasil bumi seperti kacang yang dibeli dari kota lain, Baguyo, ketempat tinggalnya sehingga mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga. "Ini sangat membantu. Kalau rentenir bunganya bisa mencapai 20 persen per bulan," katanya.

Center didirikan tahun 2000 dengan anggota hanya lima orang. Dinilai sangat bermanfaat, kini jumlahnya menjadi 35 orang,yang terbagi dalam tujuh kelompok usaha. Pertemuan tidak hanya menjadi tempat untuk membayar cicilan dan mendapatkan pinjaman. Tetapi, yang jauh lebih pentingjuga dibicarakan strategi bisnis dan silaturahmi.

Hal lain yang membuat Center diminati adalah sistem pinjaman yang melandaskan pada kepercayaan, karena tidak diperlukan jaminan seperti di bank. Namun, untuk menjaga profesionalitas dan kepercayaan ibu rumah tangga penerima pinjaman harus memiliki kepribadian baik dan serius ingin berusaha membantu ekonomi keluarga, dan mereka digabungkan dalam satu kelompok sebagai mekanisme pengawasan antar ibu rumah tangga.

Lembaga pendanaan kecil ini juga mengharuskan anggotanya menabung Rp 3.720/minggu. Sebagian untuk premi ata utang jika anggotanya meninggal, dan untuk membiayai pemakaman anggota atau keluarga anggota yang meninggal dunia. Hingga Januari 2009, pinjaman ibu rumah tangga di Center mencapai Rp 79,6 juta. Sedangkan dana simpanan mencapai Rp 29 juta.

Manajer cabang ASHI South Manila Nolie C Libng mengakui, tujuan utama didirikannya ASHI sejak 1989 adalah untuk menolong penduduk Filipina yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selanjutnya, pada 1991, lembaga ini mendapatkan pengesahan dari pemerintah. Selain itu, keberadaan lembaga ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, salah satunya Bank Pembangunan Asia atau ADB.

Untuk memperluas jangkauan ASHI membentuk cabang di sejumlah provinsi yang kini telah mencapai 20 cabang. Dari 20 cabang tersebut, masing-masing memiliki 50 Center dengan jumlah penduduk yang diberdayakan mencapai 15 ribu jiwa. Pendanaan didapat dari berbagai sumber seperti dari perusahaan pembiayaan untuk pengentasan kemiskinan, People's Credit and Finance Corporation (PCFC).

Sementara salah satu sumber dana PCFC adalah ADB yang berkantor pusat di Manila. Lembaga multilatera ini menggelontorkan dana pinjaman pengembangan usaha produktif warga miskin melalui PCFC sekitar RP 416,4 miliar.

Bali Post : 11:03:2009

Senin, 01 Maret 2010

Vietnam yang Mulai Terbuka

Kunjungan ke Proyek-Proyek ADB (1)

Bagi sebagian orang, Vietnam dianggap sebagai negara yang menakutkan karena demokrasi tidak berjalan. Kekuatan partai tunggal yang begitu besar memang bisa menjadi "tangan besi" yang mengungkung hidup rakyatnya. Benarkah? Berikut laporan wartawan Bali Post Ahmadi Supriyanto ketika mengunjungi beberapa proyek ADB (Asian Development Bank) di Manila dan Vietnam (Saigon) 1 hingga 7 Maret 2009 lalu.

VIETNAM kini telah mengalami perkembangan begitu pesat. Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan penuh semangat. Jalan tidak saja mengalami pelebaran badan jalan tetapi juga kualitas. Beberapa jembatan penting yang melancarkan arus barang dalam pengerjaan akhir. Tak heran jika investor mulai melirik negara sosialis ini. Selain soal infrastruktur, Vietnam berusaha memaksimalkan kelebihan yang dimiliki.

Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Pitono Purnomo mengatakan, upah buruh di Vietnam yang murah dan relatif tingginya tingkat keamanan menjadi faktor penting daya tarik Vietnam. Bisa dikatakan, buruh di Vietnam tidak penah mogok kerja apalagi unjuk rasa.

Hal ini diamini Sales and Marketing Manager Namhoa Corporation Nguyen Thanh Hu. Perusahaan yang mendapatkan dana dari penerusan pinjaman dari ADB ini memberikan upah Ro 900 ribu-Rp 1,32 juta/bulan. Meski begit bukan berarti produktifitas mereka rendah. Dengan dukungan 900 pekerja, Namhoa yang berlokasi di sekitar Ho Chi Minh City (HCMC) ini mampu memproduksi lima juta item mainan edukatif dari kayu/tahun dengan pangsa pasar luar negeri seperti Jepang (30 persen), Korsel dan Eropa (20 persen) dan sisanya ke AS dan pasar domestik.

Ho Chi Minh City merupakan pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan utama di Vietnam. Serta, memberikan kontribusi yang besar terhadap ekonomi Vietnam. Pada 2008, pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 11 persen atau jauh melampaui pertumbuhan ekonomi Vietnam 6,23 persen. Sementara, produksi domestik bruto kota dan pendapat per kapita kota ini tahun lalu mencapai 17,33 miliar dan 2.534 dolar AS.

Data Konjen RI di HCMC menyebutkan, HCMC merupakan kota tersebar di Vietnam dan berada di sebelah Selatan Vietnam dekat delta Mekong, sebelumnya, bernama Prey Nokor yang merupakan dermaga utama Kamboja sebelum direbut Vietnam pada abad ke-17. Kemudian bernama Saigon dan menjadi ibu kota koloni Prancis Cochincina dan kemudian ibu kota Vietnam Selatan dari tahun 1954 sampai dengan 1975. Pada tanggal 1 1 Mei 1975 Saigon digabung dengan provinsi sekitqar Gia Dinh dan berubah menjadi Ho Chi Minh City.

Sebagai kota bisnis utama di Vietnam, pemerintah pusat menempatkan perangkat pemerintah yang kuat di HCMC, dimana tercatat adanya 15 kantor perwakilan kementerian negara, termasuk Kementrian Luar Negeri dan 25 kota pelaksana kedinasan untuk melayani semua keperluan terutama yang berkaitan dengan pihak asing. Di HCMC juga terdapat 36 perwakilan asing tingkat Konsultan Jendral dan Konsul Jendral Kehormatan, disamping 17 asosiasi bisnis asing.

Bagi Indonesia, Vietnam merupakan pasar sangat potensial, khususnya untuk produksi industri ringan, seperti spare-part motor dan knalpot juga elektronik. "Pengusaha Indonesia masih punya baik di sektor ini," tandasnya.

Alasannya,menurut Pejabat Administratif Konjen RI di HCMC C, Oyon Cahyono Sirat, pengguna sepeda motor di negeri itu sangat tinggi.Sebagai contoh di HCMC, dari 6,8 juta penduduk, populasi motor mencapai 3,5 juta. Sedangkan pengguna mobil terbatas karena harganya yang tinggi juga diterapkannya pajak progresif untuk mobil.

Untuk mendorong UKM bisa berinvestasi di Vietnam, Kedubes RI, menurut Pitono, siap memberikan fasilitas pendukung ekspor bagi pengusaha Indonesia. Di antaranya membiayai analisa pasar terkait industri ringan. Ini bertujuan agar pengusaha bisa mengetahui karateristik dan kebutuhan pasar industri ringan di Vietnam. Fasilitas lain yang siap disediakan Kedubes RI adalah membuka akses kepada berbagai pengusaha di Vietnam.

Hal ini dilakukan dengan menghubungkan pengusaha Indonesia dengan Kadin setempat. Data Konjen RI menyebutkan, total perdagangan Indonesia dan Vitenam tahun lalu mencapai 2,5211 miliar dolar AS. Ekspor dari Indonesia ke Vietnam 2008 tercatat 1,728 miliar dolar AS atau naik 27,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, impor dari Vietnam Indonesia tahun lalu tercatat 793,1 juta dolar AS atau turun 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya []

Bali Post : 10:03:2009

Kantuk

pergi sana kubelum butuhmu
boleh lihat sebentar lalu cepatlah berpaling
jangan coba datang kalau kutakminta

ah, pasti kau bohong lagi
belum sebentar kuminta kau ingkar
tuhkan, mengapa kau menyergapku?

kubilang tunggu sampai aku sesambatmu
tubuhku masih kokoh
cakarku kuat menghujam bumi

lihat, lihat dengan jelas putik mataku
apa kau dapati sudah layu
belumkan?

makanya, pergi sana kubelum butuhmu
nanti, nanti kaukan tahu kapan saatnya
bukan sekarang, tidak saat ini

gelora : 02:03:2010

Selasa, 23 Februari 2010

Tragedi di Pagi Buta

SEBAGAI anak tertua, Barkah, dibebani berupa kewajiban. Baik tertulis apalagi yang tidak. Garis wajahnya jelas sekali bahwa dipundaknya syarat beban yang harus dibawa. Ia boleh tidak suka, tapi kondisi memaksanya. Menolak sama saja mengkhianati Tuhan, yang mentakdirkannya lahir lebih awal dari empat adiknya yang semuanya lelaki.

Bapaknya hanya buruh panggul di pasar. Kian hari, tubuh ceking itu makin bungkuk saja. Tidak cuma beras, tapi juga sekarung kentang, kubis, singkong, sayuran,  terkadang malah besi bekas. Kebetulan lokasi tempat Saukani mangkal berdekatan dengan dermaga tua. Ia sulit menolak permintaan yang datang padanya. Bahkan, ketika ia diminta untuk membawa karung basah ke sebuah mobil bak terbuka di satu pagi yang buta, ia siap.

Naif atau bodohkan Saukani, hingga ia sulit membedakan mana bau anyir daging ikan dan tubuh busuk  manusia. Bukan cuma satu karung goni, tapi dua. Dua karung yang dibawa Saukani dalam pagi buta yang berbeda. Otaknya terlalu lurus. Ataukah  saraf di batok kepalanya hanya mengenal satu sensor saja : uang.
Di saat pria berkumis seperti palang kereta itu memberinya order secara mendadak selepas isya, Saukani tak sempat bertanya, atau dihalang-halangai bertanya. Ia dipojokkan oleh iming-iming bayaran besar untuk sebuah pekerjaan mudah yang dilakoninya tiap hari. Jadi, buat apa membantah, toh, yang penting keluarga besok bisa tetap makan. Keluguannya membawa malapetaka yang kelak disesalinya seumur hidup.

Saukani dicokok aparat kepolisian, selang tiga hari sejak ia membawa karung basah yang kedua di pagi buta yang kedua. Matanya mendadak loncat, dadanya sulit ditegakkan ketika dua polisi memaksanya bangkit dari dipan reotnya. Perlakuan dua pria bersergam coklat itu tegas bahkan terlalu tegas untuk menghadapi pria kerempeng yang cuma mengenakan kaos oblong bolong-bolong dan celana kolor hijau yang robek di selangkanganya.

Bukan cuma Saukani yang terperanjat. Istrinya juga sontak terkaget, saat didapati rumahnya sudah dikepung puluhan polisi, lengkap dengan senjata, beberapa mobil yang diatasnya dilengkapi lampu mutar serupa di ruang disko. Maimunah, ingin sekali membekap Saukani dan menariknya masuk lagi ke rumah. Sayang, tenaganya hilang mendadak tertahan batuknya yang sudah lima tahun ini menemaninya.

Di pagi buta itu, suara seraknya kalah oleh TBC-nya yang bahkan untuk kesekian kalinya bercampur darah kental. Siapa yang peduli dengan wanita rusuh berpenyakit seperti itu. Para tetangga yang gemar keramaian apalagi berbau tragedi, dan juga aparat justru bergerak menghindar. Mereka tentu saja takut tertular. Lalu, mana Barkah? semestinya sebagai anak tertua lebih bisa berperan penting. Paling tidak, memberikan penjelasan atau usaha apalah agar bapaknya tak diseret ke kantor polisi.

Tubuh Bakrah yang invalid akibat kecelakaan tiga tahun lalu itu malah keras mencengram guling. Entah karena takut atau memang sulit bergerak cepat. Kiri kakinya lebih menggantung karena urutan tradisional oleh mbah dukun di pangkal paha tidak sempurna.

Cacat Barkah sebenarnya karena ulah Saukani sendiri. Kala itu ia bersama tiga rekannya tengah menuruni sebuah besi tua sebesar tubuh orang dewasa, bekas badan kapal yang hampir karam. Barkah yang gila babi, mendadak kelojotan. Seluruh tubuhnya mengejang. Kaki, tangan, badan, batang leher sekejap tegap di tanah. Mulutnya mengeluarkan busa. Matanya mendelik-delik.

Saukani yang mengajak Barkah siang itu, tentu saja panik. Ujung besi yang menjadi bebannya dilepas begitu saja. Tak menyadari, posisi Barkah persis di belakang kanannya.  Besi sebarat seribu kilogram itu menimpa pangkal pahanya. Tidak sampai remuk, karena hanya satu sisi dari besi itu saja yang menimpali.

Saukani juga tidak pernah tahu, dari mana penyakit itu diturunkan. Setahu dirinya, kakek-buyutnya dan garis atas keturunan dari dia atau istrinya tak ada yang pernah mengidapnya. Para tetangga yang senang dengan penderita orang lain seringkali bergunjing. Sudah sejak lama, Barkah dijauhi begitu kedapatan ia sering berkelejatan. Tak mengenal tempat dan waktu. Pertolongan selalu datang terlambat. Tidak ada satupun para tetangga yang turun tangan. Keluarga Saukani diisolasi sosial dengan beragam alasan.

Barkah tumbuh sebagai anak mandiri. Besar dalam banyang-bayangnya sendiri. Teman sebayanya, sejak lama menghilang. Bukan saja karena dilarang, tapi takut jika tiba-tiba Barkah kumat. Anak-anak itu tentu tak ingin tertular. Keterbelangan masyarakat membuat informasi terhambat, juga menyesatkan. Penyakit menyeramkan selalu saja dihubungkan garis keturunan. Dan juga mewabah. Berbagai saran para tetangga agar Barkah dislameti ditolak mentah-mentah Saukani.

Sebagai bekas karyawan swasta Saukani sedikit banyak paham soal penyakit yang diderita anak pertamanya. Yang diidap Barkah bukanlah keturunan atau bisa menular. Ia hanya terserang penyakit kelainan pada jaringan otak. Mungkin saja, ketika istirnya hamil, Maimunah, kekurangan gizi. Sebagai pengangguran, Saukani kerja serabutan. Apa saja dikerjakan untuk istrinya yang tengah berbadan dua.

Upaya itu ternyata  masih kurang, dan itu terjawab sekarang : otak Barkah tumbuh secara kurang sempurna.Tapi, lingkungannya memaksa ia menerima pakem yang sudah turun-temurun. Saukani digiring pada opni itu, tanpa bisa menolak. Tragisnya, ia kini menyakini alur salah itu.

Barkah sudah terlanjur hidup diimajinya sendiri. Ia bukan sedeng. Bahkan, ia heran mengapa orang bisa bekerja di luar alam pikirnya. Barkah juga masih sanggup berkomunikasi lancar dengan orang. Tapi, tiba-tiba bisa mendadak melenceng dengan idenya sendiri. Soal tugas dan tanggung-jawab ia mengerti betul. Ada rasa iba, juga senang. Ia menerima dengan sabar ketika diajak Saukani bekerja demi tambahan uang dapur untuk bisa menghidupi ibu dan tiga adik laki-lakinya.

Tenaganya imbang dengan kecepatan berfikirnya. Masalahnya adalah ia sulit merajut logika. Sukar menerka-nerka arah pikiran orang. Informasi diserap mentah-mentah. Maka, ketika ia berdialog dengan pria berkumis seperti palang kereta itu, seminggu lalu, Barkah begitu antusias. Barkah terbawa arus perbincangan yang menyeretnya pada sebuah konspirasi.

Pria berkumis seperti palang kereta itu, paham sekali bagaimana menggiring Barkah, dan membawanya pada kejahatan tak terampunkan. Barkah menerima pekerjaan ini hanya satu alasan : bisa membantu meringankan beban Saukani dan ibunya. Adik-adiknya butuh pendidikan, meski ia sendiri tak sampai tamat SMA.

Barkah sungguh  tidak menyadari bahwa imbalan besar itu untuk membunuh dua orang, yang rupanya berasal dari sepasang kandidat kades. Barkah tidak paham politik, apalagi intrik-intriknya. Ia hanya tahu bagaimana para kandidat itu mengumbar janji. Memberikan pekerjaan layak bagi seperti dirinya. Membantu berobat keluarga miskin, agar ibunya bisa segera sembuh dari TBC. Atau agar adiknya tidak perlu bayar kalau sekolah.

Siang itu, empat hari hari lalu, Barkah hanya ditugaskan mengantarkan bungkusan berwarna coklat. Ia tidak tahu apa isi didalamnya. Ia mengira-ngira itu adalah semacam bubuk. Sehari berikutnya, ia lakoni hal yang sama di alamat yang berbeda. Selanjutnya, terjadilah kejadian itu. Barkah tidak mengerti apa hubungan antara bungkusan berwarna coklat yang diantarkannya, dengan ditangkap bapaknya di pagi buta itu.

Ia sampai sekarang juga sulit menyatukan logika bagaimana kemudian, dua hari sejak bapaknya dimasukkan sel, di pagi buta itu, ia juga ikut dicokok untuk sebuah tuduhan serius : pembunuhan berencana bersama bapaknya. []

Bojong Kulur : 24:02:2010