Senin, 12 April 2010

aah..

waktu aku bilang kamu cantik
kamu bilang ah, becanda
waktu aku bilang kamu manis
kamu bilang ah, bisa aja
waktu aku bilang kamu baik
kamu bilang ah, ‘be’ aja dong
tapi, waktu kamu tahu aku sayang kamu
kamu nggak bilang apa-apa

mungkin saat itu aku beropini
ah, barangkali ia masih bingung
mungkin saat itu aku berkhayal
ah, seandainya ia suka aku
mungkin saat itu aku mikir
ah, nggak bakalan ia suka aku
atau mungkin saat itu aku bilang
aduuh, bingung sekaleeee…

suatu hari dan bulan di tahun 1993
kupersembahkan pada pacarku di 1997-an

Minggu, 04 April 2010

Senin yang Tak Terulang

Senin ini, mestinya jadwal Vito les piano Yamaha. Nyaris sembilan bulan anakku itu mengikuti kursus pioano di CitraGrand Cibubur. Pertama kali kami memasukkannya ke sana, bertumpuk harapan  muncul deras di kepala.  Kami ingin Vito kelak  bisa seperti para komposer muda yang sudah piawai mengaransemen lagu. Kalau tidak bisa juga tak apa-apa. Tapi mudah-mudahan bisa menyeimbangkan jiwa : antara pelajaran akademik yang membebani, juga musik.

Kami selalu membayangkan ia anak yang tidak saja pandai, taat beragama, namun piawai pula bermain musik. Kami, ingin sekali dimainkan musik, di saat kami letih seharian bekerja. Ingin sekali ia mengiringi kami bernyanyi meski suara ini pas-pas-an.

Namun, impian itu sementara kami tunda. Vito dengan segala keyakinannya minta berhenti kursus. Aku menduga  ia trauma karena dua kali kursus aku antar dengan motor. Dalam dua kali perjalanan pertamanya itu, kami diguyur hujan deras. Terakhir, bahkan sampai motor kami mogok persis di tengah genangan, yang merendam separuh motor thunder silver kami.

Kami coba konsultasi ke kakak gurunya. Ia dibujuk untuk tetap kursus. Berhasil. Tapi, cuma berjalan satu pertemuan. Selanjutnya ia enggan berangkat. Segala upaya kami kerahkan. Mulai dijanjikan untuk tidak lagi naik motor, ia tetap menolak. Kami juga pernah membelikan, juga menjanjikan untuk jajan makanan kesukaannya asal tetap kurus. Sukses sekali, berikutnya upaya ini tak lagi berhasil.

Kami tanya sungguh-sungguh. Kami juga terus terang kalau berharap ia bisa handal di depan piano. Ia hanya berujar, “Aku sih, sebenarnya nggak mau, tapi kalau bunda-ayah maksa gimana lagi.”
Ia menganggap, bujuk rayu kami berikut trik di dalamnya  sebagai ‘paksaan’.

“Lho, ayah sama bunda gak maksa kok,” aku menegaskan.
“Kalu kamu gak mau lagi juga gak papa. Cuma kan sayang udah bayar mahal-mahal,” istriku menimpali.
“Aku bosen, ah. Gak mau lagi,”

Ya sudah. Karena ia secara eksplisit mengatakan itu, kami tidak bisa memaksa. Kami sepakat untuk tidak sekehendak  terhadap sesatu yang tidak diinginkannya. Kami sadar hal itu pasti tidak mengenakkan, meski sungguh nilainya nyaris sempurnya untuk ujian terakhirnya pada Desember 2009 lalu.

Dulu, waktu kursus Kumon juga begitu. Berjalan tiga bulan, ia minta berhenti. Kami juga tidak memaksa. Sekali lagi kami akui sedih karena keputusannya itu. Mengapa harus berhenti di saat nilai-nilai yang dicapainya begitu memuaskan? memaksanya apakah langkah tepat? untuk saat ini kami anggap itu bukan hal penting, jadi tidak perlu dipaksa-paksa.

Tapi, jujur aku begitu sedih saat memutuskan Vito untuk berhenti kursus piano. Aku tahu betul perkembangannya mengikuti setiap pelajaran dari kakak gurunya. Aku, meski satu-satunya ayah di ruangan itu, coba bertebal muka di antara orang-tua teman-teman Vito yang semuanya ibu-ibu.

Aku, berusaha keras  menepiskan rasa malu saat awal-awal menemaninya satu jam di dalam kelas. Jujur bukan perkara mudah. Tapi, aku bangga bisa menemaninya. Ia begitu lincah, komunikatif, juga cepat menyerap pelajaran. Dan ini yang selalu aku suka : tak pernah malu-malu untuk berpendapat atau bertanya. Celotehnya membuat suasana kelas begitu meriah. Teman-temannya selalu menghampiri meja kami, mencuri-curi waktu di tengah pelajaran.

Kakak gurunya sungguh menyayangkan keputusan kami. Ia mengakui, Vito anak yang cerdas. Bukan, aku bukan sedang narsis karena ia anakku. Pada pertemuan Senin, dua minggu lalu, aku masih melihat ia ceria. Sayangnya, di ujung pertemuan mendadak hilang semangat. Ia diminta memainkan satu lagu dengan dua tangan Ia terlihat salah-salah. Malas menekan tuts. Tentu saja aku marah. Ia tetap saja tak bergemik. Wajahnya kuyu, barangkali ngantuk.Mungkin karena dicecar dengan ocehanku. Ia membalas,” Yah, aku tuh bisa. Tapi aku bener-bener bosen tauk.”

“Kalau kamu bisa buktiin, donk,” cegatku.

Ia ternyata terpancing tantanganku. Badanya ditegapkan. Kepala naik-turun memadankan tangan dan not-not yang terpampang di depan. Kakinya yang semula berpangku, diturunkan menjuntai ke bawah kursi. Aku cermati anakku ini.

Sungguh, ia bisa memainkan lagu itu. Aku tak bohong.

“Hebat!!! kamu bisa. Tapi di depan Kak Rieke kok gak bisa,”
“Aku kan udah bilang….aku males…bosen!”

Satu lagi kejutan yang dipertontonkan padaku. Aku akhinya memang dihadapkan satu kenyataan bahwa anakku itu memang sedang jenuh dan sering jenuh terhadap sesuatu. Kecerdasannya dikalahkan oleh rasa bosannya yang memang sulit dilawan. Kami masih berharap ia bisa meneruskan keinginannya, entah apa. Kami belum tahu…[]

Gelora: 04:04:2010

Rabu, 17 Maret 2010

Jangan Jadi 'Bolot'

Gejala penurunan pendengaran merupakan proses alamiah yang terjadi seiring dengan pertambahan usia. Namun sesungguhnya proses itu dapat diperlambat asalkan kita mampu melindungi telinga kita sejak dini. Berikut beberapa tips untuk memperlambat gejala penurunan pendengaran :

Kurangi volume perangkat audio
Jangan biasakan menyetel perangkat audio anda dengan volume terlalu besar. Siapkan penyumbat telinga untuk mengantisipasi adanya suara audio yang terlalu keras, yang tak mungkin anda kurangi volumenya.

Berhenti Merokok
Merokok menyebabkan berkurangnya aliran darah ke telinga dan pada akhirnya akan mengganggu proses penyembuhan alami pada pembuluh-pembuluh darah lembut yang terjadi setelah anda mendengar suara terlalu keras.

Bersihkan telinga secara rutin
Bersihkan telinga anda secara rutin. Gunakan kapas/cotton bud dengan penuh kehati-hatian.

Kurangi asupan kafein
Seperti Halnya nikotin, kafein juga dapat menghambat aliran darah ke telinga. Minumlah kopi atau teh maksimal 240 cc sehari.

Olahraga
Olahraga apapun dapat merangsang peredaran darah, menurunkan tekanan darah dan membantu telinga anda tetap dalam kondisi fit.

[sumber: harian bisnis jakarta]   

Selasa, 16 Maret 2010

Melepas Gurita Rokok


Ada enam bocah bercelana seragam pendek biru bergerombol di sudut anak tangga, lantai enam mal Pondok Gede. Sebulan lalu, secara kebetulan saya menjumpainya. Di antaranya terselip satu bocah perempuan, berambut pirang. Entahlah itu karena cat rambut, tapi saya melihatnya lebih karena pengaruh cahaya matahari.
Di tangan mereka terselip batang putih yang tersulut di ujungnya. Mereka terkekeh-kekeh, berguyon yang mungkin hanya mereka sendiri yang mengerti. Dari mulutnya serempak, kadang bergantian mengepulkan asap putih ke tangah arena yang melingkar. Nikotin berbahaya itu terpusat dan siap dihirup lagi oleh mereka sendiri, setelah sebelumnya, nikotin itu menerabas masuk ke paru-paru mereka.

Saya bersama istri sempat bergeleng-geleng mencermati apa yang terjadi. Bagaimana bisa, mereka begitu leluasa menikmati racun dengan santainya. Apalagi tempat kumpul mereka itu berada di lahan parkir tertutup yang pengap oleh kepul asap kendaraan. Tubuh mereka secara tanpa disadari mengundang maut, meski secara perlahan.

Ini bukan kali pertama saya menemukan hal-hal menakutkan seperti itu. Di pinggir jalan, jembatan-jembatan juga perempatan saya kerap melihat bocah-bocah jalanan begitu antusias menghirup dalam-dalam tembakau berbalut kertas putih itu. Mereka bebas bergerak menikmati hangatnya rokok bersama sekawanan yang lainnya. Tak ada larangan, regulasi atau apapun yang memebatasi bocah-bocah itu menyentuh berulang-ulang racun yang sungguh menakutkan.

Tak salah kalau ada yang menyebut penikmat rokok di kalangan anak-anak terus meningkat, bahkan mencapai angka 400 persen. Sebuah angka yang fantastis bukan. Dan rasanya jika diakitkan dengan pengalaman saya dilapangan, prediksi itu bukan isapan jempol. Yang serius harus diperhatikan sebenarnya, bagaimana mengatasi kecanduan rokok di kalangan anak-anak?

Fatwa haram rokok menjadi polemik. Ada yang kontra dan juga pro. Tapi selalu berhenti sampai di situ. Industri rokok terus saja digenjot. Regulasi untuk melindungi kesehatan masyarakat terlihat sangat minim. Alih-alih ingin menyehatkan rakyat Indonesia, kita sendiri saja sudah tersandera oleh raksasa-raksasa perusahaan rokok lewat setoran cukainya yang bisa mencapai Rp  42 trilyun. Belum lagi berbagai dukungan dana lewat event olah-raga, yang sangat membutuhkan dana besar di tengah keterbatasan kocek pemerintah.

Coba simak data ini. Bagaimana kita bisa melawan industri rokok kalau kapitalisasinya saja begitu besar. Kita jelas telah tersandera oleh gurita bisnis rokok yang telah menerobos begitu jauh dalam perekonomian Indonesia. PT HM Sampoerna yang merajai pangsa pasar per 17 maret ini sudah mengkapitalisasi hingga Rp Rp 59,17 triliun.

Sedangkan Gudang Garam yang berada di bawahnya, seperti dinyatakan oleh Bursa Efek Indonesia telah mencapai Rp 52,14 triliun. Meski begitu perusahaan ini masih cukup mendominasi pasar dalam negeri. Bagaimana dengan  PT Bentoel Internasional Investama? Nilai kapitalisasinya juga cukup moncer di angka  Rp 2,89 triliun.

Nilai itu tentu saja berkaitan erat dengan produksi rokok yang menjadi produk inti. Satu perusahaan rokok, sebut saja Gudang Garam bisa lho memproduksi hingga 70 miliar batang. Bagaimana dengan perusahaan lainnya? silahkan saja hitung sendiri. Yang saya fikirkan berapa trilun batang rokok saja yang sudah di jejali ke mulut-mulut rakyat Indonesia, dan berapa ratus juta orang diantaranya harus dipaksa menghirup racun yang tidak di hisap.

Pemerintah memang mustahil untuk memangkas produksi rokok secara mendadak karena itu pasti akan mengguncangkan perekonomian. Paling-paling yang dilakukan hanya menaikkan cukai rokok yang mulai april 2010 ini dinaikkan lagi. Sehingga target setoran cukai yang telah dinaikkan dari Rp 54 triliun menjadi Rp 57 triliun bisa tercapai. Pemerintah juga kelihatannya tenang-tenang saja soal fatwa haram rokok dan tetap optimis target cukai tercapai.

Banyak yang menilai cukai dari rokok di Indonesia termasuk yang terendah di dunia, yakni 37 persen. Padahal, mestinya bisa ditingkatkan terus paling tidak ke titik 57 persen. Barangkali harapannya kas negara menggelembung, sekaligus konsumsi rokok menurun karena harganya yang melonjak.

Pertanyaannya, apakah efektif unotuk mengekang konsumsi rokok yang setahunnya bisa mencapai Rp 100 triyun itu. Lebih menyedihkan lagi, masyarakat kita lebih gemar membelanjakan uang untuk rokok ketimbang untuk berobat. Maka, saya setuju jika Jamkesmas tidak berlaku bagi masyarakat kurang mampu yang  perokok . Kebijakan ini mungkin terlihat kejam, tetapi akan efektif memberikan pelajaran buat mereka, betapa kesehatan itu mahal.

Kalau saya sih, alhamdulillah bukan perokok. Tapi lingkungan saya, teman saya kebanyakan perokok. Bagaimana donk?!! []

Bojong Kulur: 17:03:2010

Supaya Sofa Enak Diduduki

Saat ini, sofa merupakan salah satu alat kelengkapan dalam interior rumah. Memiliki sofa bahkan serng dianggap bagian dari gaya hidup keluarga moderen. Keberadaan sofa diyakini mampu meningkatkan keindahan ruang tempat sofa. Berikut beberapa tips yang dapat anda gunakan sebelum membeli dan merawat sofa :



Model

Pastikan sofa yang anda beli modelnya tidak ketinggalan jaman dan sesuai dengan arsitektur rumah anda. Jika rumah anda berarsitektur tropis jangan memilih sofa yang modelnya minimalis. Sesuaikan pula ukuran sofa dengan luas ruangan tempat sofa itu akan diletakkan.

Kualitas

Pilihlah sofa berkualitas baik, namun dengan harga yang terjangkau. Jika memungkinkan pilihlah sofa yang dibuat dengan bahan kulit asli. Perhatikan pula kualitas karet pegas dan busanya.

Warna

Pemilihan warna sangat bergantung pada selera. Jika anda menyukai kesan bersih, pilihlah warna terang dengan risiko sofa mudah terlihat kotor. Sebaliknya, jika anda memilih warna gelap, sofa anda takkan terlihat eye-catching. Jalan tengahnya, pilihlah warna netra seperti coklat atau gading.

Penempatan

Jangan letakkan sofa di bawah sumber cahaya langsung karena akan membuat warnanya cepat kusam dan kulit pelapisnya cepat retak.

Perawatan

Jika sofa terbuat dari kulit, oleskan pelembab kulit setidaknya tiga bulan sekali. Bila sofa kulit terkena noda, segera bersihkan dengan menggunakan spons yang lembut yang telah dibasahi dengan sedikit air.

[sumber: harian bisnis jakarta]

Ada Apa dengan Fatwa

Tiap kali fatwa keluar, selalu saja menimbulkan pro-kontra. Mestinya kan tidak begitu. Herannya, mengapa tiap ada fatwa kita dibuat sibuk. Fatwa jelas tidak mengikat bagi semua orang. Jangankan dengan yang non-muslim, bagi yang muslim saja juga tidak kok. Fatwa hanyalah pendapat sebagian ulama, yang tentu saja akan berbeda dengan ulama lainnya.

Jadi, kalau ada fatwa haram atau apapun itu, hukum akan mengikat bagi yang menyakininya saja. Fatwa juga bukan sesuatu yang bisa dipaksa-paksakan pada seluruh kaum, termasuk bagi umat muslim secara keseluruhan.Namanya juga pendapat.

Sebut saja fatwa haram merokok yang diwacanakan Muhamadiyah. Bagi orang-orang Muhamadiyah tentu saja haram jika nekat merokok, jika kelak fatwa haram itu dikeluarkan.

So, bagi yang tidak meyakini fatwa itu apakah lantas pantas kita hakimi berdosa? Kalu iya, hebat betul kita. Hak membebani dosa atau menganjar pahala itu mutlak milik Allah SWT. Apa pantas manusia mengambil alih hak Allah?

Jadi, sebaiknya kita tidak usah selalu ribut jika sebuah fatwa keluar. Kita sambut saja sebagai perbedaan. Toh, fatwa yang sering dikeluarkan itu juga baik-baik saja. Walaupun kita akui sebuah fatwa juga bisa menimbulkan dampak bagi sebagian yang lainnya.

Soal larangan merokok? Memang diakui akan menggerus penerimaan cukai negara yang tahun ini dipatok Rp 57,29 triliun. Meski hingga 10 Maret 2010 cukai yang sudah dikumpulkan mencapai Rp 12,75 triliun atau 22,26 persen, kalau fatwa ini bergulir, memang bisa-bisa mengancam penerimaan negara.

Tapi apakah kita harus panik? rasanya tidak perlu. Toh, fatwa itu tidak mengikat bagi banyak orang. Masih ada penikmat rokok lainnya yang bisa menghidupi pabrik-pabrik rokok itu. Begini, kalau memang ingin menyehatkan rakyat Indonesia, sekalian saja buat aturan yang ketat.

Regulasi harus dibuat pemerintah, karena hanya lewat cara itu peredaran rokok bisa dibatasi. Saya sama sekali bukan orang yang anti-fatwa. Sebagai orang yang anti-rokok saya menyambut baik pengharaman rokok itu, tetapi tidak lantas membabi-buta.

Perlu ada solusi tepat mengatasinya. Bukan cuma pemerintah saja yang ketetaran. Para penggiat olah-raga juga teriak. Selama ini berbagai kegiatan nyaris 100 persen biayai industri rokok. Industri lainnya, masih mikir-mikir. Lantas petani tembakau, kemana mereka harus menyalurkan hasil panennya? Para pekerja di industri rokok, apakah ada yang sudah siap menampung?

Menurut saya, antara fatwa dan industri rokok berikut yang menyertainya tidak perlu dipertentangkan. Biarkan saja fatwa keluar dan diikuti oleh umat yang meyakini. Justru kuncinya ada di pemerntintah, seriuskah ingin mengikis produksi-produksi rokok itu?

Satu lagi, kabar yang menyebutkan bahwa fatwa yang dikeluarkan itu beraroma fulus memang patut pula sayangkan. Jika benar, sungguh dzolim kita. Mempermainkan umat lewat kekuasaan agama : ulama. Namun, bagi saya selama fatwa itu membawa kebaikan sah-sah saja. Kecuali kalau sebaliknya. Kita pantas untuk mengutuk, rasanya.

Yang justru menyedihkan, pemerintah justru menghapuskan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM) untuk minuman beralkohol mulai 1 April ini.

Dengan pajak saja sudah marak, apalagi jika minuman memabukkan ini dibebaskan dari biaya. Sulit membayangkan bagaimana minuman-minuman itu nantinya bergerilya dengan liar di cafe-cafe, bar, diskotik, warung remang-remang dan lapak-lapak.

Bukan tidak mungkin pula cairan haram-jadah tersebut mampir secara sembunyi-sembunyi di balik tembok pagar sekolah. Ini mestinya yang harus menjadi keprihatinan kita. Meski pemeritah berdalih kebijakan itu untuk membabat penyelundupan, yang kian nekat saja.

Kalau yang ini tidak membutuhkan fatwa, toh!! []

Gelora: 16:03:2010

Senin, 15 Maret 2010

Pendekar Gadungan

Nafasku tiba-tiba sesak. Mataku terbelalak mengumpulkan kekuatan menghalau serangan yang secara mendadak menyerbu dari segala penjuru : belakang, depan, dan dua sisi samping. Lima pemuda tanggung ini seperti hilang akal. Dengan dengus menderus, mereka tanpa ampun bernafsu ingin menerkamku. Tangannya dimaju-mundurkan. Telapaknya tegak lurus diarahkan tepat ke dadaku. Kakinya serempak maju selangkah-selangkah. Mata tajam itu menghunus tepat ke mukaku.

Aku waspada dengan segala kemungkinan. Ekor mataku bergerak cepat ke kiri-ke kanan, agar tak kecolongan. Sesekali aku geser kuda-kuda ke samping. Dari belakang, bisa saja musuhku itu memberikan hajaran mendadak. Waktuku makin sempit. Tidak banyak lagi kesempatan untuk mempertahankan diri. Lengah sedikit, tubuhku bisa-bisa remuk dihajar pemuda tanggung itu.

Aku memejam. Tenaga, ku kumpulkan sebisa-bisanya. Kakiku membentuk kuda-kuda kokoh. Nafas, aku tarik dalam-dalam hingga terpusat di dada. Dua tanganku membentang, kemudian ditelungkupkan di atas kepala, sebelum kemudian kutarik sejajar puting susuku. Huaaaaaaah.........!!! Suaraku menggelegar bersamaan dengan hentakan kaki kiriku dan dorongan dua telapak ke arah depan, juga samping. Aku juga memutar ke arah belakang.

Gubraggggggk....Bragggg!!! satu-satu musuhku lantak ke bumi. Ada satu-dua yang mencoba bangkit. Ku hentak lagi. Ia terhuyung-huyung, sebelum akhirnya tergeletak. Mereka kehabisan nafas.....

***

Aku mendapatkan ilmu itu secara tidak sengaja. Karena kebetulan saja aku dan lima kawan IntanSatuku dulu aktif di mesjid. Adalah pembina remaja mesjid yang mengajak kami menuntut ilmu bela diri bergaya gaib seperti itu. Dulu, ketika kami masih anak-anak dan bersekolah SD, kami pernah juga belajar bela diri Tapak Suci, tapi tidak pernah tuh diajari seperti itu. Aneh, sekaligus menantang. Tawaran untuk bergabung pun kami amini.

Keanehan perguruan silat ini sebenarnya sudah muncul sejak awal. Ketika kami dibaiat, sang Guru mengisi ilmu ke dalam tubuh kami. Tubuhku ketika itu bergeletar hebat. Tanganku seperti kesetrum. Yang menakjubkan, tanganku bisa bergerak-gerak sendiri. Batang leherku seumpama mainan Yogya, bergodek-godek sulit dihentikan.

Itu belum seberapa, beberapa kawanku yang mendapatkan giliran sebelumnya bahkan bertingkah seperti maung. Mengaum, berguling, mirip betul macan yang sedang birahi. Kami terkekeh mencermati kelakuannya.

Nah, ini yang membuat kami rada ragu. Di tiap-tiap akhir baiat, kami diminta untuk menyetorkan sejumlah uang. Masing-masing orang berbeda rupiah.

Aku ketika itu dikenakan Rp 150-ribuan. Gilaaaa!!! uang sebanyak itu dari mana. Untuk bayar uang semesteran saja sudah empot-empotan. Kawanku yang lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Yang membuatku geli, darimana sang Guru mendapatkan jumlah itu. Katanya,ia mendapatkan telepati dari 'atasannya'. Hmmm,....aku masih sulit menerima. Baik secara definitif maupun kuantitatif.

Kami juga diberikan keringanan. Uang baiat bisa dicicil. Hahhh?? seperti bayar kredit panci keliling aja, ya. Bedanya, ini bisa dibayar kapan saja. Tetap saja aku sulit menyanggupi. Tapi kami tak terlalu serius menanggapinya. Latihan sih jalan terus. Dan, syukurnya, karena sering aktif di mesjid, lantai dua yang sering kosong, bisa dijadikan arena pertempuran. Hanya sekali-dua kalau tak salah kami mengikuti pertemuan masal sesama saudara seperguruan. Itupun tak sampai berjumpa dengan sang Guru Besar.

Hingga kami hengkang, rasanya tak satupun dari kami yang memenuhi janji untuk membayar uang muka itu. Itu barangkali yang membuat ilmu ini tersendat ditransfer meski sering dilatih. Tapi aku heran meski tubuhku seperti tidak ada kesaktian mengapa kawan-kawanku terpelanting sampai beruling-guling kalau aku hentaak???

Baik, aku akui saja di sini. Ketika posisiku sebagai penyerang, sejatinya aku tak merasa ada penghalang, tepat ketika kawanku sebagai objek menghentak-hentakan kaki atau teriak-teriak. Kalau mau, aku bisa saja terus maju dan memukul kawanku yang sedang kesumat dengan mudah. Tapi tindakan ini tentu tidak etis toh??

Tapi demi solidaritas, aku ikut berguling-guling. Dan, akting itu aku lakoni selama kami latihan. Ada dua alasan. Aku berupaya empati terhadap kawanku yang tentu ingin sekali terlihat sakti. Kedua, aku juga ingin dong dianggap sakti. Kalau aku tidak berguling-guling, jangan-jangan mereka juga enggan pula berguling-guling kalau aku serang.

Aku tak ingat, mengapa kami akhirnya benar-benar berhenti dari perguruan itu. Bosan bersandiwarakah? atau memang instink kami saja yang tak bisa menerima hal-hal tak masuk diakal seperti itu. Apa mereka punya alasan lain? tanya saja langsung...

Bojong Kulur: 15:03:2010