Aku dulu pernah bercita-cita ingin jadi tentara. Terlihat gagah dengan seragam, dan angker. Siapapun akan sungkan, atau mungkin juga takut. Kemanapun aku pergi pasti menjadi perhatian.
Tapi itu dulu. Setelah aku divonis berkacamata, angan-angan itu pudar. Belakangan aku sadar, apa enaknya jadi tentara. Kalau alasannya ingin gagah, toh dengan seragam kerja juga bisa. Ingin ditakuti? tidak perlu, karena sekarang orang lebih takut sama duit dan kekuasaan.
Pengabdian pada negara tidak usah repot-repot, karena semua warga negara diberi kesempatan sama untuk mengabdi. Lewat pajak yang dibayarkan, kita sudah memberikan pengorbanan pada negara. Meski setelah itu kita juga baru sadar kalau pengorbanan itu ternyata sia-sia: dirampok para kolektor-kolektor pajak.
Lewat uang, kita bisa mengatur. Kekuasaan pun bisa dikendalikan dengan mudah. Siapa bilang demokrasi diatur oleh suara terbanyak? Suara rakyat apakah benar suara Tuhan? wong, rakyatnya saja suka menyelingkuhi Tuhan. Jadi, berani betul kita mewakilkan pilihan kita pada Tuhan. Demokrasi itu adalah pencitraan. Siapa yang unggul pasti menang. Anda juga bisa dipoles begitu ciamik di mata publik, kalau mau. Persoalannya apakah anda punya uang? Kalau punya buatlah iklan terus-menerus dan jangan lupa berlakulah seolah anda orang suci di mata publik.
Apa berhasil? Mungkin. Tergantung bagaimana anda mendekatkan diri pada para pengusaha. Apa pentingnya pengusaha? Lho, mereka ini yang mengendalikan negara. Negara boleh mengklaim bisa mengkapitalisasikan PDB hingga Rp 6.300 trilyun. Tapi, dari mana uang sebanyak itu kalau tidak dari pengusaha. Lagi pula, APBN itu hanya sebagian kecil gambaran sebuah perekonomian. Perhitungan di luar itu, sangat besar, dan itu yang mengendalikan adalah pengusaha.
Jadi, siapapun anda kalau tidak menggandeng pengusaha akan sulit. Lebih sempurna lagi kalau anda adalah pengusaha sekaligus politisi. Nah, ini baru klop. Sebagai pengusaha anda tentu memiliki kolega besar. Uang tentu tidak jadi soal. Terlebih ketika anda adalah seorang yang berpengaruh di sebuah partai besar. Pergerakan politisi itu seperti belut, dan pikiran pengusaha itu selincah ular: menghindar dan menyambar begitu ada kesempatan.
Kalau tentara, kaku dengan garis komando tegas. Perhitungan cermat lebih dipentingkan, meski kecepatan juga menentukan. Dengan pola pikir seperti ini, tentu menjadi santapan empuk si pengusaha-politisi tadi.
Tololnya, sejawat-sejawat politisi-pengusaha ini tidak menyadari kalau mereka sedang ditipu-dayai. Mereka digiring ramai-ramai untuk merongrong penguasa yang kebetulan seorang bekas Jendral. Ia menggunakan cara paling purba, yakni menciptakan musuh bersama.
Di singgasana, Sang Jendral yang sedang pusing memikirkan nasib teman duetnya dan pembantunya -yang mulai banyak diprotes- berfikir keras agar kekuasaannya tidak goyang. Maka, dirangkulah pengusaha-politisi ini untuk ikut memperkuat posisi dengan diberi jabatan pretisius, menjaga keutuhan koalisi.
Sang Jendral pun senang. Si pengusaha-politisi lebih senang lagi. Dua tujuan bisa tercapai: menyingkirkan musuhnya karena mengusik-usik tunggakan-tunggakan upetinya pada negara, di saat sama bisa mengambil ancang-ancang untuk pemilu mendatang.
Sang Jendral tidak menyadari bahaya yang mengintai. Sesungguhnyalah, ini hanya dendam-ambisi yang disatukan. Targetnya tentu saja kekuasaan. Pengusaha-politisi itu ingin menduduki singgasana. Ia merangkul pelan-pelan dari bawah. Tapi, kita tahu, mulutnya terus mendesis, lidahnya yang penuh buih bisa, menjulur-julur mencari kesempatan. Sang Jendral yang kini bisa terlelap, makin lengah. Si ular terus siaga menunggu waktu yang tepat.
Ular itu bersembunyi diranting-ranting pohon yang tertutup rimbunan daun pohon beringin. Sang Jendral makin pulas oleh desiran angin yang menyejukkan di bawah pohon tua itu.
***
Aku sekarang tambah bingung. Apakah ingin jadi pengusaha, politisi atau tentara. Ah, sudahlah aku lebih menikmati duniaku sekarang. Bebas menulis, mengkritisi diri sendiri dan mentertawai kalian. []
Glora: 11:05:2010
Minggu, 16 Mei 2010
Minggu, 02 Mei 2010
Bersekutu Melawan Dewa
Ulasan Film "Clash of The Titans"
Di jagad ini tidak ada yang sempurna, termasuk para Dewa. Manusia membutuhkan Dewa untuk kelangsungan hidup. Begitupun, keabadian Dewa sangat ditentukan doa-doa umat manusia. Lantas, apa jadinya jika dua kekuatan ini saling berselisih. Inilah yang ditawarkan Warner Bros Pictures lewat film “Clash of The Titans”.
Manusia mungkin ditakdirkan untuk sulit berterima-kasih, bahkan membangkang kalau perlu melawan. Apa bisa, manusia melawan Tuhan (Dewa)? Anda tidak usah memakai logika untuk bisa menikmati film ber-genre petualangan dan fantasi seperti ini. Nikmati saja. Lebih tidak masuk akal lagi, ketika anda mendapati bahwa Dewa Zeus (Liam Neeson) menzinahi wanita dari golongan manusia.
Begitu kasihnya Zeus pada manusia, ia ingin memberikan pelajaran pada Raja Acrisius (Jason Flemyng) yang terang-terangan murka pada para Dewa. Zeus ingin mengikat Acrisius lewat benih di istrinya, yang mengandung putra setengah Dewa : Perseus. Namun ditolak Acrisius dan justru, bayi dan beserta istrinya ditenggelamkan ke laut.
Dewa tentu lebih berkuasa. Bayi mungil ini bisa bertahan hidup. Sialnya, lelaki inilah yang kelak, dengan gagah bisa membalaskan dendam manusia, terutama pada Dewa kegelapan dan kejahatan, Hades (Ralph Fiennes), yang telah membunuh ibu, ayah tiri, dan adiknya.
Perseus yang diperankan Sam Worthington harus diakui kurang memukau dan meyakinkan. Tentu jauh jika anda membandingkannya dengan Russell Crowe dalam “Gladiator”. Special effect yang dipamerkan film berdurasi 1 jam 35 menit ini juga biasa saja. Tidak ada hal istimewa, dan cenderung seragam saat kita menyaksikan film sejenis seperti “The Mummy”, “Lord of The Ring”, Troy”, “Scorpion King” atau “Beowulf” dan film serupa lainnya.
Sutradara Louis Letterier memang berusaha memaksimalkan para pemain, dengan pengambilan sudut-sudut gambar yang memang sulit. Kecepatan pemain harus maksimal untuk memadankan teknologi animasi, terutama saat melawan penyihir berkepala ratusan ular. Di akhir cerita kepala ular ini digunakan untuk membunuh Kraken, raksasa penghancur saat manusia di kerajaan Argos tidak bisa menumbalkan Andromeda (Alexa Davalos), sang Putri, sebagai wujud kepatuhan pada para Dewa.
Beginilah enaknya fiksi. Dewa pun bisa dikalahkan. Bahkan dengan bantuan iblis, yang menginginkan betul Dewa dibinasakan. Hades akhirnya mampu diusir dan dikirim ke negeri bawah tanah (neraka), tempat asalnya.
Zeus tentu saja bisa tetap bertahan. Ia yang “melahirkan” para manusia dan selalu menjaganya. Maka, ia membutuhkan cinta dan doa-doa yang dipanjatkan umat manusia. Zeus berpesan : “Jangan pernah melemah. Kelemahan manusia hanya membangkitkan Hades (sifat-sifat jahat)”. Bagaimana? []
Bojong Kulur: 29:04:2010
Di jagad ini tidak ada yang sempurna, termasuk para Dewa. Manusia membutuhkan Dewa untuk kelangsungan hidup. Begitupun, keabadian Dewa sangat ditentukan doa-doa umat manusia. Lantas, apa jadinya jika dua kekuatan ini saling berselisih. Inilah yang ditawarkan Warner Bros Pictures lewat film “Clash of The Titans”.
Manusia mungkin ditakdirkan untuk sulit berterima-kasih, bahkan membangkang kalau perlu melawan. Apa bisa, manusia melawan Tuhan (Dewa)? Anda tidak usah memakai logika untuk bisa menikmati film ber-genre petualangan dan fantasi seperti ini. Nikmati saja. Lebih tidak masuk akal lagi, ketika anda mendapati bahwa Dewa Zeus (Liam Neeson) menzinahi wanita dari golongan manusia.
Begitu kasihnya Zeus pada manusia, ia ingin memberikan pelajaran pada Raja Acrisius (Jason Flemyng) yang terang-terangan murka pada para Dewa. Zeus ingin mengikat Acrisius lewat benih di istrinya, yang mengandung putra setengah Dewa : Perseus. Namun ditolak Acrisius dan justru, bayi dan beserta istrinya ditenggelamkan ke laut.
Dewa tentu lebih berkuasa. Bayi mungil ini bisa bertahan hidup. Sialnya, lelaki inilah yang kelak, dengan gagah bisa membalaskan dendam manusia, terutama pada Dewa kegelapan dan kejahatan, Hades (Ralph Fiennes), yang telah membunuh ibu, ayah tiri, dan adiknya.
Perseus yang diperankan Sam Worthington harus diakui kurang memukau dan meyakinkan. Tentu jauh jika anda membandingkannya dengan Russell Crowe dalam “Gladiator”. Special effect yang dipamerkan film berdurasi 1 jam 35 menit ini juga biasa saja. Tidak ada hal istimewa, dan cenderung seragam saat kita menyaksikan film sejenis seperti “The Mummy”, “Lord of The Ring”, Troy”, “Scorpion King” atau “Beowulf” dan film serupa lainnya.
Sutradara Louis Letterier memang berusaha memaksimalkan para pemain, dengan pengambilan sudut-sudut gambar yang memang sulit. Kecepatan pemain harus maksimal untuk memadankan teknologi animasi, terutama saat melawan penyihir berkepala ratusan ular. Di akhir cerita kepala ular ini digunakan untuk membunuh Kraken, raksasa penghancur saat manusia di kerajaan Argos tidak bisa menumbalkan Andromeda (Alexa Davalos), sang Putri, sebagai wujud kepatuhan pada para Dewa.
Beginilah enaknya fiksi. Dewa pun bisa dikalahkan. Bahkan dengan bantuan iblis, yang menginginkan betul Dewa dibinasakan. Hades akhirnya mampu diusir dan dikirim ke negeri bawah tanah (neraka), tempat asalnya.
Zeus tentu saja bisa tetap bertahan. Ia yang “melahirkan” para manusia dan selalu menjaganya. Maka, ia membutuhkan cinta dan doa-doa yang dipanjatkan umat manusia. Zeus berpesan : “Jangan pernah melemah. Kelemahan manusia hanya membangkitkan Hades (sifat-sifat jahat)”. Bagaimana? []
Bojong Kulur: 29:04:2010
Rabu, 28 April 2010
Hal Sepele Juga Bisa Menarik
Ulasan Film " Cop Out"
Kalau anda kangen gaya kocak Bruce Willis dalam serial TV “Moonlighting” mungkin saatnya menyaksikan film terbarunya, “Cop Out”. Willis yang memerankan detektif Jimmy Monroe dipaksa melucu setelah sebelumnya dijargonkan sebagai super jagoan -setidaknya dalam “Die Hard”- beberapa tahun silam.
Dipasangkan dengan Tracy Morgan, sesungguhnya Willis nampak tenggelam. Entah, apa yang diinginkan sang sutradara, Kevin Smith, yang meminta Morgan terlihat begitu berlebihan. Willis ibarat pelakon Cahyono di Jayakarta Grup, yang hanya memberi umpan-umpan kelucuan pada mitranya di film tersebut, Paul Hodges.
Sebagai aktor serba-bisa, peran Willis memang tetap enak ditonton. Sayang, alur cerita yang disajikan duet Robb Cullen dan Mark Cullen begitu ringan, bahkan terlalu sederhana. Mungkin karena film ini memang ber-genre laga, kriminal yang setengah humor. Terlebih saat Jennifer Euston, si penentu peran, memasangkan Seann William Scott sebagai Dave, yang tampil jorok di "American Pie".
Dave inilah biang keonaran. Ketika Jimmy Monroe ingin menjual kartu baseball kesayangannya, Dave mencurinya, tepat ketika transaksi akan dilakukan di sebuah toko. Satu set kartu legendaries “Andy Pafko” itu bukan barang murah, karena nilainya saja bisa mencapai 83 ribu dolar AS. Bukan tanpa alasan Monroe menjual kartu pemberian ayahnya itu. Polisi veteran NYPD ini ingin membuktikan pada mantan istrinya, ia mampu membiayai kebutuhan pernikahan anaknya senilai 43 ribu dolar.
Perburuan Dave pun dimulai. Beberapa kejadian kocak pun dimunculkan. Hodges sering berlakon tidak pada tempatnya, sehingga film ini terasa janggal dan mengganggu. Namun, inilah hebatnya Hollywood, persoalan sepele pun bisa dibuat film asyik. Ketegangan hadir saat Dave mengaku bahwa kartu baseball itu dijual ke gembong narkoba New York, Poh Boy (Guillermo Diaz).
Persoalan makin rumit, karena adik kesayangan Poh Boy, Juan (Cory Fernandez), tewas saat kejar-kejaran dengan Monroe dan Hodges di dalam pemakaman. Beruntung film ini masih menampilkan wanita cantik Anna de la Reguera, yang memukau saat memerankan Gabriela, si pembawa flash drive yang menyimpan begitu banyak transaksi Poh Boy.
Ujung film ini tentu saja bisa anda tebak. Poh Boy tewas, dan Gabriela yang terandera bisa selamat. Serta pernihakan anak Monroe tetap bisa berlangsung.
Cuma, ini yang di luar dugaan : kartu baseball yang menjadi inti cerita justru hancur, terkena serangan mereka sendiri, saat menyarangkan peluru di dada kiri Poh Boy. Sebuah satire yang mengejutkan! []
Gelora: 27:04:2010
Kalau anda kangen gaya kocak Bruce Willis dalam serial TV “Moonlighting” mungkin saatnya menyaksikan film terbarunya, “Cop Out”. Willis yang memerankan detektif Jimmy Monroe dipaksa melucu setelah sebelumnya dijargonkan sebagai super jagoan -setidaknya dalam “Die Hard”- beberapa tahun silam.
Dipasangkan dengan Tracy Morgan, sesungguhnya Willis nampak tenggelam. Entah, apa yang diinginkan sang sutradara, Kevin Smith, yang meminta Morgan terlihat begitu berlebihan. Willis ibarat pelakon Cahyono di Jayakarta Grup, yang hanya memberi umpan-umpan kelucuan pada mitranya di film tersebut, Paul Hodges.
Sebagai aktor serba-bisa, peran Willis memang tetap enak ditonton. Sayang, alur cerita yang disajikan duet Robb Cullen dan Mark Cullen begitu ringan, bahkan terlalu sederhana. Mungkin karena film ini memang ber-genre laga, kriminal yang setengah humor. Terlebih saat Jennifer Euston, si penentu peran, memasangkan Seann William Scott sebagai Dave, yang tampil jorok di "American Pie".
Dave inilah biang keonaran. Ketika Jimmy Monroe ingin menjual kartu baseball kesayangannya, Dave mencurinya, tepat ketika transaksi akan dilakukan di sebuah toko. Satu set kartu legendaries “Andy Pafko” itu bukan barang murah, karena nilainya saja bisa mencapai 83 ribu dolar AS. Bukan tanpa alasan Monroe menjual kartu pemberian ayahnya itu. Polisi veteran NYPD ini ingin membuktikan pada mantan istrinya, ia mampu membiayai kebutuhan pernikahan anaknya senilai 43 ribu dolar.
Perburuan Dave pun dimulai. Beberapa kejadian kocak pun dimunculkan. Hodges sering berlakon tidak pada tempatnya, sehingga film ini terasa janggal dan mengganggu. Namun, inilah hebatnya Hollywood, persoalan sepele pun bisa dibuat film asyik. Ketegangan hadir saat Dave mengaku bahwa kartu baseball itu dijual ke gembong narkoba New York, Poh Boy (Guillermo Diaz).
Persoalan makin rumit, karena adik kesayangan Poh Boy, Juan (Cory Fernandez), tewas saat kejar-kejaran dengan Monroe dan Hodges di dalam pemakaman. Beruntung film ini masih menampilkan wanita cantik Anna de la Reguera, yang memukau saat memerankan Gabriela, si pembawa flash drive yang menyimpan begitu banyak transaksi Poh Boy.
Ujung film ini tentu saja bisa anda tebak. Poh Boy tewas, dan Gabriela yang terandera bisa selamat. Serta pernihakan anak Monroe tetap bisa berlangsung.
Cuma, ini yang di luar dugaan : kartu baseball yang menjadi inti cerita justru hancur, terkena serangan mereka sendiri, saat menyarangkan peluru di dada kiri Poh Boy. Sebuah satire yang mengejutkan! []
Gelora: 27:04:2010
Rabu, 21 April 2010
Kejujuran Setengah Hati
Ulasan Film "Green Zone
Apa jadinya jika sebuah berita hanya mengandalkan pada satu sumber, tanpa cek ulang. Padahal, isu yang diangkat begitu sensitif. Lebih merepotkan lagi, laporan ini dimuat dalam satu surat kabar terkemuka : Wall Street Journal.
Irak yang berkecamuk di awal tahun 2003 begitu menyudutkan Amerika Serikat (AS). Isu Pemerintahan Saddam Hussein soal Weapons of Mass Destruction (WMD) atau senjata pemusnah massal benar-benar harus bisa dibuktikan. Hanya alasan itulah AS mampu menjustifikasi agresinya. Film Green Zone (Universal) sungguh sebuah karya yang ingin mereposisi wajah AS secara tanggung. Ingin berusaha jujur, tapi di akhir cerita tetap dibiarkan menggantung. Atau jangan-jangan secara diam-diam memang tidak ingin disalahkan.
Untuk tugas maha berat itulah maka, AS mengirim Kepala Perwira Tinggi Roy Miller (Matt Damon) . Dalam keterbatasan waktu yang dimiliki Miller harus bekerja cepat.
Dokumen proyek WMD Saddam didapat Lawrie Dyne, sang reporter, rupanya dari sumber kedua, seorang petinggi di Washington. Sumber utamanya adalah seseorang yang disamarkan : “Magellan”. Ia seorang Irak. Berangkat dari sumber itulah, laporan itu muncul. Miller yang frustasi karena selalu gagal menemukan senjata pemusnah massal itu mulai curiga ada sesuatu yang janggal. Ia bahkan tegas mengatakan laporan inteligen tidak bisa dipercaya.
Lawrie sendiri sebenarnya sudah mencoba mencari data tambahan ke berbagai sumber, tetapi selalu dihalangi oleh pejabat di Pentagon. Jelas, tujuannya adalah untuk membuat isu itu berkembang seperti yang diyakini saat ini.
Paul Greengrass, sang sutradara, sengaja menciptakan konflik internal di dalam misi ini. Persis seperti ketika ia menggarap film “Bourne Supremacy” dan ”The Bourne Ultimatum”. Entah mengapa Matt Damon selalu ditokohkan sebagai orang yang kerap berseberangan dengan sebuah misi, dan selalu soal inteligen.
Film berdurasi 1 jam 45 menit ini memang penuh ketegangan. Layaknya film perang, banyak sekali gambar bergoyang karena menggunakan teknik hand-held. Tentu maksudnya agar anda seolah berada dalam kancah konflik ketika menontonnya. Yang menarik, film ini juga soal perang inteligen.
Bagaimana kemudian, Miller ternyata juga didukung secara diam-diam oleh kepala CIA Bagdad Martin Brown (Brendan Gleeson). Ambisi Miller untuk mengungkap kebohongan laporan soal WMD awalnya berjalan mulus, berkat bantuan Freddy (Khalid Abdalla), seorang warga Irak.
Sayangnya, gerakan mereka terendus. Miller harus berkejaran dengan pasukan lain mengejar sumber penting laporan palsu itu : Mohammed Al Rawi. Tak jelas alasan apa yang membuat Al Rawi harus membuat laporan bohong dan disebarkan ke inteligen AS. Mungkin lawan politik Saddam? Yang pasti ia menyesali keputusannya. Dan terang-terangan ingin memerangi pasukan AS.
Kisah ini memang lumayan menarik. Mungkin karena diinspirasi dari sebuah buku karya Rajiv Chandrasekran berjudul ‘Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq’s Green Zone’. Namun, akhir film yang dibuat di Maroko, Inggris dan Spanyol ini sungguh tidak enak.
Memang, Miller dengan begitu emosi bisa menyebarkan laporan inteligennya pada media, termasuk Wall Street Journal. Cuma ini yang membuat Lawrie benar-benar terpukul. Kredibilitasnya sebagai reporter dipertaruhkan. Miller terang-terangan membantah laporan investigasi Lawrie. Tajuk laporan Miller : “Falsification of MWD Intel, The Truth About “Magellan”.
Apakah laporan Miller lantas dipercaya? Belum tentu. Sumber kunci kebohongan : Mohammed “Magellan” Al Rawi ditembak Freddy, yang kecewa negaranya “dijual”. []
Bojong Kulur: 22:04:2010
Apa jadinya jika sebuah berita hanya mengandalkan pada satu sumber, tanpa cek ulang. Padahal, isu yang diangkat begitu sensitif. Lebih merepotkan lagi, laporan ini dimuat dalam satu surat kabar terkemuka : Wall Street Journal.
Irak yang berkecamuk di awal tahun 2003 begitu menyudutkan Amerika Serikat (AS). Isu Pemerintahan Saddam Hussein soal Weapons of Mass Destruction (WMD) atau senjata pemusnah massal benar-benar harus bisa dibuktikan. Hanya alasan itulah AS mampu menjustifikasi agresinya. Film Green Zone (Universal) sungguh sebuah karya yang ingin mereposisi wajah AS secara tanggung. Ingin berusaha jujur, tapi di akhir cerita tetap dibiarkan menggantung. Atau jangan-jangan secara diam-diam memang tidak ingin disalahkan.
Untuk tugas maha berat itulah maka, AS mengirim Kepala Perwira Tinggi Roy Miller (Matt Damon) . Dalam keterbatasan waktu yang dimiliki Miller harus bekerja cepat.
Dokumen proyek WMD Saddam didapat Lawrie Dyne, sang reporter, rupanya dari sumber kedua, seorang petinggi di Washington. Sumber utamanya adalah seseorang yang disamarkan : “Magellan”. Ia seorang Irak. Berangkat dari sumber itulah, laporan itu muncul. Miller yang frustasi karena selalu gagal menemukan senjata pemusnah massal itu mulai curiga ada sesuatu yang janggal. Ia bahkan tegas mengatakan laporan inteligen tidak bisa dipercaya.
Lawrie sendiri sebenarnya sudah mencoba mencari data tambahan ke berbagai sumber, tetapi selalu dihalangi oleh pejabat di Pentagon. Jelas, tujuannya adalah untuk membuat isu itu berkembang seperti yang diyakini saat ini.
Paul Greengrass, sang sutradara, sengaja menciptakan konflik internal di dalam misi ini. Persis seperti ketika ia menggarap film “Bourne Supremacy” dan ”The Bourne Ultimatum”. Entah mengapa Matt Damon selalu ditokohkan sebagai orang yang kerap berseberangan dengan sebuah misi, dan selalu soal inteligen.
Film berdurasi 1 jam 45 menit ini memang penuh ketegangan. Layaknya film perang, banyak sekali gambar bergoyang karena menggunakan teknik hand-held. Tentu maksudnya agar anda seolah berada dalam kancah konflik ketika menontonnya. Yang menarik, film ini juga soal perang inteligen.
Bagaimana kemudian, Miller ternyata juga didukung secara diam-diam oleh kepala CIA Bagdad Martin Brown (Brendan Gleeson). Ambisi Miller untuk mengungkap kebohongan laporan soal WMD awalnya berjalan mulus, berkat bantuan Freddy (Khalid Abdalla), seorang warga Irak.
Sayangnya, gerakan mereka terendus. Miller harus berkejaran dengan pasukan lain mengejar sumber penting laporan palsu itu : Mohammed Al Rawi. Tak jelas alasan apa yang membuat Al Rawi harus membuat laporan bohong dan disebarkan ke inteligen AS. Mungkin lawan politik Saddam? Yang pasti ia menyesali keputusannya. Dan terang-terangan ingin memerangi pasukan AS.
Kisah ini memang lumayan menarik. Mungkin karena diinspirasi dari sebuah buku karya Rajiv Chandrasekran berjudul ‘Imperial Life in the Emerald City: Inside Iraq’s Green Zone’. Namun, akhir film yang dibuat di Maroko, Inggris dan Spanyol ini sungguh tidak enak.
Memang, Miller dengan begitu emosi bisa menyebarkan laporan inteligennya pada media, termasuk Wall Street Journal. Cuma ini yang membuat Lawrie benar-benar terpukul. Kredibilitasnya sebagai reporter dipertaruhkan. Miller terang-terangan membantah laporan investigasi Lawrie. Tajuk laporan Miller : “Falsification of MWD Intel, The Truth About “Magellan”.
Apakah laporan Miller lantas dipercaya? Belum tentu. Sumber kunci kebohongan : Mohammed “Magellan” Al Rawi ditembak Freddy, yang kecewa negaranya “dijual”. []
Bojong Kulur: 22:04:2010
Selasa, 20 April 2010
Mencari Aku
Kami memanggilnya Ivan. Sepanjang sekolah, aku selalu menghindari anak ini. Sebenarnya ia tak pantas disebut anak. Usianya memang tidak aku tahu persis. Dari badannya yang besar, betisnya yang talas, dan telapak kakinya yang piring, aku menduga ia sepantaran anak SMP kelas 3.
Ia gila atau kami yang gila. Tiap melewatinya kami bergidik sendiri. Wajahnya besi. Minus ekspesi. Matanya tajam menyayat. Dahinya meneliti setiap yang lewat. Bukan saja kami, anjing juga dipelototinya. Ivan memang ganjil. Usai menyimak lingkungan, tiba-tiba tawanya bisa begitu meledak. Terkekeh-kekeh sendiri. Udelnya yang bodong sampai-sampai tersembul, karena tersibak kaos longgarnya.
Keganjilan Ivan sudah lama. Sebelum pindah ke tempat tinggalku sekarang, setahuku ia sudah ada. Ia orang kaya. Rumahnya gedong, bertingkat dua setengah. Bapaknya seorang pejabat di sebuah BUMN. Ibunya sekretaris di perusahaan minyak asing. Jadi jelas, bukan karena uang Ivan tidak sekolah. Ivan tidak gila. Hanya kami saja yang dianggapnya gila.
Suatu kali, Ivan berlaku sopan. Wajah besinya tak tampak. Senyumnya mengembang. Bahkan menegur kami yang sudah ketakutan. Kami jalan melipir hingga ke tepi kali. Ia justru makin gencar mendekat. Kami terbirit. Ia ikut lari. Ia menoleh ke belakang. Dikiranya kami dikejar orang gila. Ia ikut-ikutan lari.
“Mana orang gilanya?” ia berteriak.
“Cepetan ia ngejar terus!” aku tak kalah berteriak.
Ivan makin mempercepat ayunan kakinya.
“Mana orang gilanya?” lagi-lagi Ivan menoleh ke belakang.
Kami diselamatkan gerbang sekolah. Penjaga sekolah cepat-cepat menutup pintu pagar dan menghardik Ivan dengan keras.
“Husss, sana pergi!”
“Pak, katanya ada orang gila. Aku takut. Mo masuk..” Ivan melolong iba.
“Ya kamu orang gilanya!”
Tawa kami spontan berderai. Tapi tidak lama. Wajah besi Ivan tiba-tiba keluar. Aku tahu, ia bukan Ivan yang tadi. Kakinya seperti tertancap. Dua tangannya kokoh mencengkram pagar besi. Dagunya sembilan puluh derajat dengan leher. Matanya seperti mau keluar.
“Sudaaaah, sana pergi..” suara Mang Doel pelan.
Ivan tak beranjak. Bahkan makin tegas. Melihat gelagat ini, Mang Doel, yang sudah lima belas tahun menjaga sekolah SD kami paham. Ia meninggalkan Ivan sendirian, karena memang kebetulan lonceng masuk sudah berdentang. Meladeninya hanya membuang energi. Ia sepanjang hari bisa berpatung seperti itu. Kalau tidak dibujuk oleh Iyam, pengasuhnya, ia tidak akan bergerak.
Kejadian ini bukan pertama. Sebelumnya juga begitu. Ia merasa waras sendiri. Dan memang, ketika kewarasannya timbul, tidak ada hal aneh yang ditunjukkan. Hanya kami saja yang gila. Ketakutan sendiri oleh kegilaannya. Meski prilakunya tidak biasa, ia tidak pernah melukai. Justru kami yang sering melukainya.
Terkadang, kami sering meledeknya. “Ivan gilaa..aa…Ivan gilaaa..aa…Ivan gilaa..aa….”
Ia tetap tenang. Ketenangannya membuat kami tidak puas. Sesekali kami lempari ia dengan kerikil. Ivan sama sekali tidak membalas. Ayam yang sedang kawin justru lebih menarik perhatiannya. Entahlah mungkin ia membayangkan si jantan adalah dirinya. Aku tidak berlebihan, sebagai anak laki-laki yang mungkin sudah balikh ia juga tertarik pada perempuan.
Ivan gemar betul mengejar-ngejar anak perempuan, dibandingkan kami yang melemparinya dengan krikil. Ia candu dengan suara-suara mereka. Ketakutan dan teriakan anak-anak perempuan itu makin membangkitkan gairahnya untuk makin gencar mengejar.
Kalian jangan salah duga, ia tidak memiliki kelainan seksual. Begitu anak-anak itu benar-benar ketakutan Ivan berhenti. Langkahnya surut kalau ia mendapati teman perempuan kami sudah meringkuk ketakutan. Cuma sampai disitu. Tidak lebih. Ivan sekedar mencari sensasi dari ketakutan.
***
Siang ini, aku pulang lebih lama. Ada beberapa les yang harus aku ikuti. Anak kelas enam SD memang begitu. Beberapa les yang kuikuti sebenarnya membosankan. Matematika yang bukan kesukaanku terpaksa harus dijejalkan-jejalkan ke dalam otak. Ini bukan wajib, tapi guru tidak bertanggung-jawab kalau nanti tidak dapat SMP negeri. Lho?!
Kebetulan tiga temanku yang biasa searah tidak dapat ikut les. Ada yang sakit. Menjemput Budenya di terminal Pulo Gadung dan satu temanku tidak jelas. Ia sih masuk, hanya saja, usai pelajaran terakhir izin ke kamar mandi, lantas menghilang.
Aku menyusuri jalan yang tidak biasa. Lebih dekat memang, hanya saja jalan ini agak sepi. Kalau dengan teman-temanku lebih memutar. Meski begitu aku lebih suka karena bisa bergurau sepanjang jalan.
Aku menyusuri jalan yang tidak biasa. Lebih dekat memang, hanya saja jalan ini agak sepi. Kalau dengan teman-temanku lebih memutar. Meski begitu aku lebih suka karena bisa bergurau sepanjang jalan. Dengan perlahan aku melawati gili-gili jalan yang berundak, sisa penggalian yang becek.
Dari belakang, aku mendengar langkah orang. Terdengar rusuh sekali. Dari caranya berjalan, aku tahu orang ini pasti sedang tidak stabil. Seperti kekurangan waktu, ia menerabas pundakku dengan keras, sampai-sampai aku nyaris tersungkur.
Sosok bongsor itu menoleh kebelakang. Baru beberapa langkah melewatiku ia berbalik. Ia mencermatiku dengan teliti. Wajah besinya lagi-lagi dimunculkan. Ia seperti hendak menerkamku. Aku mengigil. Lututku bergerak-gerak sendiri. Gigi-gigi atas-bawahku mengunci satu dengan lainnya. Hanya bibirku saja yang sulit dihentikan. Bergeletar, mengeluarkan suara yang tak kupahami sendiri.
Ia menghampiriku dengan tegap. Langkahnya yakin. Dalam jarak satu langkah, ia tiba-tiba berhenti.
“Aku Ivan,” tegasnya sambil menyodorkan tangannya yang penuh kapalen.
“A-aku Ahsani,” aku menyambut tangannya yang tiba-tiba terasa dingin.
Aku sendiri sulit menebak rasa batinku saat itu. Mengapa ia bisa begitu ramah. Atau jangan-jangan ini hanya strategi agar ia bisa mendekat dan, kemudian memperdayaiku. Aku harus pergi, batinku makin kencang.
Namun, Ivan menghalangiku. Tubuhnya yang besar menutupi jarak pandang lurusku. Aku tengok ke belakang, tak seorangpun lewat. Ivan masih tegar dihadapanku. Ia begitu menikmati ketakutanku. Tidak ada senyum. Cuma tatapan kosong merunduk ke mukaku.
Tiba-tiba ia menarik tanganku. Cekatan sekali, hingga aku sulit berkelit. Tangannya yang lebar melingkari tulang pergelangannku yang mungil. Diajaknya aku ke sebuah tanah lapang, yang ditumbuhi begitu banyak ilalang dan pohon liar. Ivan mengajakku duduk.
***
Kejadian siang itu sulit aku hapus. Besoknya aku seperti orang linglung. Aku kali ini berangkat sendiri. Lebih pagi, karena ada seseorang yang ingin kutemui. Ia sudah menunggu di tempat siang kemarin kami berbincang.
Pagi itu aku kembali diajaknya duduk-duduk. Berbincang yang tak tentu arah. Aku menikmati betul suasan seperti itu. Apalagi Ivan, ia memiliki teman sejati sekarang. Teman untuk bisa mencurahkan keluh kesahnya. Teman yang bisa diajak untuk melihat realita : bahwa dunia disekelilingnya sudah gila.
“Bukan…bukan aku yang gila…tapi mereka,” tegas Ivan berulang-ulang.
Aku mengamini saja perkataannya. Itu yang membuatnya tentram. Aku juga begitu. Aku merasa berada di dunia yang sama sekali berbeda. Kami kian akrab. Bukan cuma itu, kami makin menyatu satu dengan lainnya.
Ujian akhir tinggal dua pekan lagi. Teman-teman makin giat belajar. Tapi, aku makin tidak peduli. Aku lebih memilih bolos dan bermain dengan teman baruku. Aku juga tidak lagi peduli apa yang dinasehati guru. Orang tuaku juga menyerah. Dokterpun didatangkan ke rumahku. Padahal, aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku tidak gila. Pikiranku juga sehat.
Aku lari kencang meninggalkan lantai dua, kamarku. Ibu dan ayahku ikut mengejar. Aku makin kencang. Satpam rumahku juga ikut mengejar. Tapi karena tak ingin ambil risiko yang mengancam-ancamnya, aku dibiarkan pergi. Aku terus berlari, mencari Ivan, ke lapangan tempat kami biasa berbincang.
Hingga berkeliling tiga kali, aku tidak juga menemui Ivan. Hanya Iyam saya yang tiba-tiba muncul dari semak. Melihatnya hatiku luluh. Aku tak tahu mengapa dekat dengannya begitu damai. Ibuku tak sehangat ini kalau memeluk.
“Bi,…aku ingin dekat sama bibi terus,” aku memeluk Iyam begitu erat.
“Iya..iya. Tapi kamu harus pulang. Mereka menunggu.”
“Gak mau. Aku mau ketemu Ivan dulu,” suaraku mengeras.
Bi Iyam hanya tersenyum mendengar keinginanku. Ia tak memaksa, tapi ia memberikan solusi.
“Ya sudah nanti Bibi yang cari, kamu pulang dulu ya…”
Entah mengapa aku turuti kemauannya.
Di rumah aku sudah disambut beberapa orang. Ia membujuk-bujukku. Aku tetap berkukuh ingin menemui Ivan. Cuma ia yang bisa mengerti kondisiku. Dokter itu kembali tersenyum, persis seperti senyum Bi Iyam. Hanya ayah dan ibuku saja yang masih memasang muka tegang. Khawatir sekali kelihatannya.
Aku dibaringkan di kamaku lantai dua. Badanku tiba-tiba lelah, berkunang-kunang. Aku mendengar suara Ivan, juga mereka. Aku bangkit. Samar-sama aku mendengar perkataan mereka.
“Anak Bapak memang belum stabil. Kelihatannya butuh perawatan serius. Kalau perlu dibawa ke Rumah Sakit,” terang dokter muda itu.
“Tapi ia masih bisa sekolah,” ayahku membela.
“Iya tapi tetap belum stabil. Kadang-kadang muncul. Ini berbahaya, juga,” Dokter itu coba meyakinkan.
“Saya tidak mau, anak saya masuk SLB,” ayahku meninggi, “Aku juga tidak mau sampai ketahuan anak saya gagal mental.”
“Pak, Muhammad Ivan Ahsani itu butuh perawatan serius,” dokter itu mulai mengeras.
Kalimat terakhir ini seperti gledek siang hari yang menerabas ubun-ubun kepala. Aku, Ivan??? Bukan…bukan, mereka pasti salah. Aku Ahsani.Ivan itu sinting, gila…A-aku waras, masih bisa sekolah…mereka pasti salah.
Aku berontak. Teriak sekencang-kencangnya. Akan kubuktikan kalau Ivan itu ada. Dan, dia bukan aku. Ya, bukan aku. Ivan gila, aku waras. Aku berontak, tapi tubuh kecilku tak mampu menahan semua serbuan tangan-tangan itu. Aku menyerah.
***
Hanya Iyam yang sesekali menemuiku di sebuah kamar sempit dan bau ini. Teman-temanku yang lainnya sibuk berteriak-teriak. Menangis. Terbahak-bahak. Ayahku telah lama meninggalkanku, bersama ibuku yang sudah pergi besama laki-laki lain, begitu tahu kebohongan absolut tentang diriku. Iyam adalah ibu sejatiku. Ia yang merawatku, juga melahirkanku.
Ivan, akan tetap kucari. Hanya si sinting itu yang membuatku bisa dibui seperti orang gila….[]
Bojong Kulur: 20:04:2010
Ia gila atau kami yang gila. Tiap melewatinya kami bergidik sendiri. Wajahnya besi. Minus ekspesi. Matanya tajam menyayat. Dahinya meneliti setiap yang lewat. Bukan saja kami, anjing juga dipelototinya. Ivan memang ganjil. Usai menyimak lingkungan, tiba-tiba tawanya bisa begitu meledak. Terkekeh-kekeh sendiri. Udelnya yang bodong sampai-sampai tersembul, karena tersibak kaos longgarnya.
Keganjilan Ivan sudah lama. Sebelum pindah ke tempat tinggalku sekarang, setahuku ia sudah ada. Ia orang kaya. Rumahnya gedong, bertingkat dua setengah. Bapaknya seorang pejabat di sebuah BUMN. Ibunya sekretaris di perusahaan minyak asing. Jadi jelas, bukan karena uang Ivan tidak sekolah. Ivan tidak gila. Hanya kami saja yang dianggapnya gila.
Suatu kali, Ivan berlaku sopan. Wajah besinya tak tampak. Senyumnya mengembang. Bahkan menegur kami yang sudah ketakutan. Kami jalan melipir hingga ke tepi kali. Ia justru makin gencar mendekat. Kami terbirit. Ia ikut lari. Ia menoleh ke belakang. Dikiranya kami dikejar orang gila. Ia ikut-ikutan lari.
“Mana orang gilanya?” ia berteriak.
“Cepetan ia ngejar terus!” aku tak kalah berteriak.
Ivan makin mempercepat ayunan kakinya.
“Mana orang gilanya?” lagi-lagi Ivan menoleh ke belakang.
Kami diselamatkan gerbang sekolah. Penjaga sekolah cepat-cepat menutup pintu pagar dan menghardik Ivan dengan keras.
“Husss, sana pergi!”
“Pak, katanya ada orang gila. Aku takut. Mo masuk..” Ivan melolong iba.
“Ya kamu orang gilanya!”
Tawa kami spontan berderai. Tapi tidak lama. Wajah besi Ivan tiba-tiba keluar. Aku tahu, ia bukan Ivan yang tadi. Kakinya seperti tertancap. Dua tangannya kokoh mencengkram pagar besi. Dagunya sembilan puluh derajat dengan leher. Matanya seperti mau keluar.
“Sudaaaah, sana pergi..” suara Mang Doel pelan.
Ivan tak beranjak. Bahkan makin tegas. Melihat gelagat ini, Mang Doel, yang sudah lima belas tahun menjaga sekolah SD kami paham. Ia meninggalkan Ivan sendirian, karena memang kebetulan lonceng masuk sudah berdentang. Meladeninya hanya membuang energi. Ia sepanjang hari bisa berpatung seperti itu. Kalau tidak dibujuk oleh Iyam, pengasuhnya, ia tidak akan bergerak.
Kejadian ini bukan pertama. Sebelumnya juga begitu. Ia merasa waras sendiri. Dan memang, ketika kewarasannya timbul, tidak ada hal aneh yang ditunjukkan. Hanya kami saja yang gila. Ketakutan sendiri oleh kegilaannya. Meski prilakunya tidak biasa, ia tidak pernah melukai. Justru kami yang sering melukainya.
Terkadang, kami sering meledeknya. “Ivan gilaa..aa…Ivan gilaaa..aa…Ivan gilaa..aa….”
Ia tetap tenang. Ketenangannya membuat kami tidak puas. Sesekali kami lempari ia dengan kerikil. Ivan sama sekali tidak membalas. Ayam yang sedang kawin justru lebih menarik perhatiannya. Entahlah mungkin ia membayangkan si jantan adalah dirinya. Aku tidak berlebihan, sebagai anak laki-laki yang mungkin sudah balikh ia juga tertarik pada perempuan.
Ivan gemar betul mengejar-ngejar anak perempuan, dibandingkan kami yang melemparinya dengan krikil. Ia candu dengan suara-suara mereka. Ketakutan dan teriakan anak-anak perempuan itu makin membangkitkan gairahnya untuk makin gencar mengejar.
Kalian jangan salah duga, ia tidak memiliki kelainan seksual. Begitu anak-anak itu benar-benar ketakutan Ivan berhenti. Langkahnya surut kalau ia mendapati teman perempuan kami sudah meringkuk ketakutan. Cuma sampai disitu. Tidak lebih. Ivan sekedar mencari sensasi dari ketakutan.
***
Siang ini, aku pulang lebih lama. Ada beberapa les yang harus aku ikuti. Anak kelas enam SD memang begitu. Beberapa les yang kuikuti sebenarnya membosankan. Matematika yang bukan kesukaanku terpaksa harus dijejalkan-jejalkan ke dalam otak. Ini bukan wajib, tapi guru tidak bertanggung-jawab kalau nanti tidak dapat SMP negeri. Lho?!
Kebetulan tiga temanku yang biasa searah tidak dapat ikut les. Ada yang sakit. Menjemput Budenya di terminal Pulo Gadung dan satu temanku tidak jelas. Ia sih masuk, hanya saja, usai pelajaran terakhir izin ke kamar mandi, lantas menghilang.
Aku menyusuri jalan yang tidak biasa. Lebih dekat memang, hanya saja jalan ini agak sepi. Kalau dengan teman-temanku lebih memutar. Meski begitu aku lebih suka karena bisa bergurau sepanjang jalan.
Aku menyusuri jalan yang tidak biasa. Lebih dekat memang, hanya saja jalan ini agak sepi. Kalau dengan teman-temanku lebih memutar. Meski begitu aku lebih suka karena bisa bergurau sepanjang jalan. Dengan perlahan aku melawati gili-gili jalan yang berundak, sisa penggalian yang becek.
Dari belakang, aku mendengar langkah orang. Terdengar rusuh sekali. Dari caranya berjalan, aku tahu orang ini pasti sedang tidak stabil. Seperti kekurangan waktu, ia menerabas pundakku dengan keras, sampai-sampai aku nyaris tersungkur.
Sosok bongsor itu menoleh kebelakang. Baru beberapa langkah melewatiku ia berbalik. Ia mencermatiku dengan teliti. Wajah besinya lagi-lagi dimunculkan. Ia seperti hendak menerkamku. Aku mengigil. Lututku bergerak-gerak sendiri. Gigi-gigi atas-bawahku mengunci satu dengan lainnya. Hanya bibirku saja yang sulit dihentikan. Bergeletar, mengeluarkan suara yang tak kupahami sendiri.
Ia menghampiriku dengan tegap. Langkahnya yakin. Dalam jarak satu langkah, ia tiba-tiba berhenti.
“Aku Ivan,” tegasnya sambil menyodorkan tangannya yang penuh kapalen.
“A-aku Ahsani,” aku menyambut tangannya yang tiba-tiba terasa dingin.
Aku sendiri sulit menebak rasa batinku saat itu. Mengapa ia bisa begitu ramah. Atau jangan-jangan ini hanya strategi agar ia bisa mendekat dan, kemudian memperdayaiku. Aku harus pergi, batinku makin kencang.
Namun, Ivan menghalangiku. Tubuhnya yang besar menutupi jarak pandang lurusku. Aku tengok ke belakang, tak seorangpun lewat. Ivan masih tegar dihadapanku. Ia begitu menikmati ketakutanku. Tidak ada senyum. Cuma tatapan kosong merunduk ke mukaku.
Tiba-tiba ia menarik tanganku. Cekatan sekali, hingga aku sulit berkelit. Tangannya yang lebar melingkari tulang pergelangannku yang mungil. Diajaknya aku ke sebuah tanah lapang, yang ditumbuhi begitu banyak ilalang dan pohon liar. Ivan mengajakku duduk.
***
Kejadian siang itu sulit aku hapus. Besoknya aku seperti orang linglung. Aku kali ini berangkat sendiri. Lebih pagi, karena ada seseorang yang ingin kutemui. Ia sudah menunggu di tempat siang kemarin kami berbincang.
Pagi itu aku kembali diajaknya duduk-duduk. Berbincang yang tak tentu arah. Aku menikmati betul suasan seperti itu. Apalagi Ivan, ia memiliki teman sejati sekarang. Teman untuk bisa mencurahkan keluh kesahnya. Teman yang bisa diajak untuk melihat realita : bahwa dunia disekelilingnya sudah gila.
“Bukan…bukan aku yang gila…tapi mereka,” tegas Ivan berulang-ulang.
Aku mengamini saja perkataannya. Itu yang membuatnya tentram. Aku juga begitu. Aku merasa berada di dunia yang sama sekali berbeda. Kami kian akrab. Bukan cuma itu, kami makin menyatu satu dengan lainnya.
Ujian akhir tinggal dua pekan lagi. Teman-teman makin giat belajar. Tapi, aku makin tidak peduli. Aku lebih memilih bolos dan bermain dengan teman baruku. Aku juga tidak lagi peduli apa yang dinasehati guru. Orang tuaku juga menyerah. Dokterpun didatangkan ke rumahku. Padahal, aku merasa tubuhku baik-baik saja. Aku tidak gila. Pikiranku juga sehat.
Aku lari kencang meninggalkan lantai dua, kamarku. Ibu dan ayahku ikut mengejar. Aku makin kencang. Satpam rumahku juga ikut mengejar. Tapi karena tak ingin ambil risiko yang mengancam-ancamnya, aku dibiarkan pergi. Aku terus berlari, mencari Ivan, ke lapangan tempat kami biasa berbincang.
Hingga berkeliling tiga kali, aku tidak juga menemui Ivan. Hanya Iyam saya yang tiba-tiba muncul dari semak. Melihatnya hatiku luluh. Aku tak tahu mengapa dekat dengannya begitu damai. Ibuku tak sehangat ini kalau memeluk.
“Bi,…aku ingin dekat sama bibi terus,” aku memeluk Iyam begitu erat.
“Iya..iya. Tapi kamu harus pulang. Mereka menunggu.”
“Gak mau. Aku mau ketemu Ivan dulu,” suaraku mengeras.
Bi Iyam hanya tersenyum mendengar keinginanku. Ia tak memaksa, tapi ia memberikan solusi.
“Ya sudah nanti Bibi yang cari, kamu pulang dulu ya…”
Entah mengapa aku turuti kemauannya.
Di rumah aku sudah disambut beberapa orang. Ia membujuk-bujukku. Aku tetap berkukuh ingin menemui Ivan. Cuma ia yang bisa mengerti kondisiku. Dokter itu kembali tersenyum, persis seperti senyum Bi Iyam. Hanya ayah dan ibuku saja yang masih memasang muka tegang. Khawatir sekali kelihatannya.
Aku dibaringkan di kamaku lantai dua. Badanku tiba-tiba lelah, berkunang-kunang. Aku mendengar suara Ivan, juga mereka. Aku bangkit. Samar-sama aku mendengar perkataan mereka.
“Anak Bapak memang belum stabil. Kelihatannya butuh perawatan serius. Kalau perlu dibawa ke Rumah Sakit,” terang dokter muda itu.
“Tapi ia masih bisa sekolah,” ayahku membela.
“Iya tapi tetap belum stabil. Kadang-kadang muncul. Ini berbahaya, juga,” Dokter itu coba meyakinkan.
“Saya tidak mau, anak saya masuk SLB,” ayahku meninggi, “Aku juga tidak mau sampai ketahuan anak saya gagal mental.”
“Pak, Muhammad Ivan Ahsani itu butuh perawatan serius,” dokter itu mulai mengeras.
Kalimat terakhir ini seperti gledek siang hari yang menerabas ubun-ubun kepala. Aku, Ivan??? Bukan…bukan, mereka pasti salah. Aku Ahsani.Ivan itu sinting, gila…A-aku waras, masih bisa sekolah…mereka pasti salah.
Aku berontak. Teriak sekencang-kencangnya. Akan kubuktikan kalau Ivan itu ada. Dan, dia bukan aku. Ya, bukan aku. Ivan gila, aku waras. Aku berontak, tapi tubuh kecilku tak mampu menahan semua serbuan tangan-tangan itu. Aku menyerah.
***
Hanya Iyam yang sesekali menemuiku di sebuah kamar sempit dan bau ini. Teman-temanku yang lainnya sibuk berteriak-teriak. Menangis. Terbahak-bahak. Ayahku telah lama meninggalkanku, bersama ibuku yang sudah pergi besama laki-laki lain, begitu tahu kebohongan absolut tentang diriku. Iyam adalah ibu sejatiku. Ia yang merawatku, juga melahirkanku.
Ivan, akan tetap kucari. Hanya si sinting itu yang membuatku bisa dibui seperti orang gila….[]
Bojong Kulur: 20:04:2010
Minggu, 18 April 2010
Kisah Robot dan Anak Miskin
Fiksimini-3:
1. Robot
Ku ajak kau mendengar, melihat, supaya kamu bisa belajar merasa. Tapi tetap tak bisa. Ah, aku lupa kamu cuma robot: gerakmu pasti sesuai perintah.
2.Gerobak
Bocah itu berkeluh, "Bu, aku tak mau ditaruh digerobak!"
"Maaf Nak, Ibu tak sanggup sewa ambulance sampai ke makammu"
3.Cahaya Iman
Lesatan itu cuma bisa ditangkap oleh mata. Ya, mata hati, bukan kasatmata. Ia sebuah keimanan.
Gelora: 18:04:2010
1. Robot
Ku ajak kau mendengar, melihat, supaya kamu bisa belajar merasa. Tapi tetap tak bisa. Ah, aku lupa kamu cuma robot: gerakmu pasti sesuai perintah.
2.Gerobak
Bocah itu berkeluh, "Bu, aku tak mau ditaruh digerobak!"
"Maaf Nak, Ibu tak sanggup sewa ambulance sampai ke makammu"
3.Cahaya Iman
Lesatan itu cuma bisa ditangkap oleh mata. Ya, mata hati, bukan kasatmata. Ia sebuah keimanan.
Gelora: 18:04:2010
Rabu, 14 April 2010
Antara Cinta dan Ideologi
Sinopsis dan Tinjauan Film "Form Paris With Love"
Jika anda pemuja cinta, bersiaplah kecewa. Ternyata, cinta bukan segalanya. Tak percaya? coba saja tengok adegan di penghujung film “From Paris With Love”. Dengan bengis agen CIA James Reese (Jonathan Rhys Meyers) menembak pujaan hatinya, Caroline (Kasia Smutniak), tepat di tengah kening. Demi misi penyelamatan, ia harus melakukan itu. Lantas dimana kekuatan cinta?
Reese memang tidak ada pilihan untuk menembak mati kekasihnya, yang tak lain teroris Pakistan yang sengaja disusupkan pada sebuah acara resmi kenegaraan Africa Summit di Paris. Juga tidak ada cinta sejati, kecuali ideologi. Caroline adalah sebuah misi. Di sekujurnya dilingkari bom yang siap membinasakan para delegasi.
Teroris paham betul, kelemahan pria salah satunya ada pada kemolekan perempuan. Caroline yang sejatinya tak sungguh mencintai staf Dubes AS untuk Prancis Bannington itu, memberinya sebuah cincin tunangan, yang juga berfungsi sebagai sebuah sinyal. Kebutaan cinta membuat segala gerak Reese mudah terpantau. Sikap melankolis seperti ini memang berbahaya untuk seorang agen rahasia.
Itulah barangkali alasan CIA mengirim Charlie Wax (John Travolta). Pria gempal, berkepala plontos ini disosokkan Pierre Morel, sang sutradara, sebagai pria kejam, tegas, slengean, juga humoris. Wax, memang mirip pemoles cat kendaraan. Ia dengan gampang ‘membersihkan’ siapa saja yang membahayakan misi.
Termasuk teman wanita Caroline, Nicole, yang secara kebetulan menerima telepon nyasar. Di saat mereka berempat bersiap makan malam, dengan tanpa belas kasih Nicole ditembak di pelipis kiri oleh Wax, hanya gara-gara ia menyebut kata ‘Rose’ : sebuah kata sandi teroris yang dipahami Wax. Film ini memang jauh dari judulnya. Mungkin ingin menyamarkan kesan kejam yang sungguh diumbar dalam film berdurasi 1,5 jam itu.
Aksi yang dipertontonkan memang asyik untuk dilihat, terutama bagi penggemar film kekerasan. Juga kalau anda senang film yang memamerkan gadget, atau detektif mungkin sayang untuk melewatkan film ini. Masalah utama film ini adalah, di salah satu adegannya mengapa harus dipampang besar-besar tulisan Allah dalam aksara Arab, pada sebuah dinding markas teroris yang disambangi Wax dan Reese.
Rasanya itu tak perlu, karena seolah ingin mengidentikan aksi teror adalah sebuah perintah agama. Sungguh menyakitkan!!!
Anehnya lagi, bagaimana bisa Caroline mampu menembus barikade pengawasan super ketat, padahal ia membawa begitu banyak bom mematikan meski tubuhnya dibalut jubah kuning hingga menutup kepala. Apa karena ID yang dicurinya dari Reese.Terlalu konyol kalau begitu…
Yang pasti, produk-produk film garapan Hollywood memang sebuah propaganda. Misi dibalut sebuah cerita. Penonton dituntut kritis dalam menyaksikan sebuah film. Jangan terlena oleh kehebatan aksi dan animasinya yang jujur diakui memang enak untuk ditonton. []
Bojong Kulur: 08:04:10
Jika anda pemuja cinta, bersiaplah kecewa. Ternyata, cinta bukan segalanya. Tak percaya? coba saja tengok adegan di penghujung film “From Paris With Love”. Dengan bengis agen CIA James Reese (Jonathan Rhys Meyers) menembak pujaan hatinya, Caroline (Kasia Smutniak), tepat di tengah kening. Demi misi penyelamatan, ia harus melakukan itu. Lantas dimana kekuatan cinta?
Reese memang tidak ada pilihan untuk menembak mati kekasihnya, yang tak lain teroris Pakistan yang sengaja disusupkan pada sebuah acara resmi kenegaraan Africa Summit di Paris. Juga tidak ada cinta sejati, kecuali ideologi. Caroline adalah sebuah misi. Di sekujurnya dilingkari bom yang siap membinasakan para delegasi.
Teroris paham betul, kelemahan pria salah satunya ada pada kemolekan perempuan. Caroline yang sejatinya tak sungguh mencintai staf Dubes AS untuk Prancis Bannington itu, memberinya sebuah cincin tunangan, yang juga berfungsi sebagai sebuah sinyal. Kebutaan cinta membuat segala gerak Reese mudah terpantau. Sikap melankolis seperti ini memang berbahaya untuk seorang agen rahasia.
Itulah barangkali alasan CIA mengirim Charlie Wax (John Travolta). Pria gempal, berkepala plontos ini disosokkan Pierre Morel, sang sutradara, sebagai pria kejam, tegas, slengean, juga humoris. Wax, memang mirip pemoles cat kendaraan. Ia dengan gampang ‘membersihkan’ siapa saja yang membahayakan misi.
Termasuk teman wanita Caroline, Nicole, yang secara kebetulan menerima telepon nyasar. Di saat mereka berempat bersiap makan malam, dengan tanpa belas kasih Nicole ditembak di pelipis kiri oleh Wax, hanya gara-gara ia menyebut kata ‘Rose’ : sebuah kata sandi teroris yang dipahami Wax. Film ini memang jauh dari judulnya. Mungkin ingin menyamarkan kesan kejam yang sungguh diumbar dalam film berdurasi 1,5 jam itu.
Aksi yang dipertontonkan memang asyik untuk dilihat, terutama bagi penggemar film kekerasan. Juga kalau anda senang film yang memamerkan gadget, atau detektif mungkin sayang untuk melewatkan film ini. Masalah utama film ini adalah, di salah satu adegannya mengapa harus dipampang besar-besar tulisan Allah dalam aksara Arab, pada sebuah dinding markas teroris yang disambangi Wax dan Reese.
Rasanya itu tak perlu, karena seolah ingin mengidentikan aksi teror adalah sebuah perintah agama. Sungguh menyakitkan!!!
Anehnya lagi, bagaimana bisa Caroline mampu menembus barikade pengawasan super ketat, padahal ia membawa begitu banyak bom mematikan meski tubuhnya dibalut jubah kuning hingga menutup kepala. Apa karena ID yang dicurinya dari Reese.Terlalu konyol kalau begitu…
Yang pasti, produk-produk film garapan Hollywood memang sebuah propaganda. Misi dibalut sebuah cerita. Penonton dituntut kritis dalam menyaksikan sebuah film. Jangan terlena oleh kehebatan aksi dan animasinya yang jujur diakui memang enak untuk ditonton. []
Bojong Kulur: 08:04:10
Langganan:
Postingan (Atom)



