Nafasku tiba-tiba sesak. Mataku terbelalak mengumpulkan kekuatan menghalau serangan yang secara mendadak menyerbu dari segala penjuru : belakang, depan, dan dua sisi samping. Lima pemuda tanggung ini seperti hilang akal. Dengan dengus menderus, mereka tanpa ampun bernafsu ingin menerkamku. Tangannya dimaju-mundurkan. Telapaknya tegak lurus diarahkan tepat ke dadaku. Kakinya serempak maju selangkah-selangkah. Mata tajam itu menghunus tepat ke mukaku.
Aku waspada dengan segala kemungkinan. Ekor mataku bergerak cepat ke kiri-ke kanan, agar tak kecolongan. Sesekali aku geser kuda-kuda ke samping. Dari belakang, bisa saja musuhku itu memberikan hajaran mendadak. Waktuku makin sempit. Tidak banyak lagi kesempatan untuk mempertahankan diri. Lengah sedikit, tubuhku bisa-bisa remuk dihajar pemuda tanggung itu.
Aku memejam. Tenaga, ku kumpulkan sebisa-bisanya. Kakiku membentuk kuda-kuda kokoh. Nafas, aku tarik dalam-dalam hingga terpusat di dada. Dua tanganku membentang, kemudian ditelungkupkan di atas kepala, sebelum kemudian kutarik sejajar puting susuku. Huaaaaaaah.........!!! Suaraku menggelegar bersamaan dengan hentakan kaki kiriku dan dorongan dua telapak ke arah depan, juga samping. Aku juga memutar ke arah belakang.
Gubraggggggk....Bragggg!!! satu-satu musuhku lantak ke bumi. Ada satu-dua yang mencoba bangkit. Ku hentak lagi. Ia terhuyung-huyung, sebelum akhirnya tergeletak. Mereka kehabisan nafas.....
***
Aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja. Karena kebetulan saja aku dan lima kawan IntanSatuku dulu aktif di mesjid. Adalah pembina remaja mesjid yang mengajak kami menuntut ilmu bela diri bergaya gaib seperti itu. Dulu, ketika kami masih anak-anak dan bersekolah SD, kami pernah juga belajar bela diri Tapak Suci, tapi tidak pernah tuh diajari seperti itu. Aneh, sekaligus menantang. Tawaran untuk bergabung pun kami amini.
Keanehan perguruan silat ini sebenarnya sudah muncul sejak awal. Ketika kami dibaiat, sang Guru mengisi ilmu ke dalam tubuh kami. Tubuhku ketika itu bergeletar hebat. Tanganku seperti kesetrum. Yang menakjubkan, tanganku bisa bergerak-gerak sendiri. Batang leherku seumpama mainan Yogya, bergodek-godek sulit dihentikan.
Itu belum seberapa, beberapa kawanku yang mendapatkan giliran sebelumnya bahkan bertingkah seperti maung. Mengaum, berguling, mirip betul macan yang sedang birahi. Kami terkekeh mencermati kelakuannya.
Nah, ini yang membuat kami rada ragu. Di tiap-tiap akhir baiat, kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang. Masing-masing orang berbeda rupiah.
Aku ketika itu dikenakan Rp 150-ribuan. Gilaaaa!!! uang sebanyak itu dari mana. Untuk bayar uang semesteran saja sudah empot-empotan. Kawanku yang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Yang membuatku geli, darimana sang Guru mendapatkan jumlah itu. Katanya,ia mendapatkan telepati dari 'atasannya'. Hmmm,....aku masih sulit menerima. Baik secara definitif maupun kuantitatif.
Kami juga diberikan keringanan. Uang baiat bisa dicicil. Hahhh?? seperti bayar kredit panci keliling aja, ya. Bedanya, ini bisa dibayar kapan saja. Tetap saja aku sulit menyanggupi. Tapi kami tak terlalu serius menanggapinya. Latihan sih jalan terus. Dan, syukurnya, karena sering aktif di mesjid, lantai dua yang sering kosong, bisa dijadikan arena pertempuran. Hanya sekali-dua kalau tak salah kami mengikuti pertemuan masal sesama saudara seperguruan. Itupun tak sampai berjumpa dengan sang Guru Besar.
Hingga kami hengkang, rasanya tak satupun dari kami yang memenuhi janji untuk membayar uang muka itu. Itu barangkali yang membuat ilmu ini tersendat ditransfer meski sering dilatih. Tapi aku heran meski tubuhku seperti tidak ada kesaktian mengapa kawan-kawanku terpelanting sampai beruling-guling kalau aku hentaak???
Baik, aku akui saja di sini. Ketika posisiku sebagai penyerang, sejatinya aku tak merasa ada penghalang, tepat ketika kawanku sebagai objek menghentak-hentakan kaki atau teriak-teriak. Kalau mau, aku bisa saja terus maju dan memukul kawanku yang sedang kesumat dengan mudah. Tapi tindakan ini tentu tidak etis toh??
Tapi demi solidaritas, aku ikut berguling-guling. Dan, akting itu aku lakoni selama kami latihan. Ada dua alasan. Aku berupaya empati terhadap kawanku yang tentu ingin sekali terlihat sakti. Kedua, aku juga ingin dong dianggap sakti. Kalau aku tidak berguling-guling, jangan-jangan mereka juga enggan pula berguling-guling kalau aku serang.
Aku tak ingat, mengapa kami akhirnya benar-benar berhenti dari perguruan itu. Bosan bersandiwarakah? atau memang instink kami saja yang tak bisa menerima hal-hal tak masuk diakal seperti itu. Apa mereka punya alasan lain? tanya saja langsung...
Bojong Kulur: 15:03:2010
Senin, 15 Maret 2010
Rabu, 10 Maret 2010
sajak harmoni
gunung gemar menusuk awan
kutanya bagaimana bisa tetap damai
tebing hidup bersama terjal
kau kagum dua yang saling melengkapi
hujan beriringan dengan badai
kuragu diantaranya menyelingkuhi
laut selalu beriak dengan ombak
kau pun heran harmoni di keduanya
di ujung cerita aku dan kamu berdampingan
kita lantas tersenyum apa mampu seperti mereka
Gelora: 10:03:2010
kutanya bagaimana bisa tetap damai
tebing hidup bersama terjal
kau kagum dua yang saling melengkapi
hujan beriringan dengan badai
kuragu diantaranya menyelingkuhi
laut selalu beriak dengan ombak
kau pun heran harmoni di keduanya
di ujung cerita aku dan kamu berdampingan
kita lantas tersenyum apa mampu seperti mereka
Gelora: 10:03:2010
Selasa, 09 Maret 2010
Java Jazz Kampungan!!!
Perhelatan besar tak selamanya menyajikan kepuasan. Sebut saja acara tahunan Java Jazz Festival Internasional yang digelar 5,6,7 Maret lalu. Memang, panitia berhasil mendatangkan super artis dari dalam dan luar negeri. Jagad kemayoran dibuat goyang oleh gemerlap dan degupan musik jazz dari balik-balik panggung.
Para pengunjung dipaksa untuk mengikuti selera musik jazz atau yang dijazz-jazz-kan. Entah apakah ribuan penonton yang memadati Kemayoran Ekspo itu mengerti apa yang akan mereka tonton. Saya curiga mereka hanya terbawa arus, atau ikut-ikutan agar bisa dibilang berkelas. Maka, harga Rp 240 ribu terasa ringan. Saya juga tidak habis mengerti dari mana para ABG yang ikut meramaikan pentas akbar jazz itu mendapatkan uang. Barangkali bagi sebagian orang uang ratusan ribu sangatlah berarti, mungkin tidak bagi mereka yang doyan keramaian. Bahkan, bisa jadi harga itu terlalu ringan!
Pantia memang pintar menjaring penonton. Dipasanglah artis pop, macam Glen Fredly juga Andre Hehanusa. Dari luar negeri ada Baby Face. Orang dibuat histeria untuk sesuatu yang, barangkali setahun sekali didapati. Saya coba memasuki histeria itu, tetapi gagal, dan justru kecewa berat.
Panitia sama sekali tidak profesional, kampungan dan sangat-sangat menyebalkan. Saya coba antri untuk masuk ke hall A2 dimana Glen akan pentas. Sejak jam 21.30 saya sudah berjejal di muka pintu, yang sebenarnya masih cukup jauh. Ratusan orang sudah mengular di belakang. Tetapi hingga pukul 22.00, Sabtu malam itu, tepat dimana Glen akan menyanyi pintu tidak juga dibuka. Saya paham, orang-orang ini kesal, tetapi mungkin jaga gengsi. Mereka semua bungkam. Seperti terhiponitis orang-orang ini. Sampai 35 menit mengantri tidak ada kejelasan, kok, masih saja diam.
Saya yang berada jauh dibelakang dari penjaga pintu terpaksa teriak, minta informasi. Hanya informasi, bukan memaksa, meski sebenarnya pantas juga kalau saya menuntut itu. Sekali lagi, saya tidak menuntut untuk masuk, saya hanya butuh kejelasan. Titik.
Kalau memang di dalam sudah sesak, saya akan memilih pertunjukan lain. Saya ini bukan penggila Glen. Saya hanya ingin saja menonton artis hitam itu menyanyi. Bodohnya, ratusan orang yang mengantri diam saja. Ketika saya teriak dengan lantang, beberapa orang coba mengikuti. Tapi hanya sebentar. Protes mereka berbeda : mereka menginginkan masuk karena sudah banyar cukup mahal. Tapi saya tidak, saya hanya menuntut kejelasan. Itu saja!
Tapi panitia Java Jazz yang ada di depan pintu itu seperti orang tolol dan dungu. Ia hanya memberi isyarat dengan tangan disilang-silang. Mungkin maksudnya penonton tidak dapat masuk lagi. Tapi, mestinya ada penjelasan mengapa mereka tidak bisa masuk. Benar-benar panitia dungu…
Saya akhirnya memutuskan tidak jadi nonton Glen. Saya sungguh tidak menyesali keputusan itu, karena setengah jam kemudian, saat akan pulang saya masih melihat antrian setia mengular. Saya hanya mengira-ira, pantia-panitia dungu itu masih saja tidak memberikan informasi jelas. Kalau sudah tentu mereka sudah bubar, atau kalau dibuka lagi mestinya antrian bergerak.
Penonton tidak mendapatkan hak semestinya. Informasi jadwal saja harus dibeli sepaket dengan sebuah majalah musik seharga Rp 20 ribu. Konyol betul. Pengunjung hanya membutuhkan jadwal, tidak majalahnya. Tapi mereka dipaksa dengan kondisi. Beberapa orang terpaksa membeli dan sebagian lagi memfotonya di dinding-dingin yang menempel terbatas di booth informasi. Saya kecewa berat!!! []
Gelora: 09:03:2010
Para pengunjung dipaksa untuk mengikuti selera musik jazz atau yang dijazz-jazz-kan. Entah apakah ribuan penonton yang memadati Kemayoran Ekspo itu mengerti apa yang akan mereka tonton. Saya curiga mereka hanya terbawa arus, atau ikut-ikutan agar bisa dibilang berkelas. Maka, harga Rp 240 ribu terasa ringan. Saya juga tidak habis mengerti dari mana para ABG yang ikut meramaikan pentas akbar jazz itu mendapatkan uang. Barangkali bagi sebagian orang uang ratusan ribu sangatlah berarti, mungkin tidak bagi mereka yang doyan keramaian. Bahkan, bisa jadi harga itu terlalu ringan!
Pantia memang pintar menjaring penonton. Dipasanglah artis pop, macam Glen Fredly juga Andre Hehanusa. Dari luar negeri ada Baby Face. Orang dibuat histeria untuk sesuatu yang, barangkali setahun sekali didapati. Saya coba memasuki histeria itu, tetapi gagal, dan justru kecewa berat.
Panitia sama sekali tidak profesional, kampungan dan sangat-sangat menyebalkan. Saya coba antri untuk masuk ke hall A2 dimana Glen akan pentas. Sejak jam 21.30 saya sudah berjejal di muka pintu, yang sebenarnya masih cukup jauh. Ratusan orang sudah mengular di belakang. Tetapi hingga pukul 22.00, Sabtu malam itu, tepat dimana Glen akan menyanyi pintu tidak juga dibuka. Saya paham, orang-orang ini kesal, tetapi mungkin jaga gengsi. Mereka semua bungkam. Seperti terhiponitis orang-orang ini. Sampai 35 menit mengantri tidak ada kejelasan, kok, masih saja diam.
Saya yang berada jauh dibelakang dari penjaga pintu terpaksa teriak, minta informasi. Hanya informasi, bukan memaksa, meski sebenarnya pantas juga kalau saya menuntut itu. Sekali lagi, saya tidak menuntut untuk masuk, saya hanya butuh kejelasan. Titik.
Kalau memang di dalam sudah sesak, saya akan memilih pertunjukan lain. Saya ini bukan penggila Glen. Saya hanya ingin saja menonton artis hitam itu menyanyi. Bodohnya, ratusan orang yang mengantri diam saja. Ketika saya teriak dengan lantang, beberapa orang coba mengikuti. Tapi hanya sebentar. Protes mereka berbeda : mereka menginginkan masuk karena sudah banyar cukup mahal. Tapi saya tidak, saya hanya menuntut kejelasan. Itu saja!
Tapi panitia Java Jazz yang ada di depan pintu itu seperti orang tolol dan dungu. Ia hanya memberi isyarat dengan tangan disilang-silang. Mungkin maksudnya penonton tidak dapat masuk lagi. Tapi, mestinya ada penjelasan mengapa mereka tidak bisa masuk. Benar-benar panitia dungu…
Saya akhirnya memutuskan tidak jadi nonton Glen. Saya sungguh tidak menyesali keputusan itu, karena setengah jam kemudian, saat akan pulang saya masih melihat antrian setia mengular. Saya hanya mengira-ira, pantia-panitia dungu itu masih saja tidak memberikan informasi jelas. Kalau sudah tentu mereka sudah bubar, atau kalau dibuka lagi mestinya antrian bergerak.
Penonton tidak mendapatkan hak semestinya. Informasi jadwal saja harus dibeli sepaket dengan sebuah majalah musik seharga Rp 20 ribu. Konyol betul. Pengunjung hanya membutuhkan jadwal, tidak majalahnya. Tapi mereka dipaksa dengan kondisi. Beberapa orang terpaksa membeli dan sebagian lagi memfotonya di dinding-dingin yang menempel terbatas di booth informasi. Saya kecewa berat!!! []
Gelora: 09:03:2010
Bara Itu Berinitial C
Anda boleh kaget, atau silahkan geleng-gelengkan kepala. Sebuah kerja tiga bulan yang menyita begitu banyak biaya, energi dan perhatian berhenti di titik C. Pansus Century yang semula diharapkan dapat memberikan banyak kejelasan soal silang sengkarut, sakwaksangka, tuduhan dan saling ancam hanya dijelaskan oleh satu huruf : C.
Untuk mendapatkan huruf C juga bukan perkara mudah. Kita harus menyaksikan para wakil rakyat yang terhormat itu unjuk urat moral di hadapan publik. Tindak laku mereka sungguh menggelikan dan lucu. Menggemaskan dan terkadang menjijikkan. Norak, kampungan. Padahal, mereka hadir di sidang itu tidak gratis. Satu kali datang di Paripurna selama dua hari, pada Senin dan Selasa itu cukup besar lho. Mencapai Rp 5 milyar!
Data yang dicuplik dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyebutkan, untuk ketua DPR honor seharinya mencapai Rp 6 juta. Sedangkan untuk empat wakil ketua yang jumlahnya empat kepala selama dua hari mencapai Rp 22 juta. Bagi anggota DPR yang jumlahnya 426 orang, negara harus merogoh sebesar Rp 2,1 milyar. Itu artinya, masing-masing dari mereka saat beraksi panggung di Senayan itu dibayar Rp 5 juta perhari. Memang murah jika dibandingkan dengan artis yang kalau show langsung bisa mencapai puluhan juta untuk beberapa menit saja.
Yang membuat geli, rekomendasi Pansus Century untuk opsi A yang menerima langkah bailout dan opsi C yang mempersalahkan pemerintah, coba dipadukan dalam opsi A plus C. Dua kebenaran versi yang coba dicampuradukkan. Kacau!!.
Coba anda pikir, bagaimana sebuah kebenaran harus divoting dan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Kebatilan coba disamar-samarkan dengan kebenaran. Apakah air zamzam yang suci itu bisa tetap sakral dan enak diminum serta halal jika dipadukan dengan alkohol. Sensasinya mungkin dapat, tapi apakah kebenaran dan kebatilan bisa seenak-enaknya saja dipersatukan.
Konyolnya lagi, jika sebuah kebenaran dilandaskan atas sebuah kepentingan dan suara terbanyak. Kalau itu yang dianut, dunia bisa rusak. Nilai-nilai kemanusiaan bisa saja bergeser ke arah selera. Padahal, selera belum tentu bisa sesuai pada peradaban. Kebenaran tidak bisa divoting dan ditentukan oleh segelintir orang. Makanya, saya sejak awal tidak terlalu tertarik dengan ribus-ribut Century terlebih setelah rekomendasi dibuat berdasarkan voting. Aneh,…
Sekarang, kebenaran versi voting sudah keluar. Dan, kesepakatan politik itu memang memiliki kekuatan hukum. Pemerintah akan tersandera oleh huruf C. Tapi, tanpa ada pansus yang menguras energi berhari-hari pun sebenarnya pemerintah sejak awal memang menginginkan kesalahan diteruskan ke jalur hukum. Dan, bukankah itu diinginkan Pansus?
Cuma memang, tanpa desakan kuat barangkali pengusutan skandal ini tetap dipertanyakan. Yang membuat saya khawatir sebenarnya persoalan kredibilitas pemerintah. Rekomendasi jelas menyebutkan Boediono dan Sri Mulayani Indrawati dianggap yang palig bertanggung-jawab.
Meski Presiden telah pasang badan, dengan mengatakan kebijakan bailout benar, tetap saja ada bara dalam sekam. Lihatlah, beberapa saat sejak pidato tanggapan disampaikan SBY, segala protes tetap muncul. Aksi protes terhadap Sri Mulyani dan Beodiono tetap kencang disuarakan.
Beberapa elit saya yakin akan pasang strategi baru untuk terus menggoyang-goyang. Jelas, mereka tidak puas jika hanya menyelesaikan Century lewat jalur hukum. Harus ada imbas politik terhadap kasus ini. Beberapa diantaranya ada yang menyuarakan agar DPR mengajukan hak pendapat : sebuah hak yang dekat dengan proses pemakzulan.
Kelihatannya energi bangsa ini masih akan terkuras untuk beberapa bulan ke depan setelah ada jeda sejenak. Padahal, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengangkat segera rakyat dari kesulitan
Kasus Century mungkin reda tapi belum padam. Ada sisa bara yang siap disulut kapanpun. Itu akan sangat tergantung kepentingan dan momen yang tepat. Jadi, skandal ini jauh dari selesai. []
Gelora : 08:03:2010
Untuk mendapatkan huruf C juga bukan perkara mudah. Kita harus menyaksikan para wakil rakyat yang terhormat itu unjuk urat moral di hadapan publik. Tindak laku mereka sungguh menggelikan dan lucu. Menggemaskan dan terkadang menjijikkan. Norak, kampungan. Padahal, mereka hadir di sidang itu tidak gratis. Satu kali datang di Paripurna selama dua hari, pada Senin dan Selasa itu cukup besar lho. Mencapai Rp 5 milyar!
Data yang dicuplik dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menyebutkan, untuk ketua DPR honor seharinya mencapai Rp 6 juta. Sedangkan untuk empat wakil ketua yang jumlahnya empat kepala selama dua hari mencapai Rp 22 juta. Bagi anggota DPR yang jumlahnya 426 orang, negara harus merogoh sebesar Rp 2,1 milyar. Itu artinya, masing-masing dari mereka saat beraksi panggung di Senayan itu dibayar Rp 5 juta perhari. Memang murah jika dibandingkan dengan artis yang kalau show langsung bisa mencapai puluhan juta untuk beberapa menit saja.
Yang membuat geli, rekomendasi Pansus Century untuk opsi A yang menerima langkah bailout dan opsi C yang mempersalahkan pemerintah, coba dipadukan dalam opsi A plus C. Dua kebenaran versi yang coba dicampuradukkan. Kacau!!.
Coba anda pikir, bagaimana sebuah kebenaran harus divoting dan dipilih berdasarkan suara terbanyak. Kebatilan coba disamar-samarkan dengan kebenaran. Apakah air zamzam yang suci itu bisa tetap sakral dan enak diminum serta halal jika dipadukan dengan alkohol. Sensasinya mungkin dapat, tapi apakah kebenaran dan kebatilan bisa seenak-enaknya saja dipersatukan.
Konyolnya lagi, jika sebuah kebenaran dilandaskan atas sebuah kepentingan dan suara terbanyak. Kalau itu yang dianut, dunia bisa rusak. Nilai-nilai kemanusiaan bisa saja bergeser ke arah selera. Padahal, selera belum tentu bisa sesuai pada peradaban. Kebenaran tidak bisa divoting dan ditentukan oleh segelintir orang. Makanya, saya sejak awal tidak terlalu tertarik dengan ribus-ribut Century terlebih setelah rekomendasi dibuat berdasarkan voting. Aneh,…
Sekarang, kebenaran versi voting sudah keluar. Dan, kesepakatan politik itu memang memiliki kekuatan hukum. Pemerintah akan tersandera oleh huruf C. Tapi, tanpa ada pansus yang menguras energi berhari-hari pun sebenarnya pemerintah sejak awal memang menginginkan kesalahan diteruskan ke jalur hukum. Dan, bukankah itu diinginkan Pansus?
Cuma memang, tanpa desakan kuat barangkali pengusutan skandal ini tetap dipertanyakan. Yang membuat saya khawatir sebenarnya persoalan kredibilitas pemerintah. Rekomendasi jelas menyebutkan Boediono dan Sri Mulayani Indrawati dianggap yang palig bertanggung-jawab.
Meski Presiden telah pasang badan, dengan mengatakan kebijakan bailout benar, tetap saja ada bara dalam sekam. Lihatlah, beberapa saat sejak pidato tanggapan disampaikan SBY, segala protes tetap muncul. Aksi protes terhadap Sri Mulyani dan Beodiono tetap kencang disuarakan.
Beberapa elit saya yakin akan pasang strategi baru untuk terus menggoyang-goyang. Jelas, mereka tidak puas jika hanya menyelesaikan Century lewat jalur hukum. Harus ada imbas politik terhadap kasus ini. Beberapa diantaranya ada yang menyuarakan agar DPR mengajukan hak pendapat : sebuah hak yang dekat dengan proses pemakzulan.
Kelihatannya energi bangsa ini masih akan terkuras untuk beberapa bulan ke depan setelah ada jeda sejenak. Padahal, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk mengangkat segera rakyat dari kesulitan
Kasus Century mungkin reda tapi belum padam. Ada sisa bara yang siap disulut kapanpun. Itu akan sangat tergantung kepentingan dan momen yang tepat. Jadi, skandal ini jauh dari selesai. []
Gelora : 08:03:2010
Selasa, 02 Maret 2010
Mengalahkan Kemiskinan Lewat UKM
Kunjungan Proyek-proyek ADB (2-Habis)
Kemewahan di sebuah kota besar selalu menyembunyikan kemelaratan dan kemiskinan. Pun begitu yang terjadi di Manila, Filipina. Hamparan gedung bertingkat mungkin akan mudah ditemui di pusat kota. Tetapi coba bergeser beberapa kilometer ke selatan Manila, kesemrawutan rumah penduduk miskin mudah di Jumpai.
Saat Bali Post berkunjung ke salah satu perkampungan kumuh di Alabang, sungguh dikejutkan dengan suasana yang mirip kehidupan pinggiran Jakarta. Lorong sempit yang lebarnya tak lebih dari 1,5 meter, rumah semipermanen berdempetan, got hitam penuh sampah, bau, penduduknya bergerombol di pos gardu sambil bertelanjang dada. Dan, anak-anak yang asyik bermain bola di sebuah lapangan basket, ditemani anjing dan burung yang membuang kotoran sembarangan. Di sudut lain, beberapa anak muda khusyu menghitung togel.
Kondisi ini sesungguhnya tak mengherankan. Sebab, angka kemiskinan di Filipina tergolong tinggi. Data 2007 menyebutkan, terdapat 27,6 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dari total populasi 88,6 juta atau 31 persen. Bila dilihat per KK-nya maka yang tergolong miskin mencapai 27 persen atau 4,67 juta KK dari 17,4 juta KK. Tingginya angka kemiskinan ini terjadi sejak puluhan tahun lalu. Sedangkan batas kemiskinan yang ditetapkan pemerintah Filipina sejak 2006 adalah warga yang berpenghasilan di bawah Rp 3.720.000 per tahun.
Namun, ada yang membedakan di perkampungan kumuh yang ditempati 1.000 KK itu. Di sudut gang, sebelah barat lapangan basket berkumpullah 35 ibu-ibu dari keluarga miskin. Selasa siang pekan lalu itu, mereka mengadakan rutin mingguan dalam suasana hangat di sebuah ruang kelas TK berukuran tak lebih dari 5x6 meter persegi. Topik yang dibicarakan tak main-main yakni membahas pengembangan usaha mikro produktif.
Langkah ini mereka lakukan untuk bisa tetap bertahan hidup. Menurut pengakuan July Cuyoca (45), para ibu rumah tangga miskin bergabung membentuk perkumpulan yang biasa disebut Center, ata dorongan lembaga keuangan mikro pro pengentasan kemiskinan, ASHI.
Melalui Center, berbagai ibu rumah tangga miskin mendapatkan bantuan pinjaman pengembanga usaha mikrodari Rp 1,24 juta sampai Rp 4,96 juta dengan jangka waktu pengembalian enam bulan hingga setahun. Sedangkan bunga yang ditetapkan seperti BPR di Indonesia, yakni 25 persen per tahun.
Berdasarkan pengalaman July, dari Center ia mendapatkan bantuan pinjaman Rp 1,24 juta dengan jangka waktu 25 minggu. Selanjutnya dana itu ia gunakan untuk bisnis penjualan hasil bumi seperti kacang yang dibeli dari kota lain, Baguyo, ketempat tinggalnya sehingga mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga. "Ini sangat membantu. Kalau rentenir bunganya bisa mencapai 20 persen per bulan," katanya.
Center didirikan tahun 2000 dengan anggota hanya lima orang. Dinilai sangat bermanfaat, kini jumlahnya menjadi 35 orang,yang terbagi dalam tujuh kelompok usaha. Pertemuan tidak hanya menjadi tempat untuk membayar cicilan dan mendapatkan pinjaman. Tetapi, yang jauh lebih pentingjuga dibicarakan strategi bisnis dan silaturahmi.
Hal lain yang membuat Center diminati adalah sistem pinjaman yang melandaskan pada kepercayaan, karena tidak diperlukan jaminan seperti di bank. Namun, untuk menjaga profesionalitas dan kepercayaan ibu rumah tangga penerima pinjaman harus memiliki kepribadian baik dan serius ingin berusaha membantu ekonomi keluarga, dan mereka digabungkan dalam satu kelompok sebagai mekanisme pengawasan antar ibu rumah tangga.
Lembaga pendanaan kecil ini juga mengharuskan anggotanya menabung Rp 3.720/minggu. Sebagian untuk premi ata utang jika anggotanya meninggal, dan untuk membiayai pemakaman anggota atau keluarga anggota yang meninggal dunia. Hingga Januari 2009, pinjaman ibu rumah tangga di Center mencapai Rp 79,6 juta. Sedangkan dana simpanan mencapai Rp 29 juta.
Manajer cabang ASHI South Manila Nolie C Libng mengakui, tujuan utama didirikannya ASHI sejak 1989 adalah untuk menolong penduduk Filipina yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selanjutnya, pada 1991, lembaga ini mendapatkan pengesahan dari pemerintah. Selain itu, keberadaan lembaga ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, salah satunya Bank Pembangunan Asia atau ADB.
Untuk memperluas jangkauan ASHI membentuk cabang di sejumlah provinsi yang kini telah mencapai 20 cabang. Dari 20 cabang tersebut, masing-masing memiliki 50 Center dengan jumlah penduduk yang diberdayakan mencapai 15 ribu jiwa. Pendanaan didapat dari berbagai sumber seperti dari perusahaan pembiayaan untuk pengentasan kemiskinan, People's Credit and Finance Corporation (PCFC).
Sementara salah satu sumber dana PCFC adalah ADB yang berkantor pusat di Manila. Lembaga multilatera ini menggelontorkan dana pinjaman pengembangan usaha produktif warga miskin melalui PCFC sekitar RP 416,4 miliar.
Bali Post : 11:03:2009
Kemewahan di sebuah kota besar selalu menyembunyikan kemelaratan dan kemiskinan. Pun begitu yang terjadi di Manila, Filipina. Hamparan gedung bertingkat mungkin akan mudah ditemui di pusat kota. Tetapi coba bergeser beberapa kilometer ke selatan Manila, kesemrawutan rumah penduduk miskin mudah di Jumpai.
Saat Bali Post berkunjung ke salah satu perkampungan kumuh di Alabang, sungguh dikejutkan dengan suasana yang mirip kehidupan pinggiran Jakarta. Lorong sempit yang lebarnya tak lebih dari 1,5 meter, rumah semipermanen berdempetan, got hitam penuh sampah, bau, penduduknya bergerombol di pos gardu sambil bertelanjang dada. Dan, anak-anak yang asyik bermain bola di sebuah lapangan basket, ditemani anjing dan burung yang membuang kotoran sembarangan. Di sudut lain, beberapa anak muda khusyu menghitung togel.
Kondisi ini sesungguhnya tak mengherankan. Sebab, angka kemiskinan di Filipina tergolong tinggi. Data 2007 menyebutkan, terdapat 27,6 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dari total populasi 88,6 juta atau 31 persen. Bila dilihat per KK-nya maka yang tergolong miskin mencapai 27 persen atau 4,67 juta KK dari 17,4 juta KK. Tingginya angka kemiskinan ini terjadi sejak puluhan tahun lalu. Sedangkan batas kemiskinan yang ditetapkan pemerintah Filipina sejak 2006 adalah warga yang berpenghasilan di bawah Rp 3.720.000 per tahun.
Namun, ada yang membedakan di perkampungan kumuh yang ditempati 1.000 KK itu. Di sudut gang, sebelah barat lapangan basket berkumpullah 35 ibu-ibu dari keluarga miskin. Selasa siang pekan lalu itu, mereka mengadakan rutin mingguan dalam suasana hangat di sebuah ruang kelas TK berukuran tak lebih dari 5x6 meter persegi. Topik yang dibicarakan tak main-main yakni membahas pengembangan usaha mikro produktif.
Langkah ini mereka lakukan untuk bisa tetap bertahan hidup. Menurut pengakuan July Cuyoca (45), para ibu rumah tangga miskin bergabung membentuk perkumpulan yang biasa disebut Center, ata dorongan lembaga keuangan mikro pro pengentasan kemiskinan, ASHI.
Melalui Center, berbagai ibu rumah tangga miskin mendapatkan bantuan pinjaman pengembanga usaha mikrodari Rp 1,24 juta sampai Rp 4,96 juta dengan jangka waktu pengembalian enam bulan hingga setahun. Sedangkan bunga yang ditetapkan seperti BPR di Indonesia, yakni 25 persen per tahun.
Berdasarkan pengalaman July, dari Center ia mendapatkan bantuan pinjaman Rp 1,24 juta dengan jangka waktu 25 minggu. Selanjutnya dana itu ia gunakan untuk bisnis penjualan hasil bumi seperti kacang yang dibeli dari kota lain, Baguyo, ketempat tinggalnya sehingga mampu membantu meningkatkan pendapatan keluarga. "Ini sangat membantu. Kalau rentenir bunganya bisa mencapai 20 persen per bulan," katanya.
Center didirikan tahun 2000 dengan anggota hanya lima orang. Dinilai sangat bermanfaat, kini jumlahnya menjadi 35 orang,yang terbagi dalam tujuh kelompok usaha. Pertemuan tidak hanya menjadi tempat untuk membayar cicilan dan mendapatkan pinjaman. Tetapi, yang jauh lebih pentingjuga dibicarakan strategi bisnis dan silaturahmi.
Hal lain yang membuat Center diminati adalah sistem pinjaman yang melandaskan pada kepercayaan, karena tidak diperlukan jaminan seperti di bank. Namun, untuk menjaga profesionalitas dan kepercayaan ibu rumah tangga penerima pinjaman harus memiliki kepribadian baik dan serius ingin berusaha membantu ekonomi keluarga, dan mereka digabungkan dalam satu kelompok sebagai mekanisme pengawasan antar ibu rumah tangga.
Lembaga pendanaan kecil ini juga mengharuskan anggotanya menabung Rp 3.720/minggu. Sebagian untuk premi ata utang jika anggotanya meninggal, dan untuk membiayai pemakaman anggota atau keluarga anggota yang meninggal dunia. Hingga Januari 2009, pinjaman ibu rumah tangga di Center mencapai Rp 79,6 juta. Sedangkan dana simpanan mencapai Rp 29 juta.
Manajer cabang ASHI South Manila Nolie C Libng mengakui, tujuan utama didirikannya ASHI sejak 1989 adalah untuk menolong penduduk Filipina yang hidup di bawah garis kemiskinan. Selanjutnya, pada 1991, lembaga ini mendapatkan pengesahan dari pemerintah. Selain itu, keberadaan lembaga ini juga mendapat dukungan dari berbagai lembaga, salah satunya Bank Pembangunan Asia atau ADB.
Untuk memperluas jangkauan ASHI membentuk cabang di sejumlah provinsi yang kini telah mencapai 20 cabang. Dari 20 cabang tersebut, masing-masing memiliki 50 Center dengan jumlah penduduk yang diberdayakan mencapai 15 ribu jiwa. Pendanaan didapat dari berbagai sumber seperti dari perusahaan pembiayaan untuk pengentasan kemiskinan, People's Credit and Finance Corporation (PCFC).
Sementara salah satu sumber dana PCFC adalah ADB yang berkantor pusat di Manila. Lembaga multilatera ini menggelontorkan dana pinjaman pengembangan usaha produktif warga miskin melalui PCFC sekitar RP 416,4 miliar.
Bali Post : 11:03:2009
Senin, 01 Maret 2010
Vietnam yang Mulai Terbuka
Kunjungan ke Proyek-Proyek ADB (1)
Bagi sebagian orang, Vietnam dianggap sebagai negara yang menakutkan karena demokrasi tidak berjalan. Kekuatan partai tunggal yang begitu besar memang bisa menjadi "tangan besi" yang mengungkung hidup rakyatnya. Benarkah? Berikut laporan wartawan Bali Post Ahmadi Supriyanto ketika mengunjungi beberapa proyek ADB (Asian Development Bank) di Manila dan Vietnam (Saigon) 1 hingga 7 Maret 2009 lalu.
VIETNAM kini telah mengalami perkembangan begitu pesat. Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan penuh semangat. Jalan tidak saja mengalami pelebaran badan jalan tetapi juga kualitas. Beberapa jembatan penting yang melancarkan arus barang dalam pengerjaan akhir. Tak heran jika investor mulai melirik negara sosialis ini. Selain soal infrastruktur, Vietnam berusaha memaksimalkan kelebihan yang dimiliki.
Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Pitono Purnomo mengatakan, upah buruh di Vietnam yang murah dan relatif tingginya tingkat keamanan menjadi faktor penting daya tarik Vietnam. Bisa dikatakan, buruh di Vietnam tidak penah mogok kerja apalagi unjuk rasa.
Hal ini diamini Sales and Marketing Manager Namhoa Corporation Nguyen Thanh Hu. Perusahaan yang mendapatkan dana dari penerusan pinjaman dari ADB ini memberikan upah Ro 900 ribu-Rp 1,32 juta/bulan. Meski begit bukan berarti produktifitas mereka rendah. Dengan dukungan 900 pekerja, Namhoa yang berlokasi di sekitar Ho Chi Minh City (HCMC) ini mampu memproduksi lima juta item mainan edukatif dari kayu/tahun dengan pangsa pasar luar negeri seperti Jepang (30 persen), Korsel dan Eropa (20 persen) dan sisanya ke AS dan pasar domestik.
Ho Chi Minh City merupakan pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan utama di Vietnam. Serta, memberikan kontribusi yang besar terhadap ekonomi Vietnam. Pada 2008, pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 11 persen atau jauh melampaui pertumbuhan ekonomi Vietnam 6,23 persen. Sementara, produksi domestik bruto kota dan pendapat per kapita kota ini tahun lalu mencapai 17,33 miliar dan 2.534 dolar AS.
Data Konjen RI di HCMC menyebutkan, HCMC merupakan kota tersebar di Vietnam dan berada di sebelah Selatan Vietnam dekat delta Mekong, sebelumnya, bernama Prey Nokor yang merupakan dermaga utama Kamboja sebelum direbut Vietnam pada abad ke-17. Kemudian bernama Saigon dan menjadi ibu kota koloni Prancis Cochincina dan kemudian ibu kota Vietnam Selatan dari tahun 1954 sampai dengan 1975. Pada tanggal 1 1 Mei 1975 Saigon digabung dengan provinsi sekitqar Gia Dinh dan berubah menjadi Ho Chi Minh City.
Sebagai kota bisnis utama di Vietnam, pemerintah pusat menempatkan perangkat pemerintah yang kuat di HCMC, dimana tercatat adanya 15 kantor perwakilan kementerian negara, termasuk Kementrian Luar Negeri dan 25 kota pelaksana kedinasan untuk melayani semua keperluan terutama yang berkaitan dengan pihak asing. Di HCMC juga terdapat 36 perwakilan asing tingkat Konsultan Jendral dan Konsul Jendral Kehormatan, disamping 17 asosiasi bisnis asing.
Bagi Indonesia, Vietnam merupakan pasar sangat potensial, khususnya untuk produksi industri ringan, seperti spare-part motor dan knalpot juga elektronik. "Pengusaha Indonesia masih punya baik di sektor ini," tandasnya.
Alasannya,menurut Pejabat Administratif Konjen RI di HCMC C, Oyon Cahyono Sirat, pengguna sepeda motor di negeri itu sangat tinggi.Sebagai contoh di HCMC, dari 6,8 juta penduduk, populasi motor mencapai 3,5 juta. Sedangkan pengguna mobil terbatas karena harganya yang tinggi juga diterapkannya pajak progresif untuk mobil.
Untuk mendorong UKM bisa berinvestasi di Vietnam, Kedubes RI, menurut Pitono, siap memberikan fasilitas pendukung ekspor bagi pengusaha Indonesia. Di antaranya membiayai analisa pasar terkait industri ringan. Ini bertujuan agar pengusaha bisa mengetahui karateristik dan kebutuhan pasar industri ringan di Vietnam. Fasilitas lain yang siap disediakan Kedubes RI adalah membuka akses kepada berbagai pengusaha di Vietnam.
Hal ini dilakukan dengan menghubungkan pengusaha Indonesia dengan Kadin setempat. Data Konjen RI menyebutkan, total perdagangan Indonesia dan Vitenam tahun lalu mencapai 2,5211 miliar dolar AS. Ekspor dari Indonesia ke Vietnam 2008 tercatat 1,728 miliar dolar AS atau naik 27,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, impor dari Vietnam Indonesia tahun lalu tercatat 793,1 juta dolar AS atau turun 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya []
Bali Post : 10:03:2009
Bagi sebagian orang, Vietnam dianggap sebagai negara yang menakutkan karena demokrasi tidak berjalan. Kekuatan partai tunggal yang begitu besar memang bisa menjadi "tangan besi" yang mengungkung hidup rakyatnya. Benarkah? Berikut laporan wartawan Bali Post Ahmadi Supriyanto ketika mengunjungi beberapa proyek ADB (Asian Development Bank) di Manila dan Vietnam (Saigon) 1 hingga 7 Maret 2009 lalu.
VIETNAM kini telah mengalami perkembangan begitu pesat. Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan penuh semangat. Jalan tidak saja mengalami pelebaran badan jalan tetapi juga kualitas. Beberapa jembatan penting yang melancarkan arus barang dalam pengerjaan akhir. Tak heran jika investor mulai melirik negara sosialis ini. Selain soal infrastruktur, Vietnam berusaha memaksimalkan kelebihan yang dimiliki.
Duta Besar Indonesia untuk Vietnam Pitono Purnomo mengatakan, upah buruh di Vietnam yang murah dan relatif tingginya tingkat keamanan menjadi faktor penting daya tarik Vietnam. Bisa dikatakan, buruh di Vietnam tidak penah mogok kerja apalagi unjuk rasa.
Hal ini diamini Sales and Marketing Manager Namhoa Corporation Nguyen Thanh Hu. Perusahaan yang mendapatkan dana dari penerusan pinjaman dari ADB ini memberikan upah Ro 900 ribu-Rp 1,32 juta/bulan. Meski begit bukan berarti produktifitas mereka rendah. Dengan dukungan 900 pekerja, Namhoa yang berlokasi di sekitar Ho Chi Minh City (HCMC) ini mampu memproduksi lima juta item mainan edukatif dari kayu/tahun dengan pangsa pasar luar negeri seperti Jepang (30 persen), Korsel dan Eropa (20 persen) dan sisanya ke AS dan pasar domestik.
Ho Chi Minh City merupakan pusat kegiatan ekonomi dan perdagangan utama di Vietnam. Serta, memberikan kontribusi yang besar terhadap ekonomi Vietnam. Pada 2008, pertumbuhan ekonomi kota ini mencapai 11 persen atau jauh melampaui pertumbuhan ekonomi Vietnam 6,23 persen. Sementara, produksi domestik bruto kota dan pendapat per kapita kota ini tahun lalu mencapai 17,33 miliar dan 2.534 dolar AS.
Data Konjen RI di HCMC menyebutkan, HCMC merupakan kota tersebar di Vietnam dan berada di sebelah Selatan Vietnam dekat delta Mekong, sebelumnya, bernama Prey Nokor yang merupakan dermaga utama Kamboja sebelum direbut Vietnam pada abad ke-17. Kemudian bernama Saigon dan menjadi ibu kota koloni Prancis Cochincina dan kemudian ibu kota Vietnam Selatan dari tahun 1954 sampai dengan 1975. Pada tanggal 1 1 Mei 1975 Saigon digabung dengan provinsi sekitqar Gia Dinh dan berubah menjadi Ho Chi Minh City.
Sebagai kota bisnis utama di Vietnam, pemerintah pusat menempatkan perangkat pemerintah yang kuat di HCMC, dimana tercatat adanya 15 kantor perwakilan kementerian negara, termasuk Kementrian Luar Negeri dan 25 kota pelaksana kedinasan untuk melayani semua keperluan terutama yang berkaitan dengan pihak asing. Di HCMC juga terdapat 36 perwakilan asing tingkat Konsultan Jendral dan Konsul Jendral Kehormatan, disamping 17 asosiasi bisnis asing.
Bagi Indonesia, Vietnam merupakan pasar sangat potensial, khususnya untuk produksi industri ringan, seperti spare-part motor dan knalpot juga elektronik. "Pengusaha Indonesia masih punya baik di sektor ini," tandasnya.
Alasannya,menurut Pejabat Administratif Konjen RI di HCMC C, Oyon Cahyono Sirat, pengguna sepeda motor di negeri itu sangat tinggi.Sebagai contoh di HCMC, dari 6,8 juta penduduk, populasi motor mencapai 3,5 juta. Sedangkan pengguna mobil terbatas karena harganya yang tinggi juga diterapkannya pajak progresif untuk mobil.
Untuk mendorong UKM bisa berinvestasi di Vietnam, Kedubes RI, menurut Pitono, siap memberikan fasilitas pendukung ekspor bagi pengusaha Indonesia. Di antaranya membiayai analisa pasar terkait industri ringan. Ini bertujuan agar pengusaha bisa mengetahui karateristik dan kebutuhan pasar industri ringan di Vietnam. Fasilitas lain yang siap disediakan Kedubes RI adalah membuka akses kepada berbagai pengusaha di Vietnam.
Hal ini dilakukan dengan menghubungkan pengusaha Indonesia dengan Kadin setempat. Data Konjen RI menyebutkan, total perdagangan Indonesia dan Vitenam tahun lalu mencapai 2,5211 miliar dolar AS. Ekspor dari Indonesia ke Vietnam 2008 tercatat 1,728 miliar dolar AS atau naik 27,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan, impor dari Vietnam Indonesia tahun lalu tercatat 793,1 juta dolar AS atau turun 28 persen dibandingkan tahun sebelumnya []
Bali Post : 10:03:2009
Kantuk
pergi sana kubelum butuhmu
boleh lihat sebentar lalu cepatlah berpaling
jangan coba datang kalau kutakminta
ah, pasti kau bohong lagi
belum sebentar kuminta kau ingkar
tuhkan, mengapa kau menyergapku?
kubilang tunggu sampai aku sesambatmu
tubuhku masih kokoh
cakarku kuat menghujam bumi
lihat, lihat dengan jelas putik mataku
apa kau dapati sudah layu
belumkan?
makanya, pergi sana kubelum butuhmu
nanti, nanti kaukan tahu kapan saatnya
bukan sekarang, tidak saat ini
gelora : 02:03:2010
boleh lihat sebentar lalu cepatlah berpaling
jangan coba datang kalau kutakminta
ah, pasti kau bohong lagi
belum sebentar kuminta kau ingkar
tuhkan, mengapa kau menyergapku?
kubilang tunggu sampai aku sesambatmu
tubuhku masih kokoh
cakarku kuat menghujam bumi
lihat, lihat dengan jelas putik mataku
apa kau dapati sudah layu
belumkan?
makanya, pergi sana kubelum butuhmu
nanti, nanti kaukan tahu kapan saatnya
bukan sekarang, tidak saat ini
gelora : 02:03:2010
Langganan:
Postingan (Atom)